Menguatkan Prinsip Dakwah Nusantara Ala Prof Quraish Shihab

Menguatkan Prinsip Dakwah Nusantara Ala Prof Quraish Shihab

- in Narasi
1605
0
Menguatkan Prinsip Dakwah Nusantara Ala Prof Quraish Shihab

Pada 27 Januari 2020, beliau Prof. Dr. H. Muhammad Quraish Shihab, Lc., M.A. menerima bintang tanda kehormatan tingkat pertama dalam bidang ilmu pengetahuan dan seni dari pemerintah Mesir. Dalam konferensi internasional tentang pembaharuan pemikiran Islam di Al-Azhar, beliau diberikan penghargaan oleh President Mesir Abdul Fattah said Hussein Khalil as-Sisi yang diwakili oleh Perdana Menteri Mesir yaitu Musthafa Madbouli. Beliau (Prof Quraish Shihab) adalah sosok cendikiawan muslim, mufasir, sekaligus pendakwah yang dianggap berjasa di dalam melakukan pembaharuan di bidang pemikiran Islam dan penyebaran akan nilai-nilai Islam yang lebih (moderat dan toleran).

Beliau termasuk ustadz atau pendakwah yang paling berpengaruh baik di dunia Islam di Indonesia maupun dunia secara umum. Hal ini menjadi semacam teladan bagi kita semua. Terutama yang aktif mendakwahkan nilai-nilai agama di berbagai platform media maya yang “kadang” sering terjebak ke dalam kebencian, fitnah, provokatif dan tidak bersahabat dengan mereka yang berbeda keyakinan. Tentu dari kecerobohan ini kita perlu memfokuskan akan dakwah-dakwah yang arahnya pembaharuan Islam yang lebih baik dan relevan di tengah tantangan zaman. Serta membumikan nilai-nilai agama yang moderat dan toleran terhadap mereka yang berbeda agama.

Ada enam paradigma bagi seorang pendakwah yang harus dilakukan. Sebagaimana beliau (Prof Quraish Shihab) geluti selama kurang lebih setengah abad dalam hidupnya yang selalu konsisten membumikan nilai-nilai Islam yang mencerahkan, menyenangkan, menyejukkan hati, membawa maslahat ke pada seluruh umat.

Pertama, pentingnya kompetensi dalam berdakwah. Tentu hal ini sangatlah penting untuk tidak hanya sekadar (membentuk statement) yang kadang condong lebih mengedepankan asumsi, pernyataan yang kadang keliru dan bahkan menjelek-jelekkan yang lainnya. Kompetensi dalam berdakwah ini sejatinya tugas seorang pendakwah adalah benar-benar (muthola’ah) terhadap materi dakwah yang akan disampaikan. Menganalisis, mempertimbangkan ungkapan yang sekiranya tidak membawa kemudharatan serta menitik berat-kan kepada kebaikan dan meninggalkan keburukan.

Kedua, Pentingnya memahami tentang dakwah sebagaimana dalam arti dari dakwah adalah mengajak, bukan sekadar memberi pemahaman. Dimensi dakwah yang menjadi prinsip di dalam mengajak umat ke dalam kebaikan adalah menekankan hal-hal yang sifatnya ajakan, bukan tentang paksaan. Sebagaimana dalam al-Qur’an dijelaskan bahwa (ajaklah dengan hikmah dan kebaikan). Karena bagi beliau, dakwah pada hakikatnya bukan bualan, tetapi ajakan untuk membimbing umat ke jalan yang benar, bukan mengajak umat ke jalan yang salah seperti berbuat kerusakan.

Ketiga, tolak ukur dari sukses-nya seorang pendakwah di dalam berdakwah pada hakikatnya di lihat apakah itu bisa membekas ke hati atau tidak. Karena dalam point ini, tugas seorang pendakwah adalah menyadarkan umat. Bukan hanya sekadar paham dan tidak ada satu-pun yang membekas dalam dirinya. Karena sesuatu yang membekas itulah yang akan menjadi sumbu kesadaran. Maka, sangatlah penting untuk dakwah yang penuh dengan kesantunan bukan kebencian. Karena kebencian justru akan menumbuhkan karakter umat yang buruk.

Keempat, membangun kedekatan antara pendakwah dengan yang didakwahi. Artinya harus membentuk semacam pendekatan internalisasi psikologis yang sifatnya egalitarian dan kesetaraan. Hal ini menjadi semacam “progresivitas” ajakan yang multidisciplinary yang arahnya kepada pembentukan karakter universal yang tidak membeda-bedakan satu sama lainnya. Artinya, sangat penting mendewasakan diri antara pendakwah dan yang didakwahi haruslah membangun hubungan yang erat. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW selalu menyatakan kepada mereka yang didakwahi sebagai sahabatnya.

Kelima, pendakwah tidak hanya mengetahui teks, tetapi juga konteks. Hal ini sangatlah penting bagi seorang pendakwah untuk memahami suatu dalil tidak hanya berdasarkan luarnya saja. Tetapi harus memahami apa isi, maksud dan esensi di balik teks tersebut untuk dijadikan sandaran. Agar tidak terjebak ke dalam adagium dalil yang akan berdampak kepada kesesatan di dalam memahami akan pesan yang ada dalam dalil itu sendiri.

Keenam, adalah pentingnya pendakwah yang berwawasan washatiyah, yaitu moderat. Seperti bagaimana pandangan Islam tentang kerukunan dan lain sebagainya. Hal in haruslah menjadi semacam “paradigma” di dalam mengajak umat untuk mengatasi setiap persoalan. Bukan justru berbuat persoalan baru. Misalnya seperti kesadaran untuk mencintai tanah airnya dan memiliki sikap menghargai satu sama lainnya. Sehingga, tugas seorang dakwah adalah merekonstruksi keduanya untuk bisa menekankan aspek titik temu dan sinkronisasi ke dalam nilai-nilai agama itu sendiri. Seperti dalam Islam, mencari dalil yang mengenai pentingnya cinta tanah air serta kesadaran untuk menghargai keragaman sebagai rahmat.

Sehingga, prinsip dakwah yang diberikan oleh beliau (Prof Quraish Shihab) mampu membentangkan nilai-nilai agama yang benar-benar membawa manfaat bagi peradaban dan kemaslahatan umat. Karena beliau selalu memiliki prinsip pemahaman bahwa keragaman sejatinya adalah rahmat-Nya yang harus kita jaga dengan baik, bukan dihancurkan. Karena kita semua tidak memiliki otoritas akan hal itu. Karena tugas seorang pendakwah adalah mengajak, bukan memaksakan kehendak. Itu pun harus sesuai dengan cara Nabi Muhammad SAW di dalam mendakwahkan nilai-nilai Islam yang penuh dengan lemah-lembut, sopan, tanpa kekerasan dan menggembirakan tanpa menegasi akan keragaman yang ada.

Facebook Comments