Membongkar Aksi Bom Bunuh diri dengan Teori Suicide

Membongkar Aksi Bom Bunuh diri dengan Teori Suicide

- in Narasi
676
0
Membongkar Aksi Bom Bunuh diri dengan Teori Suicide

Saya rasa, kita tidak bisa melepaskan teori sosial Emile Durkheim layaknya teori Suicide (bunuh diri) di dalam melihat “penyimpangan” atas fenomena bom bunuh diri itu. Dalam konteks ini, Durkhaim melihat perilaku bunuh diri itu ada semacam kecenderungan individu, realitas keputusasaan dan melepaskan diri dari norma sosial.

Kita tahu banyak umat Islam yang mengecam atas perilaku zhalim yang semacam itu. Sebab, hal ini sangatlah sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Emile Durkheim, bahwa agama pada dasarnya sebagai “keyakinan kolektif” yang mengikat individu. Hingga melahirkan kecenderungan kolektif membangun sebuah tindakan yang sama dan disepakati.

Artinya apa? tidak ada kebenaran agama yang melahirkan kecenderungan individu melakukan tindakan yang bisa merusak tatanan sosial layaknya bom bunuh diri itu. Kebenaran agama akan melahirkan (perenungan kolektif) atas “realitas yang Tunggal” atas kesadaran afektif di balik individu-individu itu.

Mengapa umat Islam secara keseluruhan diperintahkan melakukan shalat? Mengapa tidak ada yang menantang ini? karena semua sepakat atas sebuah nilai yang mendasari fungsi shalat yang mengacu ke dalam wilayah anil fahsya’ iwal mungkar. Bahwa, shalat kita akan menghindarkan diri kita dari angkara murka serta keburukan lainnya.

Lahirnya kecenderungan kolektif di dalam agama sejatinya menjadi satu kesadaran penting, bahwa perilaku bom bunuh diri sebetulnya lahir dari kecenderungan individu yang tidak berdasar pada nilai agama. Karena jelas, banyak yang menantang atas perilaku yang semacam itu. Sebab, perilaku bom bunuh diri membangun regulasi tindakan yang menantang norma sosial dan ini tidak akan pernah dibenarkan.

Selain itu, Emile Durkheim melihat satu kondisi bahwa orang yang melakukan bom bunuh diri sebagai situasi “penuh keputusasaan” dalam hidup. Teori bunuh diri Suicide yang digagas Durkheim memang tidaklah mengacu ke dalam fakta tentang bom bunuh diri bermodus agama seperti yang kita ketahui saat ini. Tetapi lebih condong melihat fakta sosial terkait fenomena individu atas pelaku bom bunuh diri.

Dalam konteks keputusasaan, pelaku bom bunuh diri memanglah patut kita klasifikasikan ke dalam sebuah kondisi yang meniscayakan dirinya untuk mengakhiri hidupnya. Tentu, kita tidak bisa memprediksi situasi-kondisi sang pelaku bom bunuh diri itu sedang dihadapkan dengan ekonomi atau-pun keluarga yang bermasalah.

Cuman, satu-satunya bentuk acuan yang paling kokoh untuk melihat pelaku bom bunuh diri jelas tidak bisa kita lepas dari kondisi “keputusasaan” diri seseorang untuk hidup itu. Dalam kondisi ini, fenomena bom bunuh diri dengan mengatasnamakan jihad, memerangi kafir dan lain sebagainya itu mutlak sebagai (pelampiasan) dirinya untuk merayakan sebuah kematian yang dianggap akan indah dan penuh kebahagiaan itu.

Kenyataan ini adalah fakta penting di balik perilaku bom bunuh diri itu. Selain pola kecenderungan individu, melepaskan norma sosial, juga ada semacam kondisi di mana seseorang mengalami keputusasaan dalam hidup. Sebab, Saya bukan orang yang apatis terhadap pengaruh agama di dalam menghilangkan akal sehat manusia karena agama dapat diekspresikan kebenaran-Nya dengan akal sehat kita.

Kondisi yang semacam inilah, mengapa Saya katakan bahwa bom bunuh diri itu hanya dilakukan oleh mereka yang tidak memiliki akal sehat dalam beragama. Jadi, kalau kita kembali ke paradigma awal terkait perilaku bom bunuh diri, kita bisa memahami ini sebagai sebuah tindakan yang tidak mengacu ke dalam kesadaran kolektif atas kebenaran agama dan melanggar nilai sosial serta ada upaya doktriner kezhaliman untuk melakukan tindakan bom bunuh diri dengan memanfaatkan kecenderungan individu dalam melakukan hal konyol yang semacam itu.

Facebook Comments