Marwah Dakwah

Marwah Dakwah

- in Suara Kita
1192
0
Marwah Dakwah

Irak porak poranda dalam peperangan pada 2008, negera ini terpecah belah karena sentimen agama dan kebencian antar suku yang dibangun kelompok radikal. Suatu situasi yang sangat bisa terjadi di Indonesia kala makin banyak orang abai akan pentingnya menjaga kedamaian di tengah perbedaan suku dan agama. Apalagi, Indonesia punya ratusan suku dan perbedaan, sebagai “bahan bakar” perpecahan seperti yang telah terjadi di Irak.

Rasa abai itu mulanya muncul karena kejadian, pelaku, dan korbannya bukan di lingkungan sekitar. Merasa bahwa kepicikan berpikir dan kebrutalan bertindak menindas yang lain agama dan suku terjadi jauh di sana dan tak mungkin terjadi di kampung sendiri. Sampai suatu ketika seperti pandemi Covid-19 yang mulanya terasa jauh di Wuhan, tiba-tiba telah sampai di Depok, dan secara mengejutkan sudah sampai di ambang pintu kampung. Virus intoleransi juga mewabah jika tak dicegah.

Dalam How Democracies Die (2018), Steven Letivsky dan Daniel Ziblatt sangat gamblang menggelar tahap demi tahap matinya demokrasi sebuah negara. Ciri awalnya adalah seperti yang saat ini terjadi di Indonesia, yaitu pembiaran terhadap narasi intoleransi yang didengungkan terus menerus baik melalui ceramah tertutup atau ceramah-ceramah di Youtube. Namun persoalannya bukan ceramah keagamaan, tetapi ceramah yang provokatif dan anti keberahaman. Ceramah yang bukan dari landasan ilmu yang mumpuni tetapi sekadar memuaskan keinginan umat akan bahan ceramah yang heboh, bombastis, dan menjatuhkan agama dan kepercayaan lain. Seperti ceramah balon hijau, klepon, Indonesia tanpa pacaran, pohon cemara, dan sejenisnya. Apalagi dengan penuh keyakinan namun tampa memiliki data dan penelitian yang mendalam oknum penceramah sering kali berulang-ulang memainkan narasi kebangkitan Partai Komunis Indonesia.

Pembajakan demokrasi ini sejalan dengan pernyataan Menteri Propaganda NAZI, Paul Joseph Goebbels, “Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya”. Propaganda ini yang hari ini terjadi di Indonesia melalui oknum-oknum penceramah yang tanpa keilmuan namun lantang bersuara narasi-narasi intoleransi. Kelompok oknum-oknum penceramah ini memilik kaitan satu sama lain dengan saling mendukung dengan kolaborasi yang mereka lakukan. Sehingga “bola salju” massa mereka semakin besar. Sayangnya, kolaborasi serupa tidak dilakukan oleh Kyai dan penceramah berkualitas dengan keilmuan yang jelas. Para Kyai dan penceramah hebat ini cenderung masih bergerak sendiri-sendiri, sehingga tidak terjadi efek bola salju terhadap umat.

Tentu saja tanggugjawab tidak hanya pada para tokoh agama tetapi juga orang muda umumnya. Seperti sebuah gerakan aktif tanpa kekerasan yang terjadi di Irak, di tengah peperangan dan kesulitan hidup. Zuhal Sultan, remaja 17 tahun yang mahir bermain piano punya impian membentuk kelompok orkestra pemuda nasional pertama di negaranya. Namun, di tengah peperangan dan kesulitan hidup, tentu banyak orang lebih mengutamakan urusan perut ketimbang hiburan orkestra. Zuhal meyakini, tak banyak pemusik orkestra berkualitas di tengah situasi negaranya, (Blue Ocean Shift, 2017, W. Chan Kim & Renée Mauborgne).

Dengan bantuan internet ia mencoba mengumbar impiannya dan menemukan Paul Mac Alindin, seorang pemuda Skotlandia berpendidikan musik klasik yang kemudian bersedia menjadi dirigen dan setuju memimpin National Youth Orchestra of Iraq (NYOI). Kedua orang ini tak butuh waktu lama untuk meyakini bahwa dengan situasi Irak yang sedang kacau, mereka tak mungkin dapat membentuk kelompok orkestra yang dapat bersaing secara kualitas dengan orkestra pemuda dari negara-negara seperti Prancis, Italia, Spanyol, dan Inggris. Selain kalah dalam keahlian teknis, NYOI juga tak memenuhi syarat membentuk orkestra dengan alat musik berkualitas.

Sebagai gantinya, agar dapat unggul dari kelompok orkestra lain, Zuhal dan Paul malah mengundang kelompok pemusik asli Kurdi dan Arab. NYOI menjadi satu-satunya kelompok orkestra yang dapat mempersatukan laki-laki dan perempuan, Sunni dan Syiah, Arab dan Kurdi. Sehingga NYOI tak sekadar menyajikan musik, tetapi persatuan, harapan, dan masa depan tanpa kekerasan.

NYIO menunjukkan dan menciptakan narasi kepada kaum muda Irak tentang melawan kehancuran, kebencian, dan perpecahan dengan gerakan perdamaian, harapan, dan solidaritas lintas agama, suku, dan bangsa melalui lantunan musik orkestra. Musik yang tak hanya menyatukan nada dan irama, tetapi juga menyatukan perbedaan menjadi keindahan.

Sebagian kelompok orang di Indonesia menyebut hal yang mirip dengan NYOI sebagai penistaan agama. Para Suster, Pendeta, dan tokoh agama lain yang menyanyikan lagu-lagu khas Ramadan sebagai ucapan syukur atas hari kemenangan bagi umat Islam dituduh menghina, dituduh pula membuat ucapan tersebut supaya saat gilirannya dibalas juga oleh umat Islam. Inilah yang sebelumnya dikatakan sebagai virus intoleransi sudah di ambang kampung, bukan lagi jauh di Irak. Sebab sebuah ajakan persatuan dan mencintai saudara sebangsa yang berbeda keyakinan dituduh sebagai penghinaan.

Pertengahan maret lalu setelah menjalani puasa 40 hari, umat Kristiani dipaksa menjalankan Hari Raya Paskah dengan berefleksi di rumah tanpa perayaan ekaristi yang biasanya meriah di gereja-gereja. Pada 7 Maret lalu juga saudara kita penganut Buddha menjani Hari Raya Waisak dalam kesunyian batin. Demikian juga umat Islam menjalani masa puasa dan Hari Raya Idul Fitri dengan cara yang amat sangat berbeda. Tak ada keceriaan hari raya, kearaban dibatasi jarak, sapaan hanya lewat suara dan gambar. Semua anak bangsa Indonesia, tak peduli apa agamanya, sukunya, kaya atau miskin, baik atau jahat, semua dirundung perkara yang sama – Covid-19.

Ada perubahan mendasar terhadap cara kita beragama, untuk itu lahirlah pula cara-cara baru dalam beragama, diataranya ajakan untuk memenangkan seluruh anak bangsa Indonesia dengan solidaritas tanpa sekat. Intorensi d tengah Covid-19 juga menjadi saat yang paling baik untuk menyapa tetangga, saudara yang membutuhkan, teman yang kesulitan. Karena tak ada satu agama dan suku sekalipun yang menghendaki kita mengabaikan yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel.

Facebook Comments