Kesepian di Dalam Surga

Kesepian di Dalam Surga

- in Keagamaan
1028
0

Sepi dan kesepian memiliki orientasi makna yang jauh dari kebahagiaan, sementara gambaran surga adalah gambaran kebahagiaan dan kesenangan. Ilustrasi judul tersebut menggambarkan perilaku radikal anarkis dan teroris yang mendambakan surga, namun dengan cara anarkis seperti membunuh dan menghilangkan nyawa sesama dengan cara yang sadis.

Di antara janji Allah swt kepada hamba-Nya yang beriman dan bertaqwa selama hidup di dunia yang fana adalah mendapatkan tempat yang menjadi impian setiap makhluk yang bernama manusia untuk menjadi penduduk surga yang abadi di dalamnya pada hari kemudian, hari pembalasan, hari perhitungan. Beruntunglah orang-orang yang mendapatkan hidayah dalam menganut dan mengamalkan agamanya secara kaffah, menyeluruh dan konsisten.

Kelompok yang merasa diri pemilik surga dan menempatkan orang lain yang tidak satu paham dengan mereka akan tinggal dalam neraka, setelah mereka masuk ke dalam surga ternyata tidak menemukan satu orang pun di dalamnya, mereka pun merasa kesepian dalam surga dan merindukan kembali ke alam dunia dan meminta kepada Allah swt : ‘Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami ke dunia, kami akan mengerjakan amal sholeh sesungguhnya kami adalah orang-orang yakin’. (QS. al-Sajadah 32 : 12).

Pada prinsipnya manusia diciptakan oleh Allah untuk menyembah sebagai wujud dan manifestasi rasa syukur akan segala limpahan nikmat yang telah, sedang dan yang akan dikaruniakan oleh Yang Maha Kuasa kepada seluruh hamba-Nya. Manifestasi rasa syukur itulah yang akan berbuah manis sejak di dunia hingga di akhirat kelak, sejak di dunia Tuhan akan tambahkan rejeki kepadanya dan hingga di akhirat nanti Tuhan akan memberikan balasan atas segala kebajikan dan amal sholeh yang telah dilakukan dengan memasukkan ke dalam golongan hamba-Nya yang akan mendapatkan ridha dari-Nya. Harapan yang senantiasa dilantunkan seorang hamba dalam lafad doa ‘Kami memohon ridha-Mu dan surga-Mu dan kami berlindung dari murka-Mu dan siksa api neraka’.

Banyak manusia yang melafadkan untaian doa tersebut sebatas bibir, tanpa penghayatan makna dan kandungan yang terdapat dalam bait doa tersebut. Pada satu sisi sebagian manusia berharap ridha dan surga dan mengadu agar terhindar dari murka Tuhan dan siksa api neraka, tetapi pada sisi lain, mereka merampas hak proregatif Tuhan dalam menghakimi manusia-manusia yang mereka anggap berdosa hanya karena tidak sepaham dengan keyakinan yang ditafsirkan menurutnya. Seolah tidak mengenal lagi sifat memaafkan dan mau berbagi dengan orang lain yang berbeda keyakinan, sementara Tuhan sendiri yang menciptakan manusia selalu membuka pintu maaf dan ampunan kepada seluruh hamba-Nya.

Kelompok manusia yang galau di dunia tidak mampu memenej hati, qalbu, pikiran dan keinginannya sangat mudah menghakimi saudara sendiri, menghalalkan darah orang lain, mengkafirkan sesama hamba ciptaan terbaik Tuhan, membantai wakil Tuhan lainnya. Akibat dari kegalauan, kerisauan dan kekacauan pikiran dan aksi orang-orang tersebut karena hanya membaca sepotong-sepotong pesan Allah swt, misalnya Tuhan bersumpah demi masa, seluruh manusia dalam keadaan merugi kecuali empat golongan hamba, yaitu hamba yang beriman, hamba yang berbuat amal sholeh, hamba yang senantiasa berwasiat kepada kebenaran dan hamba yang berwasiat kepada kesabaran (QS. al-‘Asr 103 : 1 – 3).

Para komplotan manusia yang mengaku jihadis, menggadaikan nama agung Allah dengan berteriak ‘Allahu Akbar’ sambil menghajar kekasih Allah lainnya, memenggal leher manusia tidak berdosa, mengkafirkan sesama saudara seiman, menyeret tubuh sesama saudara sebangsa dan membantai sesama manusia. Aksi teroro dan bejat tersebut dilakukan karena tidak memiliki rasa sabar dan tidak mewasiatkan sikap sabar, hanya berhenti pada pesan wasiat menegakkan kebenaran, tanpa membaca dan memahami berwasiat akan kesabaran, sabar membentengi godaan dari dalam diri yaitu nafsu amarah dan sabar melawan godaan dari luar diri yaitu perjuangan atas nama agama separuh nafas. Berwasiat menegakkan kebenaran pun diinterpretasi sebatas bisikan nafsunya, bukan tafsiran kebenaran yang secara holistik dan tematis, maudhui’ yang Allah swt telah jelaskan pada banyak pesan-pesan Allah swt lainnya.

Kunci utama menjadi hamba yang tidak merugi adalah kesabaran atau berwasiat terhadap sikap sabar, itulah sebabnya mengapa Allah swt menutup firman-Nya dalam al-Quran surat  untuk berwasiat tentang kesabaran. Meraih ridha dan surga Allah swt pada hari pembalasan membutuhkan perjuangan dan setiap perjuangan menuntut pengorbanan, dan semua pengorbanan harus berlandaskan kesabaran, jika seseorang tidak memiliki kesabaran dalam perjuangan maka jalan pintas dapat ditempuh sebagai solusinya. Berjuang dan berjihad hanya mengejar surga dan bidadari tanpa memperhatikan misi utama dan esensi beragama yaitu menyempurnakan akhlak dan mengabaikan indahnya kebersamaan dalam perbedaan, mungkin saja dapat meraih sisi lain surga yang dirindukan namun hanya rasa sepi yang diperoleh bukan kebahagiaan dengan menggapai ridho-nya.

Jika seorang hamba belum menghayati hakekat penciptaan manusia di dunia, maka dalam melaksanakan ibadah diukur dan ditakar untuk ditukarkan dengan surga yang digambarkan dalam banyak riwayat, seolah Tuhan hanya dijadikan pedagang yang akan menjual dan membeli pahala dengan surga, seakan beraagama pun hanya bicara surga dan neraka, pahala dan dosa. Pada hal Dipahami bersama bahwa  agama hadir membentuk prilaku, watak dan kepribadian yang memancarkan nilai-nilai ketuhanan yang tercermin dalam kumpulan asma al-Husna – nama-nama terpuji Allah swt sejumlah 99 nama. Agama tidak hadir dalam kehidupan manusia untuk menyulut dan membesarkan perbedaan, karena dapat melahirkan konflik sesama manusia baik antar umat beragama maupun antara komunitas beragama.

Agama membawa misi perdamaian, persaudaraan, persamaan di hadapan Tuhan, yang membedakan adalah ketaqwaan kepada-Nya. Agama mengajari umatnya untuk tidak bangga dan angkuh lebih-lebih menteror sesama kekasih Tuhan, sebaliknya mengajari umat manusia untuk bersyukur dan bersabar serta memiliki sikap tawadhu, rendah diri untuk menemukan jalan mudah menuju surga yang dijanjikan oleh Allah swt. Perlu disadari bahwa Tuhan tidak menyiapkan surga bagi hamba yang mendustakan ayat-ayat-Nya serta menyombongkan diri, hal tersebut ditegaskan oleh Allah swt. ‘Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga onta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. Mereka mempunyai tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zhalim. Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shalih, Kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. (QS. al-A’râf 7 : 40-42).

Ilustrasi yang sangat tidak masuk akal bahwa masuknya surga bagi orang-orang yang mendustakan ayat Allah, setelah seekor unta masuk ke dalam lubang jarum. Jika demikian ancaman Tuhan bagi manusia yang sombong, maka jangan kan surga yang akan diperoleh dari Tuhan, pintu-pintu langit pun tidak akan terbuka menerima mereka. Wallahu A’lam.

Facebook Comments