Narasi Radikalisme dalam Hoax

Narasi Radikalisme dalam Hoax

- in Suara Kita
1125
0

Santapan keseharian kita kini adalah informasi hoax. Bahkan banyak diantara kita yang sedari awal sudah menyatakan perang terhadap hoax, kerap tetap juga dipaksa membaca hoax. Dan sungguh, ini menjadi hal yang sangat mengkhawatirkan. Jika hoax yang dikonsumsi hanya menyangkut hal remeh dan pribadi, tentu tidak menjadi masalah. Tetapi kini, kadar hoax sudah diambang batas. Sebab banyak hoax yang mengangkat isu terkait kepentingan umum. Termasuk juga menyinggung sentimen agama. Pola yang digunakan pun bukan sekedar kritik, tetapi mulai menyerang pihak lain yang berbeda dan berseberangan. Hal ini perlu diwaspadai, sebab bisa meningkatkan suhu konflik di masyarakat.

Beragam hoax yang meresahkan tersebut dibangun berdasarkan narasi yang diinginkan. Menurut Halverson, Goodall & Corman (2011), narasi adalah cerita terorganisir yang menggambarkan hasrat bersama untuk memecahkan masalah dan dibentuk berdasarkan ekspektasi pembacanya dengan cara retoris. Hasan & Ahnaf (2013), menjelaskan narasi yang ekstrem ditandai dengan pembedaan yang tegas dengan pihak lain, antagonisme antara kawan dan lawan, serta identifikasi pihak yang menjadi musuhnya. Narasi ekstrem menganggap pihak yang berseberangan dengan nilai negatif sekaligus memberi nilai kebaikan untuk pihak sendiri. Beragam narasi ini ditujukan untuk mendorong penggunaan standar pemahaman yang dapat mengaitkan situasi agar terpisah. Dan tentu saja, narasi bertujuan memberi kemenangan bagi pembawa pesan.

Maka tidak heran, saat ini masyarakat bisa dibuat bingung oleh beragam narasi yang ada. Jadi kita harus pandai menganalisis siapa yang berada dibelakang pembuat narasi hoax ini. Contoh yang paling mudah, ketika polisi menggerebek para tersangka teroris pada akhir tahun 2016, langsung muncul narasi di internet dan medsos yang menggambarkan seolah-olah penggerebekan ini adalah rekayasa dan konspirasi yang dilakukan oleh aparat penegak hukum. Atau ketika ada tokoh agama yang diperiksa polisi karena suatu kasus, langsung muncul narasi yang menceritakan seakan-akan pemimpin umat sedang didzalimi oleh penguasa. Maka bagi mereka yang mudah termakan isu, bisa langsung percaya terhadap narasi tersebut dan membenarkannya. Sebab narasi yang dibentuk sangatlah menyakinkan pembacanya. Terlebih jika isu yang  diangkat terkait isu agama, sebab tanpa argumentasi yang baik pun bisa mengetuk sisi emosional seseorang hingga mudah mengamininya.

Masalah perang narasi ini menjadi semakin pelik dan membesar sebab kita hidup di era digital. Saat ini, semakin mudah orang membuat dan mendistribusikan informasi di dunia maya. Mereka yang ingin melakukannya tidak perlu memiliki kecerdasan tinggi atau keahlian khusus. Sebab jagat maya menyediakan dukungan luar biasa bagi penciptaan informasi baru. Misalnya informasi tidak perlu dalam bentuk tulisan argumentatif dan panjang. Tetapi bisa berupa meme. Dan saat ini, tidak perlu seseorang memiliki kemampuan desain grafis (seperti corel atau photoshop) untuk membuat meme. Siapapun bisa melakukannya. Beragam aplikasi android bisa dimanfaatkan siapa saja. Seperti aplikasi meme generator, meme me, meme maker, meme builder, dan sebagainya. Desain yang menarik dan sedikit kata-kata provokatif, maka akan mempercepat perputaran meme ini.

Upaya pemerintah dan civil society yang melakukan pemblokiran situs radikal dan gerakan penolakan terhadap hoax sangat patut diapresiasi. Sebab menunjukan perlawanan terhadap informasi negatif dan menyesatkan. Akan tetapi hal ini tidak cukup. Sebab masih banyak platform di internet yang bisa lolos dari pengawasan pemerintah. Seperti beragam blog yang secara mudah menyelipkan paham radikal dan kekerasan yang bisa menyebar di masyarakat. Satu blog diblokir, maka bisa muncul blog baru dengan konten yang hampir mirip. Ibaratnya seperti memotong buntut cicak. Tidak ada habisnya karena selalu tumbuh buntut baru. Termasuk juga di media sosial dimana setiap orang bisa menjadi pengarang narasi. Maka hal penting mendasar yang wajib dilakukan adalah memperkuat kesadaran masyarakat terkait urgensi kerukunan dan perdamaian. Dengan begitu, setiap individu akan mempertebal filternya secara otomatis dan mandiri. Sehingga informasi provokatif dan mengandung kekerasan apapun, meskipun dibuat dengan sangat menyakinkan, tidak akan mempengaruhi sikap dan pendiriannya untuk selalu menjunjung tinggi perdamaian di masyarakat.

Facebook Comments