Fanatisme (Negatif) Agama

Fanatisme (Negatif) Agama

- in Suara Kita
7923
0

Agama adalah suatu bentuk keyakinan. Ada banyak agama di dunia ini. Setiap orang berhak untuk menentukan agama atau keyakinannya masing-masing. Walau diakui, agama seseorang dipilih karena pengaruh orangtuanya (bergantung pada keturunan). Kuatnya keyakinan seseorang juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan dimana dia tumbuh. Sayangnya, tidak semua pengaruh lingkungan bersifat positif.

Sekarang ini mudah dijumpai beberapa kelompok atau aliran suatu agama yang fanatik. Kefanatikan terhadap suatu agama memang perlu. Fanatik yang dimaksudkan untuk benar-benar memahami dan mendalami agamanya. Namun, fanatik yang ada saat ini, dan akan berdampak negatif, adalah fanatik yang cenderung berlebihan. Hal ini sungguh disayangkan.
Mengapa demikian? Rasa fanatik yang ada dapat mendorong seseorang untuk membenci orang lain karena perbedaan agama atau keyakinan di antara mereka. Rasa benci itu timbul begitu saja tanpa melihat bagaimana sebenarnya orang yang ia benci. Hal ini tentu tidak dapat dibenarkan. Karena disadari atau tidak, hidup rukun beragama sangat dibutuhkan. Demi menjamin kedamaian dan kesejahteran dalam suatu masyarakat.

Sebuah contoh nyata ditemukan. Seorang remaja yang langsung mengernyitkan wajahnya tidak suka karena melihat sebuah aktivitas keagamaan di televisi. Saat ditanya mengapa berlaku demikian, sang remaja itu berkata memang tidak menyukai semua hal yang berhubungan dengan aktivitas agama lain. Sebuah pandangan yang menurut saya pribadi tidak tepat.

Seorang manusia tidak bisa dianggap buruk karena hanya satu sisi. Terlebih karena rasa fanatik yang ada, mencap orang lain sebagai pribadi yang buruk. Diakui, tidak bisa sebuah keyakinan diganggu gugat, hanya saja kita juga mengenal rasa sosial yang tetap menghubungkan kita dengan orang lain walau berbeda keyakinan.

Benar, perbedaan keyakinan seharusnya bukanlah menjadi jurang pemisah dalam interaksi sosial di masyarakat. Perbedaan keyakinan juga tidak bisa dijadikan suatu alasan untuk menyerang yang lainnya. Apalagi sampai mengganggu seseorang dalam menjalankan ibadahnya. Karena disadari atau tidak, setiap agama di dunia ini mengajarkan perasaan kasih dan sayang. Hal tersebut tidak lain untuk menciptakan kedamaian dan kerukunan beragama sesama manusia.

Toleransi dan tenggang rasa mungkin menjadi jawaban atas fenomena kefanatikan (negatif) agama saat ini. Saling menghargai dan saling memahami satu sama lain perlu dikembangkan dalam masing-masing individu. Terlebih, kita hidup di lingkungan yang beragam membuat kebutuhan akan rasa toleransi dan tenggang rasa harus tinggi.
Pemahaman terhadap agama masing-masing juga berperan penting. Agar tidak terjadi pemahaman yang dangkal mengenai suatu persoalan hidup. Dengan demikian, persoalan terhadap fenomena kefanatikan (negatif) agama bisa sedikit teruraikan.

Kesimpulan yang bisa diperoleh dalam tulisan ini adalah perbedaan keyakinan bukanlah menjadi suatu alasan seseorang menjadi bersikap antipati terhadap orang lain yang berbeda keyakinan dengan kita. Walau memang ada beberapa batasan untuk kita dalam hal beribadah. Meski demikian, hal ini bukanlah halangan untuk kita saling bersosialisasi dan berinteraksi. Toleransi dan tenggang rasa menjadi kunci untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan orang lain.

Semua hal tersebut tidak lain untuk menjaga kerukunan dan menciptakan kedamaian di masyarakat. Saran dari penulis, perbedaan yang ada bukan menjadi alasan untuk menolak bersosialisasi dengan orang lain. Saat ini toleransi dan tenggang rasa sangat dibutuhkan karena banyaknya kasus yang mengindikasikan kefanatikan (yang bersifat negatif) terhadap agama menimbulkan banyak kerugian, baik untuk individu maupun untuk masyarakat. Jika kita bisa hidup harmonis dan damai salah satunya dengan cara tersebut, mengapa sulit untuk kita lakukan?

Facebook Comments