Nalar Kekerasan Agama

Nalar Kekerasan Agama

- in Pustaka
2063
0

Kekerasan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan kebudayaan. Buku Field of Blood: Religion and the History of Violence karya Karen Amstrong menjadi semacam alat periksa untuk melihat bagaimana setiap peradaban memiliki akar kekerasan dalam praktek penindasan dan eksploitasi, tidak terkecuali peradaban barat.

Dalam bukunya, mantan biarawati itu menegaskan bahwa semua agama pernah melakukan kekerasan. Namun demikian kekerasan selalu tak terkait dengan tokoh sentral agama tersebut. Aksi terorisme di sekelompok Muslim, dipastikan tak memiliki akar hubungan dengan Nabi Muhammad. Demikian pula dengan Perang Salib yang pasti tak ada hubungannya sama sekali dengan Yesus.

Karen secara tegas menuding Barat sebagai pihak yang paling bertanggung jawab memperkenalkan kekerasan di jaman modern melalui sempalan dari sebuah ajaran agama. Hal itu dapat dilihat dari pendirian negara Israel, dimana Yudaisme menjadi identik dengan kekerasan lantaran ditransformasikan dalam sebuah gerakan politik membuat negara-bangsa.

Terkait aksi terorisme di dunia Islam, Karen memiliki pandangan yang cukup menarik. Menurutnya, terorisme adalah dampak langsung dari cara dunia Barat memaksakan modernisme dan demokrasi di dunia Islam. Pemaksaan dunia barat terhadap dunia Islam bahkan melalui senjata, seperti yanng terjadi di Afghanistan dan Irak.

Pada awalnya Barat mereka mengira bahwa modernitas akan serta merta melahirkan demokrasi. Sayangnya itu tak pernah terwujud. Modernitas yang dibawa dunia Barat selalu dibarengi dengan penindasan kolonial. Dengan demikian negara-negara Muslim –khususnya yang berada di Timur Tengah— tidak memiliki kemandirian berpolitik. Karen Armstrong dengan lantang menyebut Demokrasi Timur Tengah sebagai lelucon yang buruk!

Pengalaman dalam situasi konflik di masyarakat Timur Tengah itulah yang menjadi dasar utama berbagai tindakan terorisme. Namun karena persinggungan yang sangat kuat antara masyarakat Timur Tengah dengan nalar agama (Islam), maka merekapun lantas mencari semacam pembenaran dalam setiap aksi kekerasan yang mereka lancarkan. Meskipun cara mencari pembenaran itu tak pernah menemukan sandaran kuatnya dalam ajaran agama.

Menarik untuk disimak, jajak pendapat Gallup (gallup poll) menemukan bahwa umat Islam yang menyetujui terorisme hanya sedikit. Ketika ditanya apakah serangan 11 september 2001 (WTC) dapat dibenarkan, 93% responden menjawab ‘Tidak’, dengan mengemukakan alasan agamis. Sementara 7% responden yang lain menjawab ‘Ya’ sambil memberi alasan-alasan politis untuk membenarkan tindakan teroris.

Bagi Amstrong, persoalan agama tak bisa dipahami dari satu sisi saja. Sosiologi agama mencakup banyak aspek, termasuk politik dan peperangan. Karenanya mencabut agama dari praktek kekerasan tidak selalu mudah dilakukan. Sementara di sisi lain selalu muncul kelompok-kelompok atau situasi-situasi tertentu yang melahirkan ekstrimisme yang berujung pada aksi teror.

Facebook Comments