Menghadirkan Kembali Nilai-Nilai Dakwah Walisongo di Era Destruktif Umat Beragama

Menghadirkan Kembali Nilai-Nilai Dakwah Walisongo di Era Destruktif Umat Beragama

- in Narasi
1381
0
Menghadirkan Kembali Nilai-Nilai Dakwah Walisongo di Era Destruktif Umat Beragama

Akhir-akhir ini, semakin marak komentar saling hujat antar pemeluk agama. Seperti caci maki, saling tuduh, saling menyesatkan, bahkan sering pula ada ancaman pembunuhan gegara beda agama atau pandangan politik. Hal menjadikan umat beragama berdiaspora, saling merapatkan barisan kelompoknya masing-masing sembari persiapan jika ada serangan mendadak dari kelompok lain.

Demo ‘penggal’ kepala Ahok pada tahun 2018, bom bunuh diri oleh teroris di dekat kompleks pos polisi di Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat, pembantaian terhadap Jemaat Kristen di Sigi, Sulawesi Utara, serta yang kemarin baru terjadi penyerangan terhadap polisi yang bertugas di Tol Cikampek-Karawang yang diduga dilakukan oleh FPI (Front Pembela Islam). Semua Itu adalah serangkaian kekerasan yang berlatarbelakang agama.

Kenapa hal-hal di atas bisa terjadi? Bukankah masing-masing agama mengajarkan kasih sayang dan toleransi? Bukankah setiap agama mewajibkan sesama manusia untuk saling tolong-menolong bukan malah saling menyakiti?

Terlebih dari serentetan kejahatan yang terjadi, kebanyakan dilakukan oleh orang-orang yang mengaku beragama Islam. Hal itu tentu sangat menodai agama Islam sendiri, yang pada inti ajarannya untuk saling mengasihi dan merahmati.

Jika menilik sejarah masuknya Islam ke tanah Jawa, maka akan didapati bahwa Islam masuk dan tersebar di Pulau Jawa dengan tenang dan damai. Islam yang disebarkan oleh Walisongo ini, dapat merangkul masyarakat Jawa yang mayoritas beragama Hindu dan Buddha untuk masuk agama Islam. Mereka berislam bukan karena terpaksa atau takut terhadap ancaman, tapi karena dari dakwah Walisongo sendiri yang bersahabat dan menarik.

Dakwah dengan Santun dan Suri Tauladan yang Baik

Sama halnya seperti ketika Nabi Muhammad SAW berdakwah, Walisongo juga mengutamakan dakwah bil hal atau bil mauidzah khazanah. Maksudnya, ketika mengajak orang Jawa untuk memeluk Islam, Walisongo mempraktikkan akhlak-akhlak terpuji. Dengan tata kata yang bijak, wajah penuh senyum, ramah, serta gemar membantu. Lama-kelamaan, orang Jawa akan menghormati sehingga menjadi tertarik dengan agama yang didakwahkannya.

Orang-orang kemudian mengenal Islam sebagai agama yang damai, agama yang mengajarkan toleransi dan saling menyayangi. Tak pelak, masyarakat Jawa pun tertarik masuk Islam karena ajaran agamanya yang menenteramkan hati.

Dakwah dengan Budaya

Semua Walisongo, ketika mengenalkan Islam selalu menggandeng lokalitas budaya Jawa. Hal ini dilakukan untuk memudahkan masyarakat Jawa dalam mengenal Islam. Seperti dengan gending-gending Jawa, tembang Macapat, syiir-syiir, pertunjukan teater, wayang, dan serangkaian budaya seperti nyadran, sekaten, atau upacara-upacara adat lainnya.

Budaya-budaya yang diajarkan Walisongo, diselingi dengan muatan nilai religius Islam. Budaya asli Jawa yang bertentangan dengan Islam dihilangkan. Sedangkan yang sealur atau tidak menabrak kaidah Islam, maka tetap dipertahankan. Hal itu kemudian membentuk akulturasi antara budaya Jawa dengan Islam. Oleh karena itu, masyarakat Jawa mau mengamalkan budaya ‘bentukan’ Walisongo ini, karena nilai-nilai luhur budaya Jawa tetap ada.

Politik yang Merangkul

Sudah masyhur jika Walisongo banyak menikahi putri-putri Raja Jawa kala itu. Apa yang dilakukan Sunan Ampel dengan menikahi Nyi Ageng Manila (putri Tumenggung Wilatikta) dan Maulana Ishak dengan putri Blambangan, adalah dalam rangka dakwah lewat kekeluargaan di kalangan bangsawan. Atau seperti yang dilakukan Syekh Quro, yang menikahkan putrinya dengan Prabu Siliwangi, Raja Kerajaan Padjadjaran, sehingga melahirkan putra-putri mahkota yang beragama Islam.

Juga berdirinya Kerajaan Islam Demak tak lepas dari bagaimana Raden Patah sebagai putra dari Raja Majapahit, yang kala kecil sampai dewasa mendapat pendidikan Islam oleh Walisongo. Sehingga ketika dewasa berhasil mendirikan kerajaan Islam, tanpa ada peperangan dan pertumpahan darah dengan bangsawan atau penduduk Kerajaan Majapahit sendiri.

Semua hal di atas adalah contoh dari pendekatan Walisongo secara politik yang merangkul. Mereka langsung mengambil hati pimpinannya. Jika seorang raja dari kerajaan telah memeluk Islam, maka seluruh anggota dan penduduk kerajaannya secara otomatis akan berbondong-bondong masuk Agama Islam.

Jika kita cermati dari tiga poin dakwah di atas, sama sekali tidak ditemukan dakwah Walisongo dengan kekerasan dan pertumpahan darah. Masyarakat Jawa masuk Islam dengan sukarela dan rasa ketertarikan yang tinggi. Hal itu sangat berbeda dengan zaman sekarang. Bagaimana ustaz-ustaz ‘dadakan’ yang sering berkoar-koar dari mimbar ke mimbar, dengan segala amarah, provokasi, dan perasaan benar sendiri, seringkali menghujat hanya gara-gara beda pandangan politik atau pengambilan hukum fiqhnya. Jika dakwah-dakwah model ini masih dilakukan, maka dalam jangka waktu yang akan datang, Indonesia akan pecah dengan terjadinya perang saudara dan perang antar agama.

Facebook Comments