Kekerasan Tidak Diajarkan Kitab Suci

Kekerasan Tidak Diajarkan Kitab Suci

- in Keagamaan
1886
0

Perilaku kekerasan yang dilakukan ‘oknum’ umat Islam terbukti merugikan citra Islam sebagai agama damai. Ironisnya, aksi kekerasan itu dilandasi oleh ayat suci yang ditafsirkan secara melenceng. Tak ayal praktik penafsiran keliru itu melahirkan sejumlah kritik terhadap Alquran yang suci. Mereka yang memang tidak senang terhadap umat islam menuduh Alquran sebagai biang keladi ideologi kekerasan dan teror di dunia. Upaya mendegradasi kesucian Alquran dilakukan dengan cara protes dan pembakaran kitab suci Alquran sebagaimana pernah terjadi belum lama ini di Amerika.

Memang sejak masa diturunkannya sejumlah upaya pernah dilakukan musuh Islam untuk membentuk publik opini bahwa Alquran bukanlah kitab suci yang turun dari langit. Mereka menuduh kitab ini semata karangan Muhammad dan banyak orang yang mampu mencipta seperti itu. Sejumlah penyair Arab di masa awal penurunan Alquran pernah berupaya menandingi keindahan bahasa Alquran lewat bait syair. Namun upaya mereka terbukti sia-sia karena bahasa sastra yang digunakan Alquran terlalu hebat untuk ditandingi. Bahkan, Alquran membantah sekaligus menantang para pihak yang ingin menjajal kesucian dan kebenaran sumbernya. Alquran menegaskan manusia tak akan pernah sanggup membuat satu bait pun yang dapat menandingi Alquran.

Upaya oposisi Alquran tidak memberikan pengaruh signifikan di tengah-tengah kaum muslimin untuk ikut meragukan kefasihan Alquran. Sebaliknya umat Islam semakin meyakini kebenarannya dan justru membuat mereka semakin kuat dan menjadikannya sebagai pedoman hidup. Apa yang terjadi saat ini terhadap Alquran seperti pembakaran dan penghinaan kitab suci bukanlah semata karena mereka benci terhadap Alquran. Akan tetapi lebih dari itu, adalah sebagai akibat atas kekecawaan mereka terhadap satu kelompok yang mengatasnamakan Islam namun tindakannya sama sekali tidak mencerminkan Islam sebagai agama damai. Sebaliknya tindakan itu justru menggiring persepsi orang lain menilai Islam sebagai agama keras, padahal Alquran jelas-jelas tidak membolehkan kekerasan dan justru mengajak kepada cara yang lebih bijaksana dan lunak sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Saw yang dalam tempo waktu 23 tahun ia mampu menciptakan satu komunitas yang berwibawa bahkan mampu menandingi pengaruh dua imperium yang hidup perkasa pada saat itu. Dalam Alquran disebutkan bahwa “seandainya Engkau Ya Muhamad tidak berlaku lemah lembut terhadap mereka maka sudah pasti mereka akan meninggalkan Engkau ya Muhammad”.

Kelompok-kelompok yang sering kali mengangkat ayat-ayat alquran yang menyinggung tentang perang terhadap orang-orang musyrik atau kaum kafir dan meyakini bahwa jihad merupakan perintah suci yang diperintahkan Alquran termasuk melakukan pembunuhan atau pembantaian yang sadis terhadap sesamanya atau melakukan bom bunuh diri di tempat umum sebenarnya telah keluar dari ruh Islam dan Alquran.

Perang memang diakui Islam sebagai salah satu alternatif yang harus dilakukan guna melindungi kaum muslimin dan wilayah territorialnya serta seluruh kekayaannya. Namun harus dipahami bahwa perintah mengangkat senjata hanya akan diizinkan oleh Allah jika terjadi serangan fisik terhadap kaum muslimin. Selama tidak terjadi serangan  fisik maka perang bukanlah kewajiban. Alquran juga tidak pernah memerintahkan umatnya untuk melawan penguasanya apalagi jika penguasa itu adalah seorang yang muslim.

Lalu apa yang membuat satu kelompok tertentu melawan pemerintahnya yang muslim di negara yang menjalankan nilai-nilai Islam sebagaimana terjadi belakangan ini di belahan dunia? Para ulama yang muncul di kemudian hari telah membahas secara rinci tentang bagaimana semestinya umat Islam dalam menjalankan agamanya ketika umat Islam menjadi minoritas dan berada di bawah penguasa yang bukan muslim, demikian pula, jika umat Islam berada di bawah pemerintahan yang muslim tetapi tidak menjalankan syariat Islam. Semua sangat terang benderang dan jelas sekali dalam berbagai buku-buku klasik yang telah ditulis oleh para ulama-ulama.

Facebook Comments