Pawai Budaya Untuk Meredam Radikalisme yang Tidak Berbudaya

Pawai Budaya Untuk Meredam Radikalisme yang Tidak Berbudaya

- in Keindonesiaan
3702
0
koleksi: https://theletstalkaboutblog.wordpress.com/tag/indonesia/

Menyambut hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 2015 yang akan datang, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) merayakannya dengan tema “Dengan Semangat Sumpah Pemuda Bersama Kita Cegah Terorisme”. Dalam kegiatan ini beberapa agenda yang akan dilakukan selama tiga hari sejak tanggal 28 sampai 30 Oktober 2015 antara lain; 1. Dialog nasional pencegahan paham radikal terorisme dan ISIS dengan tema “Peran Generasi Muda Dalam Pencegahan Terorisme”, 2. Workshop program damai di dunia maya, dengan tema “Peran Dunia Maya Dalam Mencegah Terorisme”, 3. Pawai budaya Nusantara, dengan tema “Keragaman Budaya Sebagai Wujud Kekuatan Guna Mencegah Terorisme’, 4. Gelar budaya Nusantara, dengan tema “Budaya Nusantara; Kekuatan Dalam Mencegah Terorisme”

Semangat sumpah pemuda dan penguatan budaya yang diusung BNPT pada kegiatan di atas ditujukan untuk mengajak masyarakat luas agar memperkuat nilai-nilai keindonesiaan guna membentengi diri dari radikalisme dan terorisme.

Kita beruntung karena bangsa kita sangat kaya akan budaya dan tradisi luhur yang hidup di tengah-tengah masyarakat. Kita pun merayakan kekayaan budaya ini dengan berbagai cara, mulai dari pekan budaya, pawai budaya, gelar budaya, tahun budaya, bulan budaya dan hari budaya. Penghargaan terhadap budaya merupakan aspek penting dalam mempertahankan bangsa dari berbagai ancaman.

Salah satu ancaman yang kini mulai menggerogoti budaya kita adalah munculnya radikalisme dan terorisme di sebagian masyarakat kita. Kedua paham di atas adalah antitesa untuk DNA masyarakat kita yang berbudaya, karena keduanya sangat anti terhadap budaya. Beberapa kelompok radikal memperlakukan budaya sebagai musuh yang harus segera dihancurkan karena mereka anggap tidak sejalan dengan perintah Tuhan.

Karenanya kelompok radikal dan teroris berusaha keras mengoyak benang kebudayaan dengan merongrong kerekatan persaudaraan sesama bangsa. Mereka menciptakan blok-blok pemisah di antara masyarakat, sehingga bangsa ini menjadi lemah dan terpecah belah, jauh dari impian persatuan yang sekian lama dipintal dan diwarisakan oleh dasar ajaran agama dan juga para leluhur pendiri bangsa Indonesia.

Kelompok radikal dan teroris paham betul perihal kekuatan budaya, terutama dalam menguatkan ikatan antara sesama manusia, karenanya mereka menjadikan budaya sebagai musuh utama. Namun di sisi lain, hal ini juga merupakan peluang besar bagi kita untuk menggunakan kekuatan budaya tersebut guna menghancurkan radikalisme dan terorisme, yang tentu saja tidak berbudaya.

Kegiatan pawai budaya yang diinisiasi BNPT di Jogjakarta ini merupakan salah satu upaya pemerintah dalam memperkuat bangsa melalui budaya, sekaligus pula sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkah-Nya berupa kekayaan budaya di negeri ini.

Budaya dan kearifan lokal merupakan modal persatuan dan kebersamaan bagi kita sebagai bangsa yang merdeka. Keduanya dapat digunakan untuk menghadapi segala macam tantangan yang datang silih berganti, tidak terkecuali untuk penyebaran ideologi radikal yang mengatasnamakan agama. Menghidupkan sendi-sendi kehidupan berbangsa berarti menggali kembali kearifan lokal dan peradaban bangsa yang seolah tertutup oleh noda hitam paham radikal terorisme.

Kearifan lokal muncul dari hasil kreasi, daya nalar, dan daya pikir manusia. Menalarkan dan memikirkan sesuatu merupakan perintah Allah SWT sebagaimana tertuang dalam alquran, di antaranya ; “berpikirlah wahai orang-orang yang memiliki ilmu”, dan “Apakah kalian tidak menggunakan nalar dan pikiran kalian?”. Karenanya, keberadaan budaya dan kearifan lokal merupakan bagian dari ketentuan Tuhan yang memerintahkan manusia untuk terus menggunakan segala daya yang diberikan Tuhan kepadanya. Hasil dari pemikiran tersebut terwujud dalam bentuk budaya yang membantu manusia menjadi makhluk yang beradab. Bila kemudian muncul paham dan aksi anarkisme yang tidak beradab, maka budaya dan kearifan lokal masyarakat dapat digunakan untuk menyingkirkan perilaku itu.

Hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tahun oleh seluruh bangsa Indonesia bukan sekedar menggugurkan tugas dengan rangkaian seremoni belaka, karena dalam tiap peringatan ini kaum muda harus bisa mengambil hikmah dan pelajaran penting untuk mempersiapkan diri meneruskan estafet tongkat kepemimpinan bangsa Indonesia. Seperti Bung Tomo yang mengobarkan semangat perjuangan dalam mempersatukan bangsa ini dengan tanah air, bangsa, dan bahasa yang satu; Indonesia.

Facebook Comments