Prinsip Ajaran Islam dalam Semesta Bersatu Melawan Corona

Prinsip Ajaran Islam dalam Semesta Bersatu Melawan Corona

- in Suara Kita
1596
0
Prinsip Ajaran Islam dalam Semesta Bersatu Melawan Corona

Masa wabah Covid-19 melahirkan beragam cara menangani agar korban tidak semakin banyak berjatuhan. Salah satu hal yang menarik adalah dalam perspektif kesehatan dan melalui protokoler WHO adalah dengan fisical distancing yaitu menjaga jarak secara fisik.  Sehingga jarak dapat dilakukan dengan tetap di rumah saja dan beragam kerumunan menjadi haram hukumnya karena dapat menjadi sarana penularan.

Atas saran inilah semua kegiatan yang akan menjadi sarana tertularnya virus secara cepat melalui interaksi dititup dengan menggunakan istilah lock down. Beragam sekolah dan PT meliburkan siswa dan mahasiswa untuk belajar online di rumah demikian juga karyawan baik perkantoran negeri maupun swasta juga diliburkan dengan model WFH yaitu model kerja dari rumah. Beragam bentuk itulah diyakinini akan mengurangi resiko penularan secara massif dengan memutus mata rantai jaringan virus.

Islam sebagai ajaran Islam dalam hadis Nabi Muhammad saw. menekankan penanganan dengan  pola di atas. Kejadian di atas adalah sama fungsinya yaitu agar masyarakat tidak tertular dengan melakukan isolasi terbatas pada suatu daerah. Bentuk isolasi adalah melarang orang dari luar masuk ke suatu tempat yang terkena musibah wabah menular dan melarang orang yang dalam zona wabah juga keluar daerah.

Cara ini efektif menjadi sarana yang luar biasa dalam mengurangi dan menghentikan wabah menular. Hal tersebut kemudian di adopsi oleh pola penanganan yang sama. Kendati pada masa tersebut penyakit yang mewabah beragam seperti lepra, kolera dan sebabainya. Bahkan Nabi saw. menyuruh untuk lari sekencang kencangnya menjauhi orang yang sakit yang menular tersebut seperti lari dari menghindar singa.

Hal tersebut membuktikan bahwa penyakit menular harus dihindari dengan interaksi secara langsung. Atas dasar itu pula kaedah pertemuan sesama muslim dalam perjunpaan dengan mengucapkan salam dan jabat tangan menjadi tidak disunnahkan lagi karena potensi penularan lewat cara tersebut.

Baca Juga : Gotong-Royong Pancasila Atasi Corona

Atas dasar di atas dalam kebiasaan keseharian ummat Islam dalam menjalankan ibadah juga dianjurkan di rumah. Kenyataan tersebut seperti salat Juma’at dan salat lima waktu lainnya harus di rumah. Demikian juga buka puasa bersama, tarawih dan i’tikaf ditiadakan di masjid-masjid. Keprihatinan ini adalah bagian dari kehidupan manusia itu sendiri.

Jika seorang postif terkena virus yang mematikan ini maka akan tetap menular walaupun dalam kondisi sudah meninggal. Sehingga protokoler penyelenggaraan jenazah korban dilakuķan dengan cara yang aman dan terbatas. Mereka yang memaksakan seperti di dareah luar Jawa menjadikan mereka yang terlibat dalam membuka peti jenazah dan memandikan di rumah terkena sebagai  ODP setidkanya atau positif terkena paling jeleknya. Menghindari dari interkasi menjadi penting. Sehingga hal ini harus dilakukan bersama sama dalam perang semesta melawan corona. Tanpa kebersamaan korban akan terus berjatuhan dan kematian semakin meningkat.

Ajaran Islam mengajarkan akan pentingnya kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Kedua kehidupan tersebut dijelaskan dengan baik melalalui Alquran dan Hadis. Penjagaan itu tidaklah dilakukan secara individu saja melainkan dalam bingkai keluarga sebagaimana dalam Q.S. al-Tahrim (66): 6. Sebagai pemimpin keluarga orang tua baik ayah dan ibu harus menjadi panutan dalam mensukseskan keluarga di dalamnya baik anak-anak maupun orang yang ada dalam perwaliannya agar tidak terjerumus kepada neraka.

Istilah neraka ini tidak mutlak sebagai sesuatu yang eksakatologis yang tidak terlihat dengan mata biasa yang hanya terjadi di kehidupan setelah dunia ini. Kenyataan ini akan menjadikan neraka dalam kehidupan duniawi sebagaimana  terjadi banyaknya anak yang terjerumus kepada hal hal yang kurang baik seperti sebagai anak jalanan atau terperangkap dalam dunia hitam narkoba.

Potensi penyebaran virus sebagai bentuk dari neraka yang hadir lebih cepat. Semesta raya menangis atas kehadiran wabah pandemi yang memayikan ini. Semua sendi kehidupan manusia menjadi lumpuh dan bahkan berpotensi melemah dan menjadi hancur.

Pola penangan bersama secara serempak dalam mewujudkan semesta raya berubah harus dilakukan sebagaimana protokoler di atas. Alquran dalam Q.S. al-Maidah (5): 32 menjelaskan bahwa barangsiapa memberi kehidupan yang baik seakan akan memberikan kehidulan bagi seluruh alam semesta. Sebaliknya,  korban positif covid yang berkeliaran tidak melakukan isoloasi diri akan menjadikan korban lain yang berinterkaksi semakin banyak.

 Hal tersebut seolah Alquran mengatakan barangsiapa yang menebar kejelelan kematian maka seolah-olah mereka membunuh seluruh alam semesta. Kenyataan tersebut dapat dilihat dalam banyaknya penularan karena ikut jamaah di gereja dari dua pendeta yang memberi khutbah dan menularnya 300 jamaah masjid yang ikut berjamaah. Hal tersebut membuktikan penyakit menular dengan cepat tak peduli korbannya adalah nereka yang ahli ibadah. Bajkan mereka juga yang masih dalam tempat pembelajaran di Sukabumi menjadikan mereka tertular semua.  Inilah yang dianalokkan Allah dalam ayat tersebut. Atas inilah pemerintah Belanda menggunakan ayat tersebut dalam kampanye memberantas Corona.

Bentuk kampanye perang semesta alam atas corona menjadikan pentingnya kemanfatan manusia untuk diam di rumah. Hal tersebut menjadi bagian juga dalam kampanye Islam rahmatan li al alamin. Nabi Muhammad saw. menunjukkan sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat pada manusia yang lain.

Di era pandemi yang dijadikan bentuk perang semesta ini sudah memakan korban yang banyak bahkan juga materi berupa uang yang dijadikan dalam melakukan pengobatan dan lainnya sangat banyak. Dalam hadis tersebut menjadikan pentingnya manusia tinggal di rumah akan lebih baik dan membantu dalam penangan perang semesta raya ini. Sehingga cara inilah yang menjadikan pandemi tidak bertambah korbannya.

Bagian ini juga mengisyaratkan sebagai orang Islam yang taat setidaknya harus mematuhi apa yang dilakukan pemerintah. Upaya ketaatan ini sama nilainya dengan ketaatan kepada Allah swt. dan Rasulullanh saw. Hal tersebut jelas diungkapkan dalam Alquran dalam beberapa ayat.

Perang semesta raya telah dimulai oleh banyak negara. Saudi Arabia telah melakukan  empat kota besar yaitu Jeddah, Riyadh, Makkah dan Madinah. Kegiatan umrah dan ibadah di masjid lain sudah ditutup menyusul banyaknya korban di kota Madinah dan  kota besar lainnya. Hanya negara Yaman yang belum tersentuh virus ini namun negara  tersebut masih menyisakan problem kemiskinan dengan banyaknya anak-anak yang memilikj gizi buruk. Sehingga boleh jadi kasus Covid-19 ada namun pemerintah tidak mampu dalam hal menanganinya.

Kini Indonesia juga melawan atas  dengan melakukan aktivitas di rumah. Semesta alam melawan Corona agar kehidupan manusia tetap terjaga dengan baik dengan stay at home atau senantiasa di rumah dan jika keluar rumah menggunakan Lat Pelindung Diri yang sudah disarankan oleh WHO. Minimal seseorang yang keluar rumah dengan menggunakan masker. Upaya ini dilakukan agar pertumbuhan dan mata rantai penyebaran Covid-19 tidak menyebar lagi dan kehidupan menjadi normal kembali serta perjalanan ekonomi masyarakat berangsur normal dan tumbuh kembali. Bersatunya tokoh ummat Islam di Indonesia menjadi penting dalam perang semesta alam melawan Corona ini. Hal tersebut sudah didukung oleh organisasi terbesar di Indonesia yaitu Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah. Bahkan, MUI sebagai  sebuah organisasi perhimpunan ulama se-Indonesia sudah mengeluarkan fatwa tentang kehidupan keberagamaan di tengah Covid-19. Dengan bersatunya ummat Islam dan ummat lain melalui organisasi keagamaan lain seperti PGI dan Walubi misalnya keberadaan Covid-19 yang telah mewaba di Indonesia akan segera sirna dan kehidupan ke depannya menjadi normal kembali.

Facebook Comments