Keadilan Tanpa Sekat Agama

Keadilan Tanpa Sekat Agama

- in Suara Kita
1677
0

Seorang pria Mesir beragama Kristen Koptik (salah satu aliran Kristen yang berkembang di Mesir) mendatangi Umar bin al-Khattab di Madinah, yang kala itu sebagai pemimpin kaum Muslim, untuk mencari keadilan.

“Wahai Amiral Mukminin, aku mencari perlindunganmu dari penindasan,” kata pria Mesir itu.

“Kamu telah mencari perlindungan di mana ia seharusnya dilindungi,” jawab Umar.

“Ketika aku sedang berlomba pacuan kuda dengan putra Amr bin Ash, aku berhasil mengalahkannya. Namun lantas dia memukuliku dengan cambuknya dan berkata: ‘aku adalah putra bangsawan’!” cerita pria Mesir mengadu.

Mendengar pengaduan itu, Umar yang dikenal adil dan bijaksana itu berang. Ia ingin memberikan keadilan pada orang Kristen Koptik itu. Umar lalu menulis surat untuk Amr bin Ash (Gubernur Mesir saat itu) dan memerintahkannya segera menghadap beserta putranya yang telah melakukan penganiayaan terhadap pria Kristen itu.

“Ke mana Pria Mesir itu? Suruh dia ambil cambukku dan pukullah putra Amr!” pinta Umar tegas. Pria Mesir itu pun menuruti perintah Umar. Ia memukuli putra Amr dengan cambuk milik Khalifah.

Anas, yang turut hadir saat itu, berkata, “Maka dia memukuli putra Amr. Demi Allah, ketika pria Mesir itu memukulinya, kami kasihan dan meratapinya. Dia tidak berhenti sampai kami menghentikannya.”

Kemudian Umar berkata pada Pria Mesir itu, “Sekarang pukulkan cambuknya ke kepala Amr bin Ash yang botak itu.” Amr pun bengong mendengar keputusan Umar.

Pria Mesir itu tak kalah bingungnya. “Ya Amiral Mukminin, yang menganiaya aku itu putranya, dan aku telah menyamakan kedudukanku dengannya. Aku sudah puas,” jawabnya merasa cukup.

Umar lantas bertanya pada ‘Amr bin ‘Ash; “Sejak kapan kamu memperbudak rakyatmu, padahal ibu-ibu mereka telah melahirkan mereka sebagai orang-orang merdeka?”

“Ya Amiral Mukminin, aku telah lalai dan pria Mesir itu tidak mendatangiku untuk mendapatkan keadilan,” jawab Amr membela diri.

Kisah keadilan ‘Umar bin al-Khattab, Khalifah Islam ke-2, ini (selain kisah-kisah menggugah lainnya) telah saya baca di beberapa buku sejarah. Terakhir saya mendapatinya secara visual dalam film Omar yang diputar menjelang Shubuh saat Ramadhan 1433 H, di salah satu stasiun televisi swasta. Pemutaran film yang sarat nilai ini sungguh menggugah kita, sekaligus menjadi kritik tajam bagi para pemimpin kita. Dengan kesederhanaannya, Umar Sang Khalifah bertindak begitu adil bagi seluruh rakyatnya.

Dari kisah di atas, ada beberapa pelajaran penting yang semestinya kita renungkan. Pertama, sebagai pemimpin tertinggi, yang wilayahnya menjangkau luas ke berbagai belahan dunia, tentu saja rakyatnya pun terdiri dari beragam latar belakang, termasuk agama. Penganut agama apapun, yang tunduk di bawah kekuasaannya dengan membayar jizyah (upeti), akan dilindungi dengan perlingungan terbaik sebagaimana perlindungan terhadap rakyat yang muslim. Bahkan jika pemerintah tidak mampu melindungi mereka, maka jizyah itu wajib dikembalikan.

Bagi Umar, baik rakyat yang Muslim maupun yang non-Muslim, semua berhak mendapatkan perlindungan yang sama, karena keduanya sama-sama makhluk Allah SWT. Rakyat muslim pun, andai kata melakukan tindakan-tindakan yang tidak diizinkan oleh Islam, seperti kasus putera Amr bin Ash, maka akan ditindak sesuai ketentuan yang berlaku. Yang dinilai Umar bukan latar atau sentimen agamanya, melainkan posisinya sebagai makhluk-Nya.

Kedua, selain tidak pandang latar belakang agama, keadilan Umar juga tidak pandang pangkat/jabatan. Siapapun yang melakukan pelanggaran, putera Gubernur Mesir sekalipun, sudah selayaknya ditindak tegas. Tidak hanya pelakunya, bahkan Gubernurnya juga harus dikenai sanksi, karena lalai membiarkan terjadinya tindak kezaliman di wilayahnya. Tidak mentang-mentang pelakunya putera bangsawan dan beragama Islam, Umar lantas membelanya dan menyalahkan pria Kristen itu.

Ketiga, kisah Umar, baik yang tercatat dalam buku maupun yang tervisualkan dalam film, selain menjadi pelajaran penting bagi kita, sejatinya juga menjadi sindiran telak bagi para pemimpin di manapun. Di negeri yang mayoritas muslim ini, yang para pemimpin tertingginya senantiasa dijabat oleh kalangan muslim, secara umum rasa-rasanya model kepemimpinan Umar belum terejawentahkan. Andaikan, ya andaikan, keadilan Umar itu bisa terejawentahkan 25 % saja di negeri ini, barangkali nasib bangsa ini akan terus membaik.

Itulah Umar, yang tanpa lelah menjalankan universalisme keadilan Islam; keadilan yang tanpa pandang bulu. Keadilan yang tidak mengenal boundaries (batas-batas), baik batas nasionalitas, kesukuan, etnik, bahasa, warna kulit, status (sosial, ekonomi, politik), dan bahkan batas agama sekalipun. Inilah nilai luhur keadilan universal yang terkandung dalam Qs. al-Nisa’: 135 dan Qs. al-Maidah: 8.

Ayat-ayat tentang keadilan inilah, diantaranya, yang tengah Umar bin al-Khattab amalkan. Hasilnya; masyarakat yang sejahtera, penuh keadilan dan aman damai. Sayangnya, secara alamiah, ada saja orang yang tidak suka dengan kepemimpinan model ini. Umar-pun harus meninggal dunia lantaran ditikam badik oleh pembencinya, ketika tengah mengimami shalat. Ah, andikan para penerus kepemimpinan Umar itu ada di negeri ini…. Kami merindukan kepemimpinanmu, wahai Umar! Wa Allah a’lam.[]

 

Facebook Comments