Ketika Perempuan Jadi Teroris

Ketika Perempuan Jadi Teroris

- in Narasi
373
0
Ketika Perempuan Jadi Teroris

Keterlibatan kaum perempuan dalam terorisme sebetulnya bukan fenomena baru. Pandangan konvensional yang menyebutkan bahwa perempuan lebih kecil kemungkinannya terlibat terorisme dibandingkan pria tidak sepenuhnya benar. Sebab, pengalaman di banyak negara justru menunjukkan fakta dan gambaran berbeda. Data un.org menyebutkan bahwa di Nigeria, misalnya, frekuensi dan intensitas serangan bom bunuh diri yang melibatkan perempuan dan anak perempuan meningkat tajam pada tahun 2015.

Kelompok teroris Al-Shabaab secara terbuka meminta orang tua untuk mengirim anak perempuan mereka yang belum menikah untuk berperang bersama militan laki-laki. Karenanya, perempuan boleh dibilang telah lama memainkan peran penting dalam gerakan teroris. Dan kini, perlu kiranya untuk mendalami lebih detail dan serius terkait keterlibatan perempuan dalam melakukan aksi terorisme dan ekstremisme kekerasan di berbagai belahan dunia.

Di Indonesia, keterlibatan Dian Yulia Novi dalam aksi terorisme mengejutkan banyak pihak. Istri dari terduga teroris M. Nur Sholihin yang ditangkap pada 11 Desember 2016 adalah indikasi dan petunjuk awal bahwa teroris di Indonesia sudah menyasar kaum perempuan. Dian Yulia Novita adalah calon pelaku bom bunuh diri di depan Istana Kepresidenan, Jakarta. Ia berhasil dibekuk polisi di Bekasi, Jawa Barat pada Desember 2016 sebelum rencana jahatnya dilakukan. Dian adalah calon pengantin bom bunuh diri dan Sholohin, suaminya, selaku pemimpin aksi. Tempo menulis, Solihin mengungkap motifnya menikah lagi lantaran Dian berkeinginan menjalankan tugas amaliyah istisyhadiyah yang dipahami sebagai pengorbanan nyawa untuk agama.

Kemunculan Dian di kalangan para teroris merupakan sebuah fakta menarik dari sepak terjang terorisme di Tanah Air. Sisi menariknya, perekrutan anggota teroris sudah berani menyasar semua kalangan, termasuk perempuan. Pengamat pertahanan, Susaningtyas Kertopati mengatakan bahwa pengantin perempuan yang lagi tren ini banyak pertimbangan mengapa mereka saat ini dipakai. Perempuan kerap dilihat sebagai insan yang tahan akan tekanan, tetapi di satu sisi, tingkat emosionalnya tinggi dan beberapa karakter perempuan ada unsur labil. Kelebihan kekurangan ini yang dijadikan alasan.

Menurutnya, ada hal yang membuat publik tidak begitu mencurigai perempuan sebagai pengantin. Karena perempuan kerap terdeskripsi sebagai sosok ibu/istri yang lekat dengan citra lemah lembut. Sehingga, terungkapnya Dian sebagai bagian dari anggota teroris di Indonesia memberikan pekerjaan ekstra kepada BNPT dan Densus 88 Anti-teror guna menelisik lebih dalam perihal keterlibatan perempuan. Baik BNPT maupun Densus 88 harus lebih mendalami karakteristik pengantin perempuan. Tentunya deradikalisasinya pun tak boleh lepas dari konteks sosial budaya. Masyarakat diedukasi agar tak gampang percaya kepada propaganda dan ajakan radikal.

Selanjutnya, BNPT dan Densus 88 harus segera melakukan upaya-upaya antisipasi agar ke depan perempuan-perempuan tidak lagi dijadikan sasaran para teroris untuk menjadikannya sebagai anggota. Lebih dari itu, pergerakan terorisme di Indonesia mutlak diwaspadai di tengah-tengah kehidupan masyarakat, terutama mereka yang sudah mulai menyasar semua kalangan untuk dijadikan anggota demi eksistensinya. Tentu saja mengukur hubungan jaringan harus tepat dan cepat sebagai deteksi dini.

Facebook Comments