Ibnu Jarir Al Thabari

Ibnu Jarir Al Thabari

- in Tokoh
6191
0

Siapa tidak tahu Ibnu Jarir Al Thabari? Para pegiat keilmuan Islam klasik pasti tau nama ini. Dia adalah mufassir besar yang hidup di masa klasik Islam (310 H). Dilahirkan pada 224 H atau 225 H (sekitar 839 atau 840 H) di sebuah desa bernama Amul di daerah Thabaristan (sebelah selatan laut Kaspia) dan masuk wilayah Iran saat ini. Disebut Thabaristan karena pada masa itu wilayah ini dihuni oleh masyarakat yang gemar berperang menggunakan ‘Thabar’ (Kapak), sementara istilah ‘stan’ berarti Bumi.

Nama lengkapnya Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Kholid bin Gholib al-Thabari, atau Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Gholib al-Thabari. Dia juga populer dengan sebutan Abu Ja’far (bapaknya Ja’far). Sebutan itu bukan karena mempunyai anak bernama Ja’far, melainkan sebagai gelar kehormatan dari kaum Muslimin. Kata ‘Ja’far’ sendiri berarti ‘sungai yang luas’, karena itu gelar ‘Abu Ja’far’ adalah pengakuan atas keluasan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya.

Kepandaian Al Thabari konon telah diketahui ayahnya sejak ia masih kecil. Dalam sebuat riwayat dikisahkan ayahnya pernah bermimpi melihat Al Thabari bersama Rasulullah. Al Thabari terlihat sedang membawa sekop berisi batu yang kemudian diletakan di hadapan Nabi. Menurut seorang ‘alim, mimpi itu berarti kelak Al Thabari akan menjadi ulama besar dan menguasai syariat Islam.

Al Thabari hidup di masa puncak keemasan peradaban dinasti Abbasiah. Ia lahir pada saat khalifah al-Mu’tashim (khalifah ke-8 dinasti Abbasyiah) berkuasa (833-842 M). Lalu hidup dalam kepemimpinan sebelas khalifah selama 85 tahun. Pengalamannya melihat kondisi sosial politik inilah yang dikemudian hari memberinya inspirasi menulis magnum opus dalam bidang sejarah bernama Tarikh Al Umam wal Mulk (Sejarah Bangsa-bangsa dan Kerajaan).

Meskipun pada saat itu internal kerajaan kekhalifahan Islam silih berganti kepemimpinan lewat kudeta berdarah, namun masyarakat tidak terpengaruh dan tetap ‘menggilai’ ilmu pengetahuan dan pengembangan teori berbagai disiplin ilmu. Pada masa itu, para ulama dan cendikiawan diberi fasilitas memadai untuk bisa mengeksplorasi gagasan keilmuannya. Boleh jadi hal ini disebabkan oleh komitmen pemerintahan Abbasiah yang sejak awal berdirinya memiliki visi pengembangan peradaban dan keilmuan Islam.

Di masa hidupnya, Al Thabari menyaksikan peristiwa bersejarah yang sangat penting bagi umat Islam, yaitu tumbangnya doktrin teologi Mu’tazilah yang kala itu menjadi madzhab resmi negara. Bersamaan dengan itu, doktrin Asy’ariyah lahir dan berkembang pesat sebagai doktrin Ketuhanan paling populer dan banyak dipelajari.

Di masa ini pulalah, kodifikasi keilmuan Islam yang lain juga berlangsung. Kodifikasi keilmuan Islam seperti Ilmu Kalam (Teologi), Fikih, Tafsir, Hadits, Bahasa, Tasawuf, dan sebagainya mengalami kemajuan yang sangat pesat. Di masa yang sama, keilmuan Tafsir Alquran mengalami pemisahan dengan keilmuan Hadits Nabi, dimana kedua keilmuan tersebut sebelum melebur jadi satu.  Selanjutnya

Facebook Comments