Spirit Hari Kebangkitan Nasional untuk Solidaritas dan Perdamaian Global

Spirit Hari Kebangkitan Nasional untuk Solidaritas dan Perdamaian Global

- in Narasi
1365
0
Spirit Hari Kebangkitan Nasional untuk Solidaritas dan Perdamaian Global

Hiasilah hatimu seindah-indahnya, agar imanmu juga turut tersenyum. Karena kebangkitan sesungguhnya adalah kebangkitan jiwa dan hati. Terkadang bila yang gelap mendatang, jiwa mulai dirundung resah. Di saat itu, mulailah rasa pedih meluap-luap merasuk ke dalam jiwa. Sungguh waktu itu, syaitan akan mulai menusuk-nusukkan jarum keresahan hati. Jiwa yang gelap akan dilingkari sangkaaan-sangkaan serta laku-laku yang buruk. Namun, jiwa yang hayyin (tenang) akan terus bangkit, keluar dari pedih hasutan syaitan. Bangkit untuk berikhtiar mendekatkan diri kepada Allah. Karena di situ letaknya damai, di situ letaknya cinta.

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa tiap tanggal 20 Mei kita peringati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Momentum ini tentunya patut kita refleksikan untuk turut berperan serta dalam solidaritas global dan perdamaian dunia. Narasi tersebut patut kita gaungkan, sebab akhir-akhir ini, kita kembali disuguhi tragedi tragis pelanggaran kemanusiaan atas konflik Israel-Palestina.

Berbicara soal Palestina bukanlah perjuangan warga yang mendiami wilayah Palestina saja, bukan soal perjuangan umat Islam saja, tapi perjuangan Palestina merupakan perjuangan seluruh umat manusia. Konflik antara Israel-Palestina memang salah satu konflik Timur Tengah yang belum ada ujungnya. Zionisme yang dikampanyekan oleh Theodore Herzl menjadi sebuah embrio yang melahirkan sebuah negara Israel. Meski tak semua warga Israel mendukungnya.

Genderang deklarasi negara Israel yang ditabuh pada 1948 merupakan sebuah penanda bergulirnya bola panas yang menggelinding semakin besar. Klaim Yahudi atas tanah Palestina membuka sebuah lubang yang menganga dan memporak-porandakan tanah Palestina.

Benih-benih Iblis yang telah dibawa oleh tangan-tangan Zionis dari hari ke hari semakin bengis, menindas, tak berperikemanusiaan. Menjadikan mereka lintah-lintah menjijikan yang menghisap ratusan ribu darah rakyat Palestina. Menjadi penghianat atas tetesan darah yang tumpah dari nyawa anak-anak tak berdosa. Mereka meludahi wajah-wajah papa yang haus akan keadilan. Wajah-wajah sudra yang seharusnya hari ini menghirup udara kedamaian.

Mata kita tentu melihat ratapan anak-anak Palestina. Telinga kita tentu mendengar suara rudal yang membombardir bumi Palestina. Mendengar jeritan dan rintihan yang teramat menyayat mereka.

Oleh karenanya melalui momentum Hari Kebangkitan Nasional ini,kita serukan solidaritas global, kita ganungkan perdamaian dunia. Segala yang sedang berkecamuk menghantam bumi Palestina, memang tidak hanya kita renungkan saja. Apalagi kita hanya menontonnya saja. Melainkan, mencari alternatif pencerahan untuk menyepuh segala jelaga hitam. Menghadirkan cahaya di langit Palestina. Pancaran cahaya mata hati meredupkan segala penindasan.

Mungkin jika kita belum mampu, minimal doa-doa sudah sewajibnya senantiasa kita langitkan. Renungkanlah! Kita telah dianugrahi oleh Allah sama’ (pendengaran), bashor (penglihatan), dan fuad (akal dan hati). Refleksikan segala kebenaran yang jernih. Perjuangkanlah keadilan. Redam segala bentuk penindasan.

Ada secarik kutipan menarik dalam sebuah buku berjudul, “From Beirut to Jerusalem Kisah Pengabdian seorang Dokter Perempuan di Kamp Pengungsian Palestina” buah pena Ang Swee Chai (2010). Kutipan pada halaman 465-466 buku ini membuat saya merenung dalam-dalam, sebagai bagian yang tak lekang maknanya oleh waktu untuk selalu diingat, begini bunyinya:

Mereka punya sebuah mimpi. Dan aku berbagi mimpi itu dengan mereka: mimpi tentang sebuah dunia yang tampak jelas di tengah-tengah semburan gas air mata dan reruntuhan yang berasap di kamp-kamp pengungsi. Sebuah dunia tempat seorang bocah sebelas tahun tak perlu belajar cara menggunakan sepucuk Kalashnikov atau mesin peluncur roket untuk membela keluarganya.

Sebuah dunia yang damai, adil, dan aman, tempat aku tak perlu mengatakan kepada seorang anak, “Pergilah ke sekolah” hanya untuk mengetahui bahwa sekolahnya telah dibom, atau mengatakan kepada seorang gadis, “Bantulah ibumu menyiapkan makan malam,” hanya untuk melihatnya kembali kepadaku dan mengatakan bahwa ibu dan keluarganya telah dibunuh.

Sebuah dunia tempat kami tak perlu lagi takut terkubur hidup-hidup di dalam puing-puing. Sebuah dunia tempat aku tak perlu lagi memperbaiki bagian-bagian tubuh yang patah hanya untuk melihatnya dipatahkan lagi, atau memeluk tubuh remuk seorang bocah dengan tanganku dan bertanya, “Mengapa?” atau mendengar orang-orang bertanya, “Berapa lama lagi?”

Sebuah dunia tanpa penjara, tanpa penyiksaan, tanpa rasa sakit, tanpa kelaparan, dan tanpa kartu-kartu identitas pengungsi, tempat aku dapat berteduh di rumahku sendiri dan mendengarkan nyanyian ibuku seraya menutup mata di penghujung hari. Tempat itu adalah mimpi kami, Jerusalem kami.

Dari kutipan tersebut kalau kita relevansikan dengan momentum kebangkitan nasional tentu kita juga harus peka terhadap jeritan-jeritan kemanusiaan. Kita sudah semestinya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan memuliakan sesama manusia.

Facebook Comments