Kembali Fitri Sebagai Khalifah Bumi

Kembali Fitri Sebagai Khalifah Bumi

- in Keagamaan
1568
0
photo by: fotografer.net

Laisa al-‘id li man labisa al-jadid // wa lakinna al-‘id liman tha’atuhu tazid. Idul fitri atau kembali pada kesucian, bukanlah bagi orang yang baju atau sandangnya baru, melainkan bagi siapapun yang ketaatannya pada Allah Swt terus merangkak naik. Inilah idealitas yang semestinya dikejar oleh para pelaku puasa Ramadhan. Idealitas yang substansial, bukan yang artifisial.

Ya, ukuran kembali pada kesucian adalah bertambahnya ketaatan pada-Nya, karena tujuan awal penciptaan manusia tiada lain untuk mengabdi pada-Nya (Qs. al-Dzariyat: 56). Perjanjian primordial antara Allah Swt dengan manusia jelang kelahirannya, juga terkait pengakuan atas eksistensi-Nya sebagai Tuhan sekalian alam (Qs. al-A’raf: 172). Inilah yang disebut perjanjian tauhid. 

Persoalannya, dalam diri manusia terdapat dua potensi sekaligus yang saling tarik-menarik; ketaatan dan pembangkangan. Dengan ketaatan, manusia akan membangun sekaligus melestarikan bumi. Dengan pembangkangan, manusia akan menghancurkan kehidupan di atasnya. Allah Swt “berharap”, hamba-hamba-Nya tunduk patuh pada perintah-Nya. Namun nyatanya, betapa banyak hamba-Nya yang acuh.

Potensi pembangkangan yang berdampak pada pengrusakan kehidupan kiranya penting dicermati. Inilah yang ditengarai oleh malaikat sebagai “penumpahan darah”. Kala hendak mencipta khalifah di bumi, Allah Swt berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikah khalifah di bumi”. Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Qs. al-Baqarah: 30).

Oleh mufassir harakis semacam Sayid Quthb, ayat di atas disebut sebagai ayat yang berkisah perihal “parade kehidupan” (Tafsir Fi Zhilalil Qur’an; I/66), yang menjadi sejarah awal misi pemakmuran bumi. Bahkan menurutnya, melalui ayat ini Allah Swt “hendak menyerahkan pengendalian bumi pada makhluk yang baru” (I/67), yang oleh Agus Mustofa disebut “manusia modern/al-insan”, lawan “manusia purba/al-basyar” (Ternyata Adam Dilahirkan: 247-254). Manusia berpredikat al-insan al-kamil (manusia paripurna) ini yang dirasa paling tepat mengelola bumi, karena telah diberi pendengaran, penglihatan dan hati/akal (Qs. al-Nahl: 78 dan Qs. al-Mulk: 23).

Nyatanya, alih-alih melestarikan kehidupan di bumi, yang gemar dilakukan manusia justru merusaknya. Dan kekuatiran malaikat terbukti. Pengrusakan atau tepatnya “penumpahan darah” terjadi tak lama setelah Adam dan Hawa memiliki empat putera; Habil, Qabil, ‘Iqlima dan Labuda. Qabil yang seharusnya mulai meniti karir sebagai pembangun bumi, justru terlena oleh kemolekan tubuh wanita dan keindahan raut mukanya. Berawal dari penguasaan nafsu dunia sesaat, alih-alih menjalankan tugas utamanya membangun bumi dan mengkriya peradaban baru, ia justru menumpahkan darah saudara sesusunya.

Apa yang dilakukan Qabil kini banyak diikuti oleh kelompok agama, baik Islam maupun non-Islam, yang berhaluan keras. Tak terkecuali Islamic State in Iraq and Syria (ISIS) tentu saja, kelompok yang kegemarannya menumpahkan darah. Secara umum, teroris yang bertopeng kesucian agama memang lebih gemar menumpahkan darah saudaranya dibanding melestarikannya. Lihat saja yang terjadi di negeri ini, termasuk juga di Bandara Turki beberapa waktu lalu. Tumpahan darah seakan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kelompok yang sesungguhnya tak beragama ini. Kegemaran inilah yang penulis maksud sebagai pembangkangan pada perintah-Nya, karena Tuhan semesta alam ini menitah umat manusia untuk menyebarkan misi damai dan pelestarian kehidupan.

Apakah kelompok ini yang diberi mandat sebagai khalifah di bumi? Tentu saja bukan! Sebab khalifah yang dikirim oleh Allah Swt bertugas melakukan pelestarian kehidupan di bumi dan bukan merusaknya. Mereka inilah yang justru dikuatirkan para malaikat. Dan yang seharusnya dan paling pantas mengelola bumi adalah hamba-hamba Allah Swt yang saleh, baik secara individual maupun sosial, yang hati dan pikirannya selalu berorientasi untuk kemaslahatan manusia, alam dan makhluk lainnya. Allah Swt berfirman: “Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam al-Dzikr (Lawh Mahfudh), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-Ku yang saleh.” (Qs. al-Anbiya’: 105).

Sah-sah saja semua orang mengaku “saleh.” Namun rasanya akal sehat kita sulit menerima perusak kehidupan sebagai orang saleh. Boleh juga semua orang mengatasnamakan “jihad” sebagai bukti kesalehannya, termasuk dengan membunuh saudara-saudaranya. Namun rasanya akal sehat kita tidak bisa menerima perilaku ini sebagai pengejawentahan misi kekhalifahan. Jihad hari ini bukanlah upaya mempercepat kematian (baik kematian diri sendiri maupun makhluk hidup lainnya), melainkan untuk membangun dan melestarikan kehidupan di bumi.  

Karena itu, momen setelah puasa Ramadhan dan hadirnya Idul Fithri (kembali pada kesucian) ini semestinya dimaknai sebagai kesadaran diri pada tujuan awal penciptaan manusia sebagai khalifah di bumi, yang tugas utamanya melestarikan kehidupan di atasnya. Dengan kembali pada khiththah penciptaan manusia sebagai khalifah fi al-ardh, sejatinya kita telah benar-benar kembali pada kesucian. Inilah pemenang sesungguhnya.

Facebook Comments