Islam; Dasar Dan Tuntunan Perdamaian

Islam; Dasar Dan Tuntunan Perdamaian

- in Keagamaan, Wacana
2738
0

Terdapat sebuah unsur penting yang perlu diperhatikan dan dipraktekkan oleh setiap individu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni perdamaian dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Agama kerap menjadi tumpuan bagi  sumber dan tuntunan menuju perdamaian tersebut. Islam misalnya, memberikan tuntunan dan pengajaran tentang perdamaian melalui alquran dan hadist. Di sana dijelaskan dengan sangat gamblang tentang arti penting, tata cara, hingga contoh perilaku damai yang dilakukan oleh para kekasih Allah di masa lalu. Dengan demikian, seharusnya setiap muslim mampu berlaku damai, karena tuntunan dan ajaran untuk itu sudah terpampang jelas dalam kitab suci Islam. Namun ternyata kita malah menyaksikan segerombolan muslim yang berlaku miring; bukannya perdamaian yang ditebar, tetapi justru berlaku onar.

Perdamaian merupakan tema utama dari Islam, karena dari namanya saja, Islam berarti selamat; menyelamatkan dan memberi keselamatan. Muslim yang baik adalah ia yang mampu menyelamatkan dirinya (dengan pertolongan dari Allah) dari murka Allah dan dari kesusahan hidup, ia juga mampu memberi keselamatan kepada orang lain. idealnya, kemusliman seseorang dapat dilihat dari perilaku damainya di masyarakat. Selamat dan menyelamatkan bukan saja tentang ritual ibadat, tetapi juga berlaku damai di lingkungan masyarakat.

Rasulullah S.A.W memberi contoh dan tuntunan nyata tentang pengamalan sikap damai. Salah satu contoh perilaku damai yang dilakukan oleh Rasul S.A.W  terekam jelas melalui piagam madinah yang memuat kesepakatan damai antara umat Muslim, Yahudi dan komunitas-komunitas Pagan yang tinggal di Yathrib (sekarang Madinah).  Piagam Madinah berisi dokumen yang mentapkan hak dan kewajiban masyarakat setempat agar –di atas segala perbedaan yang ada—tetap menjadi kesatuan dan tidak terpecah belah. Salah satu isi dari dokumen tersebut berbunyi:

“Kedua masyarakat Yahudi dan Muslim mempunyai tanggung jawab untuk membelanjakan harta mereka (untuk kepentingan bersama di Madinah), membantu satu sama lain melawan siapa pun yang memerangi pihak yang menandatangani perjanjian ini, saling menasihati, dan berbuat kebajikan sesama mereka, bukan maksiat.”

Alih-alih menerusakan permusuhan dengan peperangan, Rasulullah S.A.W justru memilih untuk mengakhiri konflik dengan kesepakatan damai. Dalam konteks ini beliau memberikan contoh nyata tentang makna “keselamatan” dalam Islam.

Karenanya, upaya pemutarbalikan fakta yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu demi menampilkan wajah Islam agar tampak penuh dengan peperangan dan permusuhan sangatlah berlebihan. Memang ada masa di mana umat Islam terlibat dalam perang, beberapa bahkan terpaksa menghunus pedang. Namun ada setidaknya dua hal yang seolah dilupakan oleh orang; pertama, umat Islam tidak pernah memulai peperangan, keterlibatan umat Islam dalam perang adalah karena umat Islam diperangi. Kedua, umat Islam tidak pernah berperang dengan brutal. Mereka misalnya, tidak membunuh perempuan, anak-anak, orang yang sudah berusia lanjut, dan musuh yang sudah menyerah. Karena itu, apabila sekarang kita jumpai kelompok perusuh yang mengklaim menjalankan contoh dan tuntunan Rasul dalam aksi-aksi anarkis yang mereka lakukan, maka kita akan tahu bahwa mereka tidak lebih dari preman kurang kerjaan.

Allah juga tidak demen dengan permusuhan, Ia berfirman dalam alquran;34 “Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara engkau dan  dia ada permusuhan (berubah) seolah-olah teman yang sangat setia”. Melalui ayat ini, Allah memerintahkan Muslim untuk selalu berbuat baik, bahkan terhadap orang-orang yang berbuat jahat, karena Allah lebih menyukai pertemanan daripada permusuhan.

Islam adalah perdamaian, memberi keselamatan dan menyelamatkan. Perilaku kasar dan onar tidak memiliki dasar sama sekali dalam Islam. jikapun masih ada kelompok tertentu yang mengklaim membela Islam namun memilih jalan kekerasan, mereka tentu sudah kebablasan.

Facebook Comments