Memahami Perjuangan Palestina dalam Perspektif Nasionalisme, Bukan Khilafahisme

Memahami Perjuangan Palestina dalam Perspektif Nasionalisme, Bukan Khilafahisme

- in Narasi
478
0
Memahami Perjuangan Palestina dalam Perspektif Nasionalisme, Bukan Khilafahisme

Konflik antara Hamas dan Israel kembali pecah di kawasan Gaza. Bermula dari serangan mendadak Hamas terhadap warga sipil Israel di sebuah festival musik. Sejumlah pasukan Hamas menerobos ke Israel dengan menggunakan paralayang.

Milisi Hamas itu menumpahkan tembakan ke pengunjung. Dari video yang beredar di dunia maya, banyak warga sipil tewas, sejumlah lainnya diculik oleh tentara Hamas. Tidak hanya itu, Hamas pun membombardir Israel dengan roket. Sistem pertahanan anti-rudal Israel yang dikenal canggih pun tidak mampu sepenuhnya menangkal serangan tersebut.

Belakangan, Israel mengirim serangan balasan. Roket balasan diluncurkan menuju Gaza. Pemerintah Israel bahkan mengultimatum warga Gaza agar meninggalkan wilayah tersebut. Konon, Israel merencanakan serangan darat besar-besaran ke kota yang dikuasai oleh milisi Hamas tersebut.

Membincangkan Palestina dan Israel seolah memang tidak pernah bisa lepas dari lingkaran setan konflik. Konflik tersebut memang memiliki sejarah yang panjang dan kompleks. Dari permukaan, konflik Palestina dan Israel seolah merupakan konflik agama. Namun, nyatanya tidak demikian.

Konflik tersebut sebenarnya kompleks dan melibatkan banyak pihak. Belakangan, Palestina dan Israel telah menjadi proxy kekuatan Barat (Amerika dan sekutunya) dan Timur (China, Rusia). Konflik Palestina dan Israel telah menjadi ajang pertempuran dn ideologi yang melibatkan sejumlah pihak yang berebut dominasi di panggung ekonomi dan politik dunia.

Peta Politik Global di Balik Isu Palestina-Israel

Memahami peta politik global di balik konflik Palestina ini. Tersebab, sebagai negara muslim terbesar di dunia, Indonesia kerap secara tidak langsung terseret dalam pusaran konflik tersebut. Tidak hanya itu, konflik Palestina dan Israel juga kerap dieksploitasi oleh kelompok radikal-ekstrem untuk mendeskreditkan pemerintah sekaligus mengampanyekan isu khilafah.

Saban kali terjadi eskalasi konflik dan kekerasan antara Palestina dan Israel, bisa dipastikan isu khilafah akan santer digaungkan. Narasinya selalu sama; yakni bahwa selama khilafah belum tegak, maka selama itu pula umat Islam akan mengalami penindasan dan dikendalikan oleh kekuatan Barat.

Kelompok radikal pun memelintir fakta perjuangan Palestina sebagai jihad mendirikan khilafah. Klaim itu cenderung ahistoris. Bagaimana tidak? Sejak awal, perjuangan Palestina melawan Israel dilatari oleh upaya mempertahankan tanah air atas aneksasi Israel. Perjuangan rakyat Palestina melawan Israel merupakan bentuk konfrontasi dalam rangka mempertahankan kedaulatan teritorial.

Ditinjau dari sistem politik dan pemerintahannya, Palestina merupakan negara republik parlementer yang dikepalai oleh seorang Perdana Menteri. Sedangkan dilihat dari demografi keagamaan, warga Palestina tidak hanya beragama Islam, namun ada pula yang beragama Kristen, Katolik, dan Koptik.

Jika melihat realitas tersebut, perjuangan rakyat Palestina melawan Israel lebih merupakan bentuk nasionalisme dan patriotisme ketimbang khilafahisme. Perubahan rakyat Palestina lebih didasarkan pada kecintaan terhadap tanah air, bukan perjuangan menegakkan kekuasaan imperium Islam dengan cakupan wilayah global. Maka, upaya memelintir perjuangan nasionalisme Palestina ke dalam isu khilafahisme adalah sebuah tindakan yang absurd sekaligus berbahaya. Mengapa berbahaya?

Bahaya Penyelundupan Isu Khilafahisme dalam Perjuangan Palestina

Di satu sisi, klaim kelompok radikal yang menyebut perjuangan rakyat Palestina melawan Israel sebagai jihad mendirikan khilafah justru menodai spirit perjuangan itu sendiri. Dengan memasukkan isu khilafah ke dalam perjuangan rakyat Palestina, itu sama saja dengan menggembosi perjuangan mereka dari dalam.

Penyelundupan isu khilafah dalam perjuangan rakyat Palestina melawan Israel tentu menodai spiri perjuangan sekaligus melukai hati rakyat Palestina. Tidak hanya itu, narasi manipulatif itu juga rawan menimbulkan sikap anti-pati umat Islam dan komunitas internasional terhadap perjuangan rakyat Palestina.

Kedua, narasi palsu bahwa perjuangan rakyat Palestina adalah jihad mendirikan khilafah Islamiyyah berpotensi melahirkan jaringan terorisme lintas negara (foreign terrorist figthers). Munculnya klaim bahwa perang di Palestina adalah konflik Islam-Yahudi dan upaya menegakkan khilafah Islamiyyah akan mendorong para eksponen gerakan radikal-teror dari berbagai negara untuk datang ke wilayah konflik tersebut.

Hal ini berpotensi melahirkan para teroris lintas negara yang mengancam keamanan teritorial bahkan global. Kekhwatiran ini jelas bukan berlebihan. Hal yang sama pernah terjadi ketika ISIS mendeklarasikan kekhalifahan Islam yang berpusat di Irak dan Suriah.

Keberadaan ISIS telah memancing sejumlah orang dari banyak negara untuk bergabung menjadi pejuang dengan imin-iming kesejahteraan dan hidup di bawah naungan sistem Islam. Sekarang, seperti kita lihat pasca kehancuran ISIS, mantan pejuangnya justru banyak menjadi teroris lintas negara yang menebar teror dan kekerasan di banyak negara. Mengerikan bukan?

Maka, menempatkan perjuangan rakyat Palestina sebagai bagian dari spirit nasionalisme sangatlah krusial. Hal itu penting agar persoalan pokok Palestina yakni tentang kedaulatan teritorial itu tidak tertutupi oleh isu ideologis seperti khilafahisme. Menempatkan perjuangan Palestina dalam kerangka nasionalisme bukan khilafahisme juga penting untuk mencegah mewabahnya fenomena pejuang teroris lintas negara yang menebar ancaman teror dalam skala global.

Facebook Comments