Konflik Israel-Palestina dan Ancaman Politik Identitas Bagi Kemanusiaan

Konflik Israel-Palestina dan Ancaman Politik Identitas Bagi Kemanusiaan

- in Narasi
1464
0
Konflik Israel-Palestina dan Ancaman Politik Identitas Bagi Kemanusiaan

Babak baru konflik Israel-Palestina kian menegangkan. Jual beli serangan antar kedua belah pihak terus berulang. Jumlah korban perang dikabarkan semakin meningkat dan kian memperihatinkan. Al-Jazeera melaporkan pada 17 Mei 2021, sedikitnya 198 orang, termasuk 58 anak-anak, telah tewas di Jalur Gaza sejak kekerasan terbaru dimulai. Selain itu lebih dari 1.300 warga Palestina juga terluka.

Angka korban kemungkinan akan terus bertambah, karena eskalasi konflik belum menunjukkan tren penurunan. Opsi genjatan senjata yang diinisiasi Mesir, Qatar, dan PBB mengambang begitu saja. Israel secara tegas menolak dan akan terus melakukan agresi ke wilayah Palestina. Sedangkan pejabat senior Hamas, Izzat Al Rishq, mengatakan akan sulit untuk melakukan genjatan senjata selama agresi militer Israel masih terus terjadi.

Di sisi lain, aksi solidaritas untuk Palestina kian banyak digelar di berbagai belahan Dunia, mulai dari negara-negara Asia, Eropa hingga Amerika. Mereka mengutuk aksi militer Israel yang kian arogan menyerang wilayah Palestina.

Sedangkan di Indonesia narasi kebencian, kutukan, dan kritikan keras terhadap Israel terus bermunculan. Seruan aksi solidaritas, penggalangan dana, bahkan ajakan untuk melakukan aksi Jihad lamat-lamat mulai terdengar.

Simpati masyarakat dunia terhadap nasib Palestina bukan tanpa alasan. Palestina merupakan contoh riil di mana aksi kolonialisme masih berjalan di tengah era kebebasan dan demokratisasi di dunia lain terus mengalami kemajuan. Palestina menjadi contoh konkrit di mana ketidakadilan, diskriminasi rasial, dan pelanggaran HAM berat menjadi tontonan gratis yang terus berulang.

Rasisme di Palestina sudah menjadi bagian dari sejarah. Praktik kolonialisme Israel di Palestina digerakkan oleh sentimen ras yang akut. Narasi anti-semitisme menjadi tunggangan politik Zionis Irael untuk melakukan pembersihan terhadap etnis Arab-Palestina. Politik identitas menguat membersamai penjarahan tanah warga Palestina.

Adalah Theodor Herzl, tokoh utama gerakan Zionisme, yang menggaungkan narasi anti-semitisme sebagai gerakan politik untuk memaksa orang Yahudi datang ke Palestina dan mengusir warga Palestina pergi dari tanah lahirnya. Herzl menggunakan isu sektarian sebagaimana dulu digunakan Hitler untuk menindas orang Yahudi.

Zionisme Israel menganggap Palestina tanah kosong yang tidak berpenghuni. Sebagaimana dijelaskan Ralph Schoeman dalam bukunya Di Balik Sejarah Zionisme (2013), bahwa ada “empat mitos” Zionisme yang dijadikan basis gerakan kolonialisme di bumi Palestina. Salah satunya, “sebuah negeri tanpa rakyat dan suatu rakyat tanpa sebuah negeri”.

Mitos ini terus diproduksi oleh Zionis Israel untuk menegaskan sosok Palestina yang Fiktif. Mitos ini juga digunakan Israel untuk melegitimasi praktik aprtheid dalam melakukan kolonialisme di Palestina

Mewaspadai Politik Identitas

Konflik Israel-Palestina berdampak besar bagi situasi geopolitik global. Penindasan, kekejaman, dan ketidakadilan yang terus berulang di Palestina melahirkan persoalan turunan. Dalam konteks Indonesia kini, perdebatan di media sosial, baik di Facebook, twitter, dan lainnya saling bersahutan antara pendukung Israel dan Palestina.

Salah satu perdebatan antara pendukung kedunya ialah mengenai aksi-reaksi dalam konflik tersebut. Tentang siapa yang menyerang dan siapa yang menjawab serangan. Isu ini terus mengelinding bagai bola liar yang muaranya jatuh pada konklusi yang kaku, hitam-putih.

Dampak besar yang patut diwaspadai ialah samakin menguatnya politik identitas, sentimen ras, dan agama muncul ke permukaan. Akhirnya, terbentuk kesimpulan-kesimpulan universal atas dasar partikularistik. Misalnya, menyerang Yahudi sebagai agama karena tidak bisa membedakan antara Yahudi dan Zionisme. Akibatnya kita akan dituduh anti-semit. Kesalah-pahaman seperti ini puncaknya akan melahirkan pembelahan di masyarakat.

Sesat pikir (logical fallacy) seperti ini yang perlu dihindari dalam memahami konflik Palestina dan Timur Tengah pada umumnya. Jangan sampai kritik terhadap rasisme Zionis Israel menjebak kita pada jurang rasisme yang sama. Cara pandang seperti ini akan menggiring kita pada eksklusifisme. Dalam kondisi puncak, aksi keberpihakan tidak hanya berbentuk dukungan moril dan materil, tetapi bergerak pada aksi lapangan untuk melakukan ‘Jihad’.

Atas dasar ‘panggilan jihad’ seseorang bisa dengan mudah bergabung di geladak perang. Bergabungnya orang-orang dengan ISIS dalam konflik Suriah merupakan contoh konkrit dari fenomena ini. Akibat penjajahan Israel di Palestina, kemunculan kelompok militan ini sudah menyejarah. Sebagaimana disinggung Hendropriyono dalam bukunya Terorisme: Fundamentalisme Kristen, Yahudi, Islam (2009), bahwa masalah terorisme akan teratasi jika masalah antara Palestina dan Israel selesai.

Karena itu, untuk menghindari munculnya laku teror, aksi solidaritas terhadap Palestina perlu dilakukan secara wajar nan bijaksana. Menyampaikan kritik yang konstruktif dan bukan disertai narasi sektarian yang mengesankan kita terjebak dalam selubung teologis yang kaku. Menghindari politik identitas untuk menyelamatkan kemanusiaan dari kekacauan.

Facebook Comments