Keluarga sebagai Pilar Pendidikan Karakter

Keluarga sebagai Pilar Pendidikan Karakter

- in Suara Kita
342
2
Keluarga sebagai Pilar Pendidikan Karakter

Akhir-akhir ini marak perilaku tak berakhlak yang menjangkiti para pelajar. Guru yang tak lagi dihormati dan bahkan ada yang dipermalukan/dianiaya serta tawuran dan perkelahian antarsiswa merupakan bukti betapa pendidikan karakter harus menjadi perhatian utama dalam pendidikan. Namun demikian, dengan masih banyaknya perilaku tak menunjukkan akhlak yang dilakukan oleh murid, anggapan bahwa sekolah gagal mendidik siswa tidak sepenuhnya tepat. Hal ini karena pendidikan mencakup pembiasaan, pembelajaran, dan peneladanan. Secara prinsip, keluargalah yang memiliki tanggung jawab utama dalam pendidikan anak.

Sejarah telah mencatat bahwa para pahlawan dan orang-orang sukses tak mungkin bisa pasti ada campur tangan keluarga. Presiden pertama RI Soekarno misalnya, ia dididik untuk menjadi “orang besar”. Bahkan sang ibu, Ida Ayu Nyoman Rai, selalu memanggil putranya itu dengan panggilan “Putra Sang Fajar”. Akhirnya, Soekarno benar-benar menjadi orang besar, paling berpengaruh bagi dunia, khususnya Indonesia. Bung Karno dinobatkan sebagai pahlawan Indonesia yang jasanya dikenang sepanjang masa. Semua itu berkat kecakapan seorang ibu sehingga aura positif dan motivasi membuatnya tergugah untuk menjadi orang seperti yang didambakan ibu dan keluarga. Dari itu, jelas bahwa keluarga menjadi pilar dalam penguatan pendidikan karakter untuk sang anak.

Sejak Dini

“Kaisar Nero, seorang tiran pada zaman Romawi yang ter­kenal kejam, pernah menyuruh gurunya sendiri untuk bunuh diri dengan minum racun.” Kisah tersebut seharusnya mem­buka mata kita, betapa tidak mungkin seorang manusia berani melakukan kekejaman, bila lingkungan primer yang pertama kali didapat manusia tidak mengajarkannya.

Baca juga : Membangun Bangsa yang Beradab Melalui Bangku Sekolah

Sosialisasi primer seorang manusia berada di dalam ke­luarga, sedangkan lingkungan, teman sepermainan, sekolah, maupun media massa (internet, koran, majalah, buku, dan lain-lain) hanya agen sosialisasi sekunder bagi manusia. Setiap per­masalahan dalam diri, memiliki ke­terkaitan erat dengan kondisi sosialisasi yang dijalani dalam keluarga (Faturrohman, 2018).

Nilai-nilai, norma-norma, dan keya­kinan manusia dibangun dari keluarga. Keluargalah yang paling dominan membentuk sikap, perilaku, dan kepri­badian manusia. Sebagaimana cerita Kaisar Nero tadi, kegilaannya tidak mun­cul tiba tiba. Ibunya pun juga seseorang yang haus kekuasaan. Tak heran kemu­dian, justru Nerolah membunuh ibunya sendiri.

Perlu dipahami, tugas mendidik bukan hanya kewajiban institusi pendidikan. Banyak orang tua yang berpikiran, men­didik hanya tugas sekolah. Kalau sudah di sekolah, ya tugas mereka merasa selesai. Kalau ada kesalahan anak, orang tua menyalahkan sekolah. Mereka tak mau menengok diri. Mereka tak mau memperbaiki cara asuh dalam keluarga.

RA Kartini (1879–1904) pernah mengatakan, “Sekolah-se­kolah saja tidak dapat memajukan masyarakat, tetapi keluarga di rumah juga harus turut bekerja. Lebih-lebih dari rumahlah, kekuatan mendidik berasal.” Dari sini, dapat dipahami bahwa kehadiran pendi­dikan keluarga sangat dibutuhkan.

Maka, ketika lembaga pendidikan belum bisa maksimal dalam mena­namkan karakter kepada anak, keluarga harus mengambil peran. Derasnya arus demoralisasi akibat maju­nya teknologi komunikasi dan infor­masi saat ini membuat anak-anak mudah meniru perilaku tak bermoral yang didapatkan dari media-media sosial. Disinilah, keluarga adalah agen yang tepat untuk menciptakan kondisi ramah bagi pena­naman nilai-nilai moral, se­hingga anak bisa belajar mengenai betapa menjunjung tinggi akhlak menjadi hal penting dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.

Keluarga (baca: orang tua) sebagai pendidik dan lingkungan pertama yang dimiliki oleh setiap anak memiliki bertanggung jawab besar atas terben­tuknya segala karakter. Perhatian orang tua harus mampu menyediakan pendi­dikan yang tepat membentuk karakter anak sejak dini. Sebab, karakter anak di masa mendatang cerminan pendidikan masa kecil. Artinya, jika sejak kecil anak sudah dibiasakan dengan sikap toleran dengan kebhinnekaan, niscaya dia juga akan berbuat demikian di masa depan.

Menurut Elizabeth B Hurlock (1978), anak mengalami tahapan perkembangan fisik, motorik, bicara, emosi, sosial, bermain, kreativitas, dan perkembangan moral pada usia seki­tar 0-6 tahun. Ki Hajar Dewantara pun pernah menga­takan, keluarga sebagai tempat pertama anak-anak hidup dan berinteraksi berpe­ran penting dalam proses tumbuh kem­bang, terutama pada masa-masa awal. Saat itu anak mudah menerima rangsang atau pengaruh lingkungan.

Jadi, pentingnya pendidikan dalam keluarga seyogyanya menyadarkan orang tua betapa perilaku tak berakhlak seringkali dipicu oleh kondisi kehidupan keluarga yang tidak kondusif. Orang tua kerap lebih disibukkan urusan mencari materi, sehingga melupakan jalinan emosi dan komunikasi dengan anak. Pada­hal, sen­tuhan emosi dan komunikasi dapat me­nyebabkan anak merasakan keha­ngatan dan perhatian orang tua. Ini dapat men­cegah anak melakukan pelarian ke hal-hal negatif dan melakukan tindakan tidak berakhlak. Wallahu a’lam bish-shawaab.

Facebook Comments