Me-Merah Putihkan Dunia Maya di Tengah Gempuran Terorisme

Me-Merah Putihkan Dunia Maya di Tengah Gempuran Terorisme

- in Narasi
395
0
Me-Merah Putihkan Dunia Maya di Tengah Gempuran Terorisme

Di tengah euforia ulang tahun NKRI ke-78, ternyata masih saja terdapat oknum teror. Terorisme agaknya lebih daripada sekadar bertahan di Indonesia, tetapi sudah mengakar. Data dan indikator menunjukkan, organisasi, kelompok, dan sel terorisme masih sangat aktif menggalang kekuatan serta melakukan aksi terorisme. Sebut saja, kasus yang masih hangat kemarin, penggerebekan terduga teroris di Bekasi, pada Senin, 14 Agustus 2023.

Menurut Brigadir Jenderal Ahmad Ramadhan—Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri—bahwa teroris tersebut berinisial DE. DE adalah salah satu pendukung ISIS yang sanagat aktif dalam propaganda di media sosial untuk menyeru jihad melalui Facebook. Lebih parahnya adalah, DE merupakan seorang pegawai PT KAI dan menyimpan berbagai senjata laras panjang serta masih banyak lagi.

Tak steril

Diakui atau tidak, salah satu masalah yang menantang pengembangan kehidupan berdemokrasi di Indonesia sejak 2000-an adalah meningkatnya sikap intoleransi agama dan diskriminatif di masyarakat sipil (Hamayotsu, 2013; Mietzner, 2018). Meski kebebasan telah diperluas di banyak bidang, termasuk media massa, sikap intoleran dan radikalisme tetap menjadi masalah di Indonesia.

Menurut Hamayotsu (2013), dua faktor berkontribusi terhadap meningkatnya pengaruh kelompok garis keras atau gerakan radikalisme agama dan intoleransi agama. Pertama, akses garis keras tak hanya meluas ke dunia maya, tetapi yang lebih penting, cara tradisional dan lembaga untuk mobilisasi agama dan politik, termasuk aparatur negara, untuk menumbuhkan sentimen dan sikap antagonis terhadap apa yang mereka anggap musuh Islam dalam komunitas Muslim sambil menyebarluaskannya interpretasi sempit dan dogmatis tentang Islam.

Kedua, munculnya politisi Muslim konservatif yang siap dan bersemangat merangkul media baru dan teknologi komunikasi sambil menggunakan kantor negara dan hak prerogatif untuk memajukan visi dan agenda keagamaan konservatif.

Duile & Bens (2017) menyatakan, halangan utama dalam praktik demokrasi di Indonesia tak berasal dari masalah-masalah institusional, tetapi muncul dari diskursus politik yang berkuasa dan memaksakan konsensus yang luas dan harmonis dalam sebagian besar isu-isu politik.

Diskursus politik di Indonesia terstruktur secara umum di sekeliling ”Islam” dan ”masyarakat”. Tema-tema ini memberikan basis konsensus politik yang menutupi kontradiksi ekonomi dan sosial dan mengungkapkan depolitisasi dalam praktik demokrasi.

Seperti diketahui, Indonesia negara dengan agama beragam, tetapi memiliki penganut Muslim terbanyak di dunia. Agama dan kepercayaan memainkan peran penting dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dan merupakan bagian dari identitas individu dan identitas bangsa (Colbran, 2010). Toleransi beragama, transformasi demokratis, dan penggalakan hak asasi manusia adalah nilai yang telah dikembangkan dan menjadi kebanggaan sendiri bagi Indonesia.

Me-Merah Putihkan Dunia Maya

Maka dari itu, untuk menangulangi penyebaran paham terorisme di dunia maya perlu membanjirinya dengan konten-konten positif dan menarik yang bersifat nasionalisme. Misal, penggunaan konten berbentuk meme kartun dan vidio singkat yang menarik, diperuntukan bagi anak-anak. Sedangkan untuk kalangan intelektual, lebih cocok ketika tulisan tersebut bermakna dalam dan filosofis.

Melihat realitas demikian, maka dirasa penting untuk membumikan semangat “merah putih” di dunia maya. Mari kita bersatu padu untuk mewujudkan dunia maya yang aman dan tentram. Sekaranglah waktunya bagi kita untuk bergerak menyebarkan pesan-pesan positif, damai, dan bernuansa persatuan. Sebab, kontribusi kita dalam menyebarkan pesan-pesan tersebut, berarti kita telah berpartisipasi aktif dalam mewujudkan Indonesia damai, aman, dan tentram.

Facebook Comments