Menjadi Radikal karena Perangkat Digital

Menjadi Radikal karena Perangkat Digital

- in Keindonesiaan
1981
0

Futurolog Alvin Toffler pada tahun 1980 telah meramalkan gelombang ketiga pembaharuan peradaban manusia yang ditandai dengan lahirnya masyarakat informasi dan komunikasi melalui teknologi. Teknologi mutakhir melalui jaringan internet, dewasa ini, bisa dikatakan hampir mencapai titik puncak peradaban manusia dalam bidang informasi dan komunikasi. Tiada batasan, tiada jarak, dan tiada hambatan waktu. Dunia dalam gengaman dan perubahan bisa ditentukan dengan sekedar “klik”.

Ketika dunia terasa sempit, proporsi bergaul manusia di dunia nyata dan dunia maya hampir berimbang. Kita sehari-hari tidak hanya menyapa tetangga samping rumah kita, tetapi juga rajin menyapa tetangga kita yang berada di satu area yang disebut Marshall McLuhan dengan desa global (global village). Karenanya, pengaruh internet sangat besar terhadap kehidupan manusia di berbagai aspek. Internet tidak hanya bersama kita, tetapi juga merubah cara kita bekerja, cara kita bermain, cara kita hidup bahkan cara kita bersikap dan menjalani hidup.

Sebesar itukah ketergantungan dan kecanduan manusia di dunia maya? Dikutip dari Domo Data Never Sleep, 2015, data secara global setiap menit ada 4.2 juta posting di facebook, ada 3 juta tweet di tiwitter, ada 1.7 juta foto di Instagram, 300 jam konten baru di youtube. Dari data tersebut bisa dipastikan setiap menit terdapat jutaan informasi dan konten yang bisa dinikmati di dunia maya.

Menurut data dalam negeri yang bersumber dari Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) 2015 bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 88.1 juta orang atau mengalami kenaikan 34.9 % dari tahun sebelumnya dengan proporsi 51 % perempuan dan 49 % laki-laki. Dilihat dari sebaran wilayah para pengguna internet masih didominasi di pulau Jawa-Bali sebesar 52 %.

Selanjutnya apabila kita melihat frekuensi penggunaan internet, 84 % menggunakan sekali sehari. Dari data ini, masyarakat tidak akan pernah berpisah sehari dengan internet. Artinya, internet telah menjadi kebutuhan sehari-hari layaknya makanan. Bahkan dari aspek durasi, rata-rata lama mengakses internet sehari 37.7 % selama 1-3 jam dan 23.3% selama 30-1 jam dan hanya 6.3% yang mengakses kurang dari 30 menit.

Durasi masyarakat mengakses internet disebabkan mudahnya mereka dalam menggunakan perangkat internet. Dari penggunaan perangkat 85 % masyarakat mengakses internet menggunakan telpon seluler, 32 % menggunakan % laptop/netbook, 14 % menggunakan PC/computer dan 13 % menggunakan tablet.

Melihat data tersebut ada kekhawatiran tersendiri. Sudahkah kita sadar dengan aspek keamanan kita di dunia maya? Adakah jaminan anak kita tidak terpengaruh dengan berselancar tanpa kontrol di dunia maya?

Terorisme di Dunia Maya

Karena sebagai kebutuhan sehari-hari masyarakat, internet adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat. Internet pada akhirnya tidak hanya menjadi sumber informasi dan pengetahuan, tetapi juga sumber nilai dan sumber pembentukan sikap dan mental. Dan semestinya para pengguna media internet harus terlebih dahulu mempunyai pondasi nilai, norma dan etika yang kuat, sebelum dia bertemu nilai-nilai baru dari dunia maya.

Ketika kita kosong dengan pondasi nilai dan norma yang kuat, tetapi hanya menguras pengetahuan dan nilai dari berbagai sumber di dunia maya dikhawatirkan internet menjadi media baru yang membuat orang menjadi berubah sikap, mental, dan kepribadian. Salah satunya adalah perubahan sikap karena pengaruh paham radikalisme dan terorisme.

Mungkinkah menjadi radikal karena dunia maya? Sebelumnya dunia belum terlalu memberikan perhatian lebih terkait proses radikalisasi di dunia maya.  Atas Kejadian teror terbaru di Orlando, Presiden AS Barrack Obama mengatakan pelaku teror akibat proses radikalisasi secara online.

Di Indonesia, radikalisme pola baru sejatinya bukan hal baru. Agus Abdillah (kasus Beji), yang tertangkap pada 17 September 2012, dalam fakta persidangan mengaku merasa terpanggil untuk berjihad setelah belajar melalui internet  Fungki Isnanto, pelaku teror bom di Lumajang pada 1 Juni 2013 bahkan mengaku mempelajari cara membuat bom dan merencanakan pengembomannya melalui internet. Begitu pula lima Remaja SMK asal Klaten mengaku belajar merakit bom dari website forum al-busyro.

Mungkin kita masih ingat dengan Judi Novaldi bin Mulyadi, pemuda asal Jambi, yang mengancam ayahnya Mulyadi (47) dan menyandera adiknya Maulana (6). Polisi menemukan atribut ISIS. Novaldi mengatakan termotivasi dan membeli atribut yang biasa digunakan ISIS melalui informasi di jejaring sosial.

Dari fakta-fakta di atas dan sebenarnya banyak kasus lain yang membuktikan dunia maya sebagai arena baru bermain masyarakat juga merupakan arena baru para kelompok teror menebar propaganda dan melakukan perekrutan. Dunia maya sebagai sumber baru masyarakat mempercayakan informasi dan pengetahuannya, juga merupakan sarana kelompok teror menebar pengaruh dan ajakan.

Penyebaran paham-paham radikal dan propaganda bahkan teknik-teknik melakukan teror dapat diperoleh dengan mudah di internet. Jika tidak bijak dan cerdas bermain dan bergaul di dunia maya, jangan heran jika harus dikatakan bahwa perangkat internet merupakan katalisator tindak terorisme.

Jangan terburu-buru mengambil dan menyimpulkan informasi dari internet. Bukalah wawasan dan selalu terbuka dengan teman di dunia nyata. Jangan biarkan dunia maya mengisolasi kehidupan kita dari dunia nyata. Dan terpenting, kuatkan pondasi nilai dan norma, sebelum kita berhadapan dengan nilai dan norma baru di dunia maya.

Ayo Cerdas di Dunia Maya

Facebook Comments