Kartun Nabi Adalah Radikal

Kartun Nabi Adalah Radikal

- in Wacana
2645
0

Baru-baru ini masyarakat dunia dikejutkan oleh sebuah ajang perayaan kontroversial yang dilakukan dengan dalih kebebasan. Acara yang digagas oleh sebuah lembaga yang mengklaim memperjuangkan kebebasan di Amerika serikat ini mengajak masyarakat untuk berlomba menggambar wajah nabi Muhammad SAW.  Seperti diberitakan oleh beberapa media, American Freedom Defense Initiative menggelar lomba menggambar kartun Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah wawancara di chanel CNN, Pamela Geller, ketua panitia lomba ini mengatakan bahwa acara ini disambut baik oleh masyarakat. Menurutnya ada sekitar 300 orang yang hadir dalam pengumuman juara lomba provokatif itu. Geert Wilders, politikus Belanda yang juga dikenal sensasional itu dikabarkan hadir dalam acara ini.

Pamela mengatakan, lomba menggambar kartun itu adalah sebuah aksi untuk membangun dialog. Bagi Pamela, larangan menggambar nabi Muhammad adalah sesuatu yang harus didialogkan. Menurutnya dialog diperlukan karena selama ini belum ada penjelasan mengapa larangan menggambar sosok nabi Muhammad itu muncul.

Jika yang dilakukan oleh Pamela benar untuk tujuan membangun dialog, maka itu adalah dialog yang tidak dialogis. Apa yang dilakukan Pamela justru kontra produktif dengan semangat dialog. Sebuah dialog tidaklah diawali dengan sikap mempertanyakan, melainkan harus dibangun diatas keinginan fundamental untuk memahami.

Sepintas sikap ingin memahami ini serupa dengan mempertanyakan. Keduanya sama-sama ingin mendapatkan jawaban, tetapi keduanya berbeda, pembeda utamanya adalah motivasi. Sikap mempertanyakan muncul dari ketidak-percayaan, sementara keinginan untuk memahami muncul dari diri yang berusaha mengerti dan empati. Apa yang dilakukan Pamela dan organisasinya sama sekali tidak menunjukkan indikasi bahwa mereka sedang berempati kepada muslim dan dengan tulus ingin memahami Islam.

Menyelenggarakan lomba menggambar kartun nabi Muhammad adalah sikap yang melanggar-prinsip perinsip dasar dialog. Leonard Swidler, seorang ahli dialog antar iman dari Temple University, menyebutkan bahwa sebuah dialog harus dilakukan bersama, atas inisiatif bersama dan setara, serta dilatari keinginan untuk saling mengerti agar tumbuh sikap yang lebih menghargai. Swidler menegaskan “The primary purpose of dialogue is to learn, that is, to change and grow in the perception and understanding of reality, and then to act accordingly”.

Apa yang dilakukan oleh American Freedom Defense Initiative ini adalah sebuah tindakan ekstrim. Yakni suatu pandangan atau keyakinan yang terlalu kuat hingga melampaui batas kewajaran. Konstitusi Amerika memang tidak melarang ekstrimisme selama hal itu tidak menjurus pada kekerasan (violent extrimism), tetapi sejarah juga telah menunjukkan secara gamblang kepada kita bahwa setiap sikap extrimisme selalu berujung pada perpecahan dan permusuhan. Minimal sikap ini akan melahirkan exclusivisme.

Beberapa kalangan telah terang-terangan menyatakan bahwa apa yang dilakukan Pamela dan organisasinya ini adalah sebuah bentuk kegagalan dirinya dalam menterjemahkan dan membedakan antara ‘kebebasan’ dan ‘kebablasan’. Pamela tidak bisa terus-terusan bersembunyi di balik dalih membangun dialog melalui lomba yang ia gagas ini, karena apa yang ia lakukan itu sama sekali tidak disarankan dalam teori dialog manapun.

Lomba melukis kartun nabi memunculkan kesan mengejek atau sengaja melawan sebuah keyakinan yang menjadi arus utama dalam dialektika umat Islam. Dalam situasi seperti ini kedewasaan muslim sedang diuji.

Dalam menyikapi hal ini, tentu wajar jika ada muslim yang kecewa atau marah. Namun bersikap bijak tentu saja akan membuahkan kemenangan sejati bagi komunitas Islam. Kita bisa mengambil contoh dari muslimgirl.net, sebuah komunitas muslimah Amerika yang telah mengajarkan kepada kita bagaimana menyikapi provokasi tersebut. Muslimah girl membuat sebuah ajang yang mereka sebut dengan “Let’s Help Pam Geller Draw Muhammad”.

Dalam ajang ini mereka mengajak semua orang untuk membantu Pamela Geller menggambar Muhammad. Komunitas ini mengajak semua orang untuk membalas agenda Geller dengan cinta. Mereka membagikan spidol dan papan kepada orang-orang di jalan yang pernah mengenal seseorang dengan nama Muhammad. Para aktifis ini kemudian mengajak orang-orang tersebut untuk mengingat-ingat sahabat mereka yang bernama Muhammad dan melukis karakternya.

Respon cerdas itu disambuat dengan sukacita oleh publik Amerika. Sambil mengingat-ingat karakternya, peserta mengambar Muhammad yang mereka kenal dengan penuh sukacita. Apa yang dilakukan oleh kelompok Muslim girl ini adalah sebuah tindakan proaktif yang cerdas.

Radikalisme yang berpotensi membangkitkan kebencian antar pemeluk agama mereka balas dengan kejenakaan yang menghibur. Kecemerlangan Muslim women ini sangat layak untuk dijadikan inspirasi dalam merespon futnah yang dialamatkan kepada komunitas Islam. Selamat kepada Muslim women! 1-0 untuk anda.

About the author

Imam Malik
Adalah seorang akademisi dan aktifis untuk isu perdamaian dan dialog antara iman. ia mulai aktif melakukan kampanye perdamaian sejak tahun 2003, ketika ia masih menjadi mahasiswa di Center for Religious and Sross-cultural Studies, UGM. Ia juga pernah menjadi koordinator untuk south east Asia Youth Coordination di Thailand pada 2006 untuk isu new media and youth. ia sempat pula menjadi manajer untuk program perdamaian dan tekhnologi di Wahid Institute, Jakarta. saat ini ia adalah direktur untuk center for religious studies and nationalism di Surya University. ia melakukan penelitian dan kerjasama untuk menangkal terorisme bersama dengan BNPT.

Related Posts

Facebook Comments