Idul Kurban dan Dua Pesan Kepemimpinan Nabi Ibrahim

Idul Kurban dan Dua Pesan Kepemimpinan Nabi Ibrahim

- in Suara Kita
877
0
Idul Kurban dan Dua Pesan Kepemimpinan Nabi Ibrahim

Selasa, 20 Juli 2021 umat muslim dunia kembali akan merayakan hari raya Idul Adha 1442 H. Yang dalam istilah lain juga disebut-sebut dengan Hari Raya Kurban yang merujuk pada kisah ‘penyembelihan’ Nabi Ismail oleh Nabi Ibrahim. Di kalangan muslim, kisah itu sudah sangat familiar dan bahkan menjadi khotbah wajib di setiap pelaksanaan hari raya kurban. Dan, dari kisah itu pulalah ritual kurban yang kita laksanakan bermula.

Alkisah, hingga usianya yang telah menua Nabi Ibrahim As. juga belum dikarunia seorang keturunan, anak. Di usianya yang kurang lebih telah mencapai 80 tahun, ia berdoa dan meminta kepada Rabnya: “Ya Tuhanku, anugerahkan kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh” (Qs. As-Saaffat: 100). Tak ada usaha dan doa yang sia-sia. Penantian panjang Ibrahim akan seorang anak terkabul. Tuhan menganugerahinya seorang anak bernama Ismail.

Singkat kata, Ismail tumbuh dewasa. Dalam sebuah tidurnya, Nabi Ibrahim bermimpi. Dalam mimpinya ia mendapat perintah untuk berkurban, menyembelih Ismail, seorang anak yang sangat dicintainya. Perintah dalam mimpi itu kemudian diceritakan kepada Ismail. Sebagaimana yang termaktub dalam Qs. As-Saaffat ayat 102: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.”      

Ismail tidak takut mendengar cerita ayahnya itu. Apalagi sedih, juga tidak. Dia (Ismail) menganggap mimpi ayahnya itu sebagai perintah Allah Swt. Lalu, dengan sabar dan ikhlas Ismail menjawab: “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaallah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Dengan keteguhan hati dan ketaatan kepada Rabbnya, Ibrahim As pun melaksanakan perintah itu. Hingga akhirnya Allah tebus Ismail dengan seekor sembelihan yang besar. “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar” (Qs. As-Saaffat 107).

 Sepenggal kisah di atas bagi saya sebenarnya bukanlah kisah yang hanya sekadar kisah. Sebab di dalamnya sarat akan banyak pelajaran. Yang salah satunya adalah pesan kepemimpinan Nabi Ibrahim. Ya, pesan kepemimpinan. Sikap Nabi Ibrahim sebagai seorang ayah yang patuh terhadap perintah Tuhannya, meski harus mengorbankan sang anak tercinta adalah rule model dari sebuah kepemimpinan yang “amanah”.

Sementara kebersediaan Nabi Ibrahim untuk memusyawarahkan perintah Tuhannya kepada anaknya itu, adalah rule model dari pola kepemimpinan yang “demokratis”. Ia tidak otoriter, dan tidak pula memutuskan sebuah masalah secara sepihak. Pun sebenarnya mudah belaka bagi Nabi Ibrahim untuk memahami mimpi yang dialaminya itu sebagai kebenaran yang mutlak dari Tuhannya.

Oleh karena itu, di tengah momentum Hari Raya Idul Adha 1442 H. ini hal itu harus menjadi bahan refleksi bagi kita semua. Khususnya dalam dunia kepemimpinan. Kepemimpinan dalam keluarga, organisasi, atau di dalam lembaga-lembaga kenegaraan kita, yakni dengan terus berlaku dengan kepemimpinan yang “demokratis” juga “amanah”, persis dengan apa yang dilakukan Nabi Ibrahim. Tidak ingkar terhadap janji dari perintah Tuhan.            

Al Quran, sebagai pedoman sekaligus petunjuk hidup telah memerintahkan bagi kita semu untuk mengambil pelajaran dari apa yang telah terjadi dan apa yang kita alami. Karena itu, sebagai bentuk pengamalan terhadap nilai-nilai etis yang terdapat dan diajarkan oleh Al Quran sudah selayaknya bagi kita semua untuk mengambil pelajaran dari Hari Raya Idul Adha ini, khususnya dalam dunia kepemimpinan, yakni untuk terus berlaku amanah, jujur, dan demokratis. Wallahu ‘alam.

Facebook Comments