Menyoal Sekolah Sunnah; Ketika Pendidikan Agama Mengajarkan Eksklusivisme dan Anti-Nasionalisme

Menyoal Sekolah Sunnah; Ketika Pendidikan Agama Mengajarkan Eksklusivisme dan Anti-Nasionalisme

- in Narasi
318
0
Menyoal Sekolah Sunnah; Ketika Pendidikan Agama Mengajarkan Eksklusivisme dan Anti-Nasionalisme

Antusiasme orang tua dalam memberikan pendidikan keagamaan pada anaknya memang terbilang tinggi. Tanpa melihat hasil survei, kita sebenarnya bisa melihat fenomena itu secara kasat mata. Misalnya, tumbuh pesatnya sekolah berlabel Islam Terpadu (IT) dari jenjang PAUD hingga SMA.

Keberadaan sekolah IT itu kini bahkan lebih banyak ketimbang sekolah negeri. Tidak cukup sampai di situ, dalam beberapa tahun belakangan, dunia pendidikan kita diwarnai oleh sebuah fenomena baru, yaitu munculnya “Sekolah Sunnah”.

Sekolah sunnah adalah lembaga pendidikan yang diklaim sesuai ajaran Nabi Muhammad Saw. Secara kurikulum sekolah sunnah sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sekolah IT. Misalnya porsi pelajaran agama yang banyak, juga kewajiban menghafal Al Quran, hadist, dan teks keagamaan lainnya.

Namun, yang membedakan adalah dari praktik belajar mengajar sehari-hari. Di sekolah sunnah, murid dipisah ruangannya berdasar jenis kelamin, siswi biasanya diwajibkan memakai cadar, tidak ada pelajaran kesenian (musik, tari, lukis, dan sejenisnya), serta tidak melaksanakan kegiatan upacara bendera atau peringatan hari besar nasional lainnya.

Sisi Problematik Sekolah Sunnah

Dari luar, sekolah sunnah ini tampak biasa saja. Kecuali penampilan siswa-siswinya yang berbeda dengan siswa sekolah negeri. Namun, jika ditelisik lebih dalam, sekolah sunnah ini berpotensi menimbulkan problem besar di kemudian hari.

Mengapa demikian? Alasan pertama, sekolah sunnah ini cenderung bersifat eksklusif. Mereka mengklaim lembaga pendidikannya sebagai satu-satunya yang paling sesuai dengan ajaran Rasulullah.

Klaim ini cenderung problematik. Bahkan, istilah sekolah sunnah sendiri sudah problematik. Jika sunnah dimaknai sebagai segala perbuatan dan ucapan Rasulullah yang diriwayatkan secara sahih, bukankah di zaman Rasulullah hidup belum ada sekolah seperti sekarang?

Klaim bahwa sekolah sunnah adalah yang paling islami cenderung mensimplifikasi makna Islam itu sendiri. Sebagai sebuah ajaran, Islam berkembang dari masa ke masa dan bersentuhan dengan berbagai entitas kebudayaan yang beraneka-ragam. Klaim sepihak kelompok tertentu yang mengaku paling islami justru akan memecah-belah umat itu sendiri.

Alasan kedua, corak pendidikan agama yang terlalu tekstualistik yakni menganggap teks keagamaan sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Model pendidikan agama tekstualistik ini akan menumbuhkan cara pandang dan praktik keberagamaan yang eksklusif, bahkan intoleran. Tersebab, apa pun yang berbeda akan dicap bidah, sesat, bahkan kafir.

Corak pendidikan agama yang tekstualistik sebenarnya mengingkari hakikat pendidikan agama yang sesungguhnya. Di dalam Islam, hakikat pendidikan itu bukan sekadar fokus pada aspek ritual-ibadah (ulumuddin).

Namun juga berorientasi pada pengembangan pola pikir keagamaan (al fikr al din), pendidikan karakter (tarbiyatul akhlaq), dan penyucian psikologis/jiwa (tazkiyantun nafs). Tujuan pendidikan Islam itu tidak mungkin bisa diraih ketika anak hanya dijejali dengan pelajaran agama yang tekstualistik.

Alasan ketiga, sekolah sunnah menunjukkan sikap kontra pada ideologi bangsa. Contohnya, mereka tidak melaksanakan upacara bendera atau peringatan hari besar nasional dan sejenisnya. Bahkan, tidak sedikit yang mengharamkan kegiatan tersebut.

Sekolah Sunnah dan Potensi Problem di Masa Depan

Pandangan anti-kebangsaan ini jelas berbahaya apalagi ditanamkan pada anak-anak yang notabene generasi penerus. Tujuan pendidikan nasional bukanlah sekadar mencetak pribadi yang pintar, namun juga memiliki komitmen yang tinggi terhadap bangsa dan negaranya. Model sekolah sunnah ini justru berpotensi melunturkan spirit nasionalisme.

Ironisnya, sekolah sunnah ini justru semakin populer terutama di kalangan kelas menengah muslim perkotaan yang memang tengah gandrung pada tren gaya hidup islami atau syar’i. Bagi golongan ini, apa pun yang dilabeli syar’i, sunnah, salafi, dan sejenisnya pasti akan diterima tanpa mengkritisinya lebih dahulu. Termasuk fenomena sekolah sunnah yang saat ini tengah menjamur.

Antuasisme muslim menengah urban pada sekolah sunnah juga menandai kegagalan mereka dalam memahami hakikat Islam dan esensi pendidikan. Mereka beranggapan bahwa tafsir Islam bersifat monolitik. Mereka juga meyakini bahwa esensi pendidikan adalah semata menjadikan anak taat beribadah, memakai pakain ala Arab, dan menguasai hafalan teks keagamaan.

Padahal nyatanya tidak demikian. Tafsir atas ajaran Islam nyatanya pluralistik, alias majemuk. Dalam konteks fiqih saja, umat Islam sunni memiliki empat mazhab. Masing-masing mazhab itu terdapat bermacam-macam pemikiran ulama yang acapkali berbeda satu sama lain. Itu baru dalam hal fiqih, belum membahas ranah keilmuan lain, seperti ilmu kalam, filsafat, tasawuf, dan sebagainya. Dipastikan kita akan menemukan spektrum pemikiran yang kaya dan luas.

Demikian pula, esensi pendidikan jelas tidak hanya berorientasi untuk mencetak muslim yang memiliki kesalehan individual semata. Inti pendidikan justru mencetak manusia yang memiliki kepekaan sosial dan rasa kemanusiaan yang tinggi. Pertanyannya, bagaimana anak-anak bisa memiliki kepekaan sosial dan nilai kemanusiaan jika saban hari dididik dalam lingkungan atau ekosistem yang eksklusif, konservatif, dan tekstualistik?

Facebook Comments