Paradigma Moderasi Agama dalam Masyarakat Multikultural

Paradigma Moderasi Agama dalam Masyarakat Multikultural

- in Narasi
482
0
Paradigma Moderasi Agama dalam Masyarakat Multikultural

Indonesia merupakan Negara yang memiliki keragaman yang cukup kompleks. Tidak hanya etnis, suku, bahasa, agama, dan budaya, Indonesia memiliki ragam karakter individu dan kelompok yang beragam. Namun, dalam prakteknya, keragaman itu tumbuh secara harmonis di tengah masyarakat yang multikultur ini.

Agama menjadi salah satu entitas sosial di tengah masyarakat yang kerap menjadi persoalan dalam keragaman. Identitas keagamaan kerap menjadi penghalang dalam pergaulan sosial. Tentu saja, dalam hal ini beragama dengan sangat tertutup dan ekstrim tidak bisa beradaptasi dengan keragaman.

Jika cara beragama yang cenderung tertutup dan keras tidak akan mampu mengelola perbedaan. Konflik keagamaan yang banyak terjadi di Indonesia, umumnya dipicu karena adanya keberagamaan sikap yang ekslusif, serta adanya kontestasi antar kelompok agama dalam meraih dukungan umat yang tidak di landasi oleh sikap toleran.

Konflik berbasis kekerasan di Indonesia seringkali berakhir menjadi bencana kemanusiaan yang cenderung berkembang dan meluas dari pelakunya. Karena alasan inilah, penanganan konflik membutuhkan waktu yang cukup lama dan akan banyak kerugian social dan ekonomi.

Agama seharusnya mampu menjadi pedoman hidup dan juga jalan tengah dalam menghadapi masalah hidup dan kemasyarakatan yang ada di Indonesia. Agama bisa menjadi cara pandang dan pedoman yang seimbang antara urusan dunia dan juga akhirat. Cara pandang seperti ini akan sesuai dengan tujuan agama diturunkan di dunia sebagai fitrah dan tuntunan hidup bagi umat di bumi.

Kitab suci al-Quran sebagai kitab suci agama Islam menjawab berbagai persoalan di dunia ini baik secara persoalan yang bersifat pribadi sampai urusan Negara. Agama tidak saja menuntun umatnya untuk baik kepada tuhannya saja, namun manusia juga perlu berbuat kebaikan dengan semua makhluk yang ada di bumi

Bagi setiap pemuka agama, diharapkan mampu menjadi pelayan publik dalam memahami pengetahuan dan kesadaran multikultural, sehingga memiliki kompetensi dalam menghadapi perbedaan dalam bentuk apapun. Pemuka agama dirasa perlu untuk meningkatkan presepsi bagi pengikutnya dengan pengetahuan tentang keragaman budaya dan memahami adanya bentuk diskriminasi yang sering kita jumpai dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Pemuka agama harus mampu menumbuhkan motivasi dan melakukan tindakan yang mengandung dikdikan agar masyarakat mampu menjalin hubungan terhadap semua mahluk dengan cara yang baik. Dalam upaya mewujudkan keharmonisan hidup dalam berbangsa dan beragama, maka masyarakat perlu bersifat tengah atau sikap yang tidak berlebihan dalam beragama

Sikap yang tidak mengklaim dirinya atau kelompoknya paling benar, tidak menggunakan paksaan dalam kekerasan dan bersikap netral dan tidak mengafiliasi dengan kepentingan politik atau ketentuan tertentu. Sikap moderasi tersebut perlu di sosialisasikan dan ditumbuh-kembangkan dengan suri teladan para penyuluh agama.

Moderasi beragama akan lebih mengedepankan sikap persaudaraan yang berlandaskan pada azas kemanusiaaan bukan hanya berazaskan keagamaan dan kebangsaan saja. Islam secara umum sedang pada krisis kemanusiaan dan khususnya di Indonesia sendiri secara umum sedang di landa krisis kemanusiaan yang masih menyisakan sejumlah persoalan kemanusiaan akibat dari sikap yang kurang moderat dalam beragama.

Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan Negara yang memiliki dua modalitas penting yang membentuk karakter yang multi kultural, yakni berazaskan demokrasi dan kearifan lokalnya yang diyakini akan dapat menjaga kerukunan umat beragama.

Facebook Comments