Ijtihad Perdamaian dalam Agama-Agama Abrahamic

Ijtihad Perdamaian dalam Agama-Agama Abrahamic

- in Narasi
33
0
Ijtihad Perdamaian dalam Agama-Agama Abrahamic

Selama ribuan tahun, kota Yerusalem sebagai bagian dari simbol fundament dalam sejarah agama-agama Abrahamic. Antara Islam, Kristen dan Yahudi, ketiganya sama-sama memiliki “klaim” dengan prinsip teologi yang berbeda. Mengikat ke dalam prinsip transcendent imanen masing-masing agama.

Dalam konteks konflik Israel-Palestina, Kita semua sepakat bahwa konflik itu bukan konflik agama. Tetapi, basis konflik perebutan wilayah yang ada di Palestina itu juga berkaitan dengan truth claim berbasis teologis. Di balik simbol suci yang secara historis sebagai nilai fundament dalam sejarah agama-agama Abrahamic.

Maka, menjadi penting dalam membangun ijtihad perdamaian agama-agama Abrahamic. Sebab, klaim simbol fundament yang terikat ke dalam prinsip teologi di balik konflik Israil-Palestina itu telah merobek bagian-bagian fundamental ajaran keagamaan. Yaitu menyebabkan tragedi kemanusiaan, pertumpahan darah dan kehancuran tatanan terus menjalar.

Hal yang paling prinsipil, agama-agama Abrahamic pada dasarnya memiliki perspektif yang sama terhadap nilai kemanusiaan dan perdamaian. Misalnya dalam perspektif agama Yahudi yang ditekankan oleh Rabi Jeremy Milgrom bahwa (perdamaian merupakan nilai tertinggi) dari semua nilai (Gadol Hashalom). Tradisi Yahudi memandang manusia sebagai “Image of God” untuk menjaga kemaslahatan dan keselamatan hidup bagi diri dan orang lain.

Dalam kitab suci Ibrani, teks (Yes 32:17) bahwasanya “Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya”. Tentu kebenaran yang dimaksud adalah (kebenaran teologis) yang menjadi nilai prinsipil dalam tradisi Yahudi guna menghentikan kekerasan dan mendukung perdamaian di Palestina.

Dalam perspektif agama Kristen, seperti dalam (Kolose 1:20 “dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya baik yang ada di bumi maupun yang ada di Surga, sesudah Ia mengadakan perdamaian oleh darah salib Kristus”. Begitu juga dalam (Yohanes 14:27) “Damai sejahtera kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku kuberikan kepadamu”.

Dalam (Kisah Para Rasul 10:36) “Itulah firman yang ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan dami sejahtera oleh Yesus Kristus”. Bahwa kedamaian merupakan entitas penting yang harus dibangun dan ini menjadi satu alasan mengapa larangan membunuh dalam perintah Tuhan sebagai satu orientasi teologis pentingnya perdamaian itu sendiri.

Begitu juga di dalam perspektif Islam bahwa perdamaian itu sangatlah penting. Misalnya dalam (Qs. Al-Baqarah:224) bahwasanya “Janganlah kamu jadikan (nama Allah) dalam sumpahmu sebagai penghalang dari berbuat baik, bertakwa dan menciptakan perdamaian di antara manusia. Allah Maha mendengar lagi maha mengetahui”.

Jadi, jangan jadikan nama kebesaran-Nya untuk anti-perdamaian. Islam telah memiliki clue-etis bahwa perdamaian sebagai satu prinsip dalam kehidupan sosial yang harus dibangun. Karena ini berkaitan dengan jalan menjaga tatanan dan kemaslahatan agar memutus pertumpahan darah, konflik dan kekacauan.

Ijtihad perdamaian ini bisa dibangun dengan simbol dosa bersama, membangun semangat dukungan bersama dan bersatu tanpa melihat perbedaan agama. Mari bersatu mendukung perdamaian dan mengecam kekerasan yang telah melanggar kemanusiaan.

Doa bersama ini akan melahirkan semangat persatuan dan solidaritas lintas agama dalam mendukung kemanusiaan dan kemerdekaan di Palestina. Seperti doa bersama yang digelar di Tugumuda Semarang. Ratusan masyarakat lintas agama menggelar doa bersama untuk Palestina pada Rabu malam (8/11/23).

Maka yang harus kita sadari. Semua agama memiliki perspektif yang sama tentang kemanusiaan dan perdamaian. Maka, saatnya kita bersatu dengan ijtihad perdamaian agama-agama dalam menyelesaikan konflik dan menghentikan pertumpahan darah yang terjadi di Palestina.

Facebook Comments