Khutbah Idul Adha

Khutbah Idul Adha

- in Editorial
11358
1

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكبَرْ (3×) .اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ .الحمد لله الذي جعل الحج والأضحية شعارا من شعائر الإسلام أشهد أن لاإله إلا الله الملك القدوس السلام وأشهد أن محمدا عبده ررسوله أرسله لإتمام أخلاق الأنام. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد الداع الي دار السلام وعلي أله وأصحابه أجمعين ومن تبعهم بإحسان الي يوم الزحام. أما بعد.

عباد الله أوصيكم وأياي بتقوي الله وقد فاز من اتقي واعلموا إخواني الأعزاء أن التقوي وصية الله للأولين والأخرين حيث قال :ولقد وصينا الذين أوتوالكتاب وإياكم ان اتقوا الله وان تكفروا فإن لله ما فى السموات وما فى الأرض وكان الله غنيا حميدا .وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : اتق الله حيث ما كنت واتبع السيئة الحسنة تمحها وخالق الناس بخلق حسن.

Jama’ah sholat Idul Adha rahimakumullah

Puja-puji hanya milik Allah, Tuhan seru sekalian alam. Dialah sang Maha Pengasih dan Penyayang. Dialah sang Penguasa Tunggal hidup dan kematian. Dialah sang Pemilik Kerajaan Langit dan Bumi. Atas segala Kemahaan dan Keperkasaan dzat-Nya, Dialah satu-satunya dan hanya Dia yang patut disembah, layak menjadi tempat bergantung, hanya Dia! Qul huwallahu ahad, Allahusshamad, lam yalid wa lam yuulad wa lam yakun lahuu kufuwan ahad!

Shalawat salam selalu tercurah deras kepada junjungan alam, utusan Allah bagi semesta, kekasih-Nya, yang dibekali ajaran kasih sayang dan cinta kasih, Rasulullah Muhammad saw. Dialah sang Nabi akhir zaman, pembebas manusia dari gelap menuju cahaya, penebar kedamaian, pembawa risalah Islam yang mengajarkan akhlak mulia. Allahumma sholli ‘alaan nuuril anwaar wa sirril asraar wa tiryaaqil aghyaar wa miftaahi baabil yassar sayyidinaa nabiyyinaa Muhammadinil Muktaar wa ‘alaa aalihi wa shohbihil akhyaar!

Amma Ba’du.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar wa lillahilhamd

Beberapa tahun silam, dengan telinga sendiri saya pernah mendengar langsung seorang pengkhutbah dengan lantang mengaitkan ibadah Qurban dengan latihan melihat darah. Si pengkhutbah itu berusaha meyakinkan Jamaah bahwa ibadah Qurban mendidik umat Islam bernyali dan berani saat berhadapan dengan darah. Dengan kata lain, Qurban adalah latihan kecil menghadapi perang besar yang disebut ‘Jihad’.

Si pengkhutbah itu lalu meneruskan bahwa berhubungan dengan hal-hal yang berbau darah bukan perkara mudah. Banyak orang tak kuasa melihat atau mencium bau darah di sekitarnya. Hal ini mudah dibuktikan dengan fenomena banyaknya orang yang ‘kliengan’ alias semaput atau pusing-pusing saat melihat darah terkucur, meski darah seekor hewan.

Karena itulah, menurut si pengkhutbah itu, umat Islam harus terus menerus ditumbuhkan nyali dan keberaniannya berhadapan dengan darah. Karena ‘Jihad Berdarah-darah’ kata si pengkhutbah lagi adalah kewajiban mutlak umat Islam. “Bagaimana mungkin melawan dan membunuh orang kafir dan sekutunya jika melihat darah saja tidak sanggup?”, desak si pengkhutbah.

Belakangan provokasi serupa dari kelompok radikal terorisme beragama pun memanipulasi makna Qurban dengan keberanian melakukan aksi bunuh diri untuk menjalankan misi yang mereka sebut jihad. Tidak jarang anak muda negeri ini terpengaruh ajakan itu. Mereka dengan congkak, sok gagah, rela mati dalam aksi bom bunuh diri. Ada pula di antara mereka kini yang rela ke negeri orang, ke Suriah, bergabung dengan ISIS, hanya untuk mati konyol di sana. Mereka pikir inilah qurban sebenarnya.

Ini bukan isapan Jempol atau omong kosong belaka. Berdasarkan data dari kasus-kasus yang telah terungkap: bom Natal, bom Bali I, bom bali II, bom Kedubes Australlia, bom JW Marriot, dan sebagainya dilakukan oleh anak-anak ingusan berusia kisaran 18-26 tahun lewat aksi bom bunuh diri. Inilah masalah umat Islam Nusantara hari ini. Ajaran agama yang sakral nan suci digunakan untuk kepentingan jahat. Ajaran agama yang harusnya mendamaikan dan mensejahterakan umat dijadikan alat melegalkan kekerasan. Alquran dan Hadits ditafsirkan untuk membuat kekacauan di muka bumi.

Wahai kaum Muslimin, hati-hatilah terhadap kelompok seperti itu! Mereka memelintir ayat suci dan mengelabui umat Islam. Mereka gemar mengkafirkan saudaranya, merasa paling benar, mereka senang membid’ah-bid’ahkan yang lain, senang mengkafirkan yang lain –terlebih pada orang yang suka tahlilan dan mauludan-, mereka mengamalkan ajaran Islam yang kaku dan keras, dan mereka tak segan membunuh muslim yang sudah dianggap kafir itu. Inilah khawarij modern atau neo-khawarij. Dimana di masa lalu pernah mengorbankan darah para sahabat Nabi demi ajaran yang mereka anggap paling benar.

Rasulullah saw pernah meramalkan hadirnya orang-orang ini. Mereka bersorban, berjanggut, terkesan alim, terlihat rajin shalat-puasa- dan baca Alquran, tapi sesungguhnya akhlak mereka tak ubahnya seperi Abu Jahal dan Abu Lahab. Alquran yang mereka baca dilukiskan Nabi seperti panah yang melesat cepat dari busurnya, artinya firman Allah dan ajaran Islam tidak menancap di hati mereka dan hanya sebatas lewat.

يَأْتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ حُدَثَاءُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُم

Rasulullah Bersabda: “Akan datang di akhir zaman sekelompok anak muda berpikiran dangkal (soal agama) menyampaikan perkataan Nabi mengatasnamakan Islam dimana-mana, padahal mereka sebenarnya telah melesat keluar dari Islam seperti lepasnya anak panah dari busurnya, iman mereka (tak masuk dihati) bahkan tak sampai melewati tenggorokan.” (HR. Al Bukhariy).

Itulah fenomena mutakhir perkembangan Islam di tanah air. Padahal lebih dari lima abad, sejak runtuhnya kerajaan Majapahit dan berdiri Kesultanan Demak hingga kesultanan Cirebon dan Banten, Islam diajarkan secara santun dan lemah lembut. Para leluhur Islam Nusantara, seperti Wali Songo –termasuk Sunan Gunung Jati-, tidak pernah sedikitpun melakukan aksi kasar dalam berdakwah. Kalau bukan karena kearifan dan kesantunan mereka mana mungkin Islam berkembang sangat cepat dan kini dianut 90 persen masyarakat Indonesia.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar wa lillahilhamd

Mendengar cerita di atas tentu saja pertanyaan kritis dapat diajukan terkait interpretasi atau tafsiran ritual Qurban si pengkhutbah ahli kekerasan itu. Apakah benar ritual Qurban adalah latihan kecil berjihad? Adakah hubungan antara darah dan Qurban? Dua pertanyaan ini harus dijawab secara jelas untuk membuktikan kesalahan klaim si pengkhutbah.

Sedari awal Allah mengingatkan umat Islam bahwa Qurban adalah manifestasi takwa seorang hamba kepada Tuhannya. Dia yang Maha Kaya itu, Allah Al Ghaniy, menyatakan diri tak butuh daging dan darah! Yang akan sampai di haribaan-Nya adalah takwa.

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

Daging dan darah Qurban tidak akan sampai kepada Allah, yang sampai pada-Nya hanyalah ketakwaan kalian. (QS. Al Hajj: 37).

Menurut para ulama ayat itu mengajarkan banyak hikmah yang dapat diteladani. Pertama, penyucian  zat Allah (tanzih li dzaatillah) dari sifat keterbutuhan dengan materi (daging dan darah). Allah Maha Suci dari sifat-sifat yang dimiliki makhluknya, mukholafatu lil hawaditsi (laisa kamitslihi syai’un), seperti hasrat untuk makan. Kedua, karena tidak membutuhkan makan daging, Ia justru menunjukkan sifat kasih sayang-Nya kepada makhluk. Dia memerintahkan daging Qurban itu dibagikan kepada mereka yang membutuhkan

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ

Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. (QS. Al Hajj: 36).

Ketiga, darah yang dialirkan dari leher hewan sembelihan tidak punya arti apapun di hadapan Allah. Dia hanya akan menyimak kondisi spiritual yang dimiliki individual umat saat melakukan penyembelihan. Mengeluarkan darah hewan Qurban dipahami para ulama sebagai cara simbolik manusia menyembelih nafsu dan ego kebinatangan. Menyembelih sifat binatang sama dengan menyembelih ketamakan, kerasukan, mau menang sendiri, dan sebagainya.

Kondisi spiritual yang akan sampai kepada Allah adalah kadar ketakwaan saat menjalankan perintah Allah, yaitu perintah untuk berbagi pada sesama sebagai wujud kasih sayang. Qurban itu sendiri berasal dari bahasa Arab yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berarti “dekat atau mendekatkan”.

Dalam konteks hubungan vertikal, hablun minallah, hubungan manusia dengan Sang Pencipta, qurban adalah upaya mendekatkan diri pada Allah karena telah melaksanakan perintahnya, dan inilah yang disebut ketakwaan. Sementara dalam konteks horisontal, hablun minannas, hubungan antar manusia, qurban menciptakan solidaritas sosial dan mendekatkan antara mereka yang mampu dengan yang kurang mampu, antara saudara dengan kerabat, antara tetangga dengan kawan.

Dengan demikian, maka mudah sekali mematahkan anggapan orang-orang yang menyebut qurban sebagai ajang pelatihan mental menghadapi perang. Apalagi jika mengkaitkan perang dengan aksi kekerasan dan terorisme. Ritual qurban bukan untuk itu. Allah mensyariatkan qurban untuk membentuk pribadi takwa sekaligus peduli pada sesama, bukan malah menyakiti sesama dan mengacaukan dunia.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar wa lillahilhamd

Pada hakikatnya, sejumlah ritual ibadah yang Allah dan Rasul-Nya syariatkan kembali pada kepentingan manusia. Allah melatih hambanya, untuk terus meningkatkan ketakwaan dan kepatuhan pada ajaran dan risalah Nabi-Nya. Ibadah sholat, puasa, zakat, haji, maupun ibadah sunnah lainnya terbentuk dalam kerangka la’allakum tattaquun (agar kalian bertakwa). Takwa menjadi kata kunci peribadatan dalam ajaran Islam.

Takwa adalah upaya sungguh-sungguh membaktikan diri terhadap kehendak Allah dan menjauhi larangan-Nya, imtitsaalu awaamirillah wajtinaabu nawaahiihi. Takwa bukan di bibir, di kaki, di tangan, apalagi di pikiran. Takwa ada di dalam hati. Nabi Muhammad pernah ditanya dimana letak ketakwaan, lalu ia menjawab, “at taqwaa haa hunaa, takwa itu di sini,”sambil menunjuk ke arah dada. Takwa dimanisfestasikan dalam perbuatan baik kepada Allah maupun makluk lain.

Itulah yang dicontohkan bapak para Nabi, Ibrahim as. Dia rela melakukan apapun demi menjalankan titah Tuhan-nya. Anak yang ditunggu kelahirannya lewat doa selama berpuluh tahun, yang lahir disaat usia Ibrahim kelewat sepuh, Ismail namanya, diminta Sang Pencipta saat ‘sedang lucu-lucu’-nya. Allah mendatangi Ibrahim lewat mimpi hingga tiga kali meminta putra tersayangnya, Ismail, disembelih.

Awalnya mimpi itu datang di tanggal 8 Dzulhijjah. Ibrahim mempertanyakan, apakah perintah yang ia terima lewat mimpi itu benar adanya dari Allah. Dia bukannya ragu pada perintah Allah, namun seperti mimpi di siang bolong perintah itu menyentak batinnya. Dalam konteks psikologi modern barangkali Ibrahim merasakan kelimbungan dan shock luar biasa, sehingga ia seperti orang kehilangan kesadaran, melamun dan bengong. “Akankah ia tega, memotong leher anak kandungnya dengan tangannya sendiri?” itulah pertanyaan di benaknya.

Di saat kondisi psikologisnya belum sepenuhnya memahami maksud perintah itu, di tanggal 9 Dzulhijjah, Allah kembali mendatanginya lewat mimpi. Sekali lagi, Ismail harus rebah dan dikorbankan. Allah memberi kunci-kunci khusus yang hanya dimiliki para Nabi untuk meyakinkan bahwa perintah ini betul berasal dari-Nya. Ibrahim semakin mantap, ia yakin pada perintah itu. Hanya saja ia membutuhkan waktu untuk mengasah belatinya setajam mungkin, setidaknya meski ia harus kehilangan Ismail sang putra tersayang ia tak perlu melihatnya kesakitan saat meregang nyawa.

Tak hanya itu, Ibrahim merasa perlu menghabiskan waktu bercengkrama bersama Ismail sebelum keduanya berpisah selamanya. Dialog dan diskusi antara anak dan bapak yang ingin dipisahkan maut itu berlangsung syahdu. Ibrahim bertanya, “Nak, aku mendapat perintah lewat mimpi untuk menyembelihmu, bagaimana pendapatmu?” Tak perlu menunggu lama, Ismail menjawab, “silahkan saja ayah, itu perintah Allah, aku menerimanya.” Haru biru Ibrahim mendengar jawaban itu, putra tersayangnya, di usia relatif cilik, mampu menunjukkan ketakwaan pada Allah yang sedemikian luar biasa.

Di tanggal ke-10 Dzulhijjah, Allah kembali bertandang lewat mimpi dan meminta Ibrahim menyegerakan perintahnya di hari itu juga. Dengan hati yang sangat teguh, anak bapak itu berjalan menyonsong perintah Tuhan dengan bahagia. Mereka yakin Allah punya tujuan lain di balik perintahnya yang sedikit ‘aneh’ itu. Dengan hati-hati, Ismail dibaringkan di sebuah batu dengan ditutupi kain agar tak melihat rasa sakit saat disembelih, dengan menyebut asma Allah seraya bertakbir, Bismillahi Allahu Akbar, belati Ibrahim bergegas menggorok leher Ismail.

Lalu betapa kagetnya Ibrahim saat mengetahui darah yang mengucur dari qurban itu bukanlah dari tubuh Ismail. Putranya nampak tengah berdiri tidak jauh dari dirinya. Sementara darah yang tertumpah itu adalah darah seekor domba kibasy. Konon, domba itu adalah domba terbaik yang dipungut langsung dari surga. Sontak seketika itu pula, dengan rasa haru dan bahagia, karena Ibrahim ‘tak jadi’ kehilangan Ismail, ia bertakbir dan bertahmid memuji keagungan Allah, ‘Allahu Akbar Wa lillahil hamd’ (Allah Maha Besar segala puji hanya untuk-Nya).

Rasulullah Muhammad saw mengabadikan tanggal-tanggal penuh ketegangan ini agar senantiasa diingat dan menjadi inspirasi takwa bagi umatnya. Tanggal 8 Dzulhijjah beliau sebut dengan hari tarwiyah yang bermakna melihat dalam mimpi, sebagaimana Ibrahim mendapat perintah pertama kali itu lewat mimpi. Sementara 9 Dzulhijjah beliau sebut hari ‘arafah yang berarti Ibrahim mengerti bahwa perintah itu memang berasal dari Allah. Sedangkan di 10 Dzulhijjah, Rasulullah merayakannya sebagai wujud kemenangan Ibrahim melawan egonya sendiri dan patuh pada perintah Allah.

Sementara dalam Alquran, peristiwa tersebut diabadikan dalam surat Ash Shaffaat ayat 102-107, sebagaimana berikut:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ [١٠٢] فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ [١٠٣]وَنَادَيْنَاهُ أَن يَا إِبْرَاهِيمُ [١٠٤] قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ [١٠٥] إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ [١٠٦] وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ [١٠٧]

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (QS. Ash Shaffaat: 102 – 107).

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar wa lillahilhamd

Demikian khutbah Idul Adha kali ini, semoga keberkahan melimpahi umat Islam di seluruh penjuru bumi. Selamat Hari Raya Idul Adha 1436 H. Semoga diberikan ketakwaan yang bertambah. Amin yaa rabbal ‘alamin.

 أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ . بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4×) اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.

عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

Facebook Comments