Puasa Hoaks dan Provokasi: Langkah Mengukuhkan Benteng Ukhuwah

Puasa Hoaks dan Provokasi: Langkah Mengukuhkan Benteng Ukhuwah

- in Suara Kita
933
0
Puasa Hoaks dan Provokasi: Langkah Mengukuhkan Benteng Ukhuwah

Ramadan merupakan bulan diturunkannya Alquran sebagai pedoman hidup bagi manusia untuk menempuh jalan hidup yang benar. Dalam bulan ini, umat Islam di seluruh penjuru dunia melaksanakan puasa, salah satu dari rukun Islam. Puasa bukan hanya menahan dahaga dan lapar mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, tetapi juga sebuah bentuk pengekangan terhadap ego dan keinginan yang ada dalam diri yang dapat mewujud dalam perilaku yang melanggar aturan dan norma.

Tujuan dari pelaksanaan ibadah puasa adalah untuk mencapai ketakwaan, suatu keadaan yang mampu menjaga diri dari berbuat keburukan. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah:183). Bentuk peningkatan ketakwaan kepada Allah Swt. yang direpresentasikan oleh ibadah puasa ialah kepekaan sosial orang-orang yang berpuasa. Termasuk, kepedulian mereka untuk menjaga ukhuwah antarsesama.

Salah satu perusak ukhuwah yang kini marak beredar ialah informasi hoaks. Survei yang dilakukan oleh Masyarakat Telematika (Mastel) 2019 terhadap 941 responden mengidentifikasikan ragam berita hoaks yang marak diterima: 93,2% Sosial Politik; SARA 76,2%; hoaks Pemerintahan 61,7%, hoaks bencana alam 29,3%, dan hoaks berisi info pekerjaan 24,4%. Ironinya, tiga peringkat teratas berita-berita hoaks yang sering diterima umumnya berisi ujaran kebencian atau informasi-insformasi yang mengarahkan pada narasi adu domba antara satu golongan dengan golongan lain. Namun, parahnya 4,6% responden memilih menyebarkan informasi hoaks karena iseng.

Tentu saja, hal tersebut bukanlah termasuk sikap bijak dalam menerima berita hoaks. Karenanya, puasa atau menahan diri dari menyebarkan berita hoaks menjadi hal krusial yang harus dilakukan. Terlebih, bagi umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa, menyebarkan hoaks akan merusak pahala puasa. Nabi Muhammad Saw. Bersabda: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan pengamalannya, maka Allah tidak butuh kepada perbuatannya yang meninggalkan makan dan minum” (HR. Al Bukhari)

Sia-Sia

Sebagai umat beragama, kehilangan nilai ibadah di mata Tuhan merupakan bencana kesia-siaan. Yang bukan hanya merugikan diri sendiri karena semakin menjauhkan diri dari Tuhan meskipun telah bersusah payah dengan rajin melaksanakan ibadah dalam kehidupan sehari-hari. Namun, seringkali juga menyakiti orang lain karena cara beragama yang miskin empati. Seperti, sudah susah payah berpuasa, tapi tidak diterima Tuhannya karena menyebarkan informasi hoaks dan provokasi adu domba.

Psikolog Gordon W Allport, membagi dua macam cara beragama: ekstrinsik dan intrinsik. Pertama, yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu yang dapat dimanfaatkan. Agama dimanfaatkan demikian rupa agar dia memperoleh status darinya. Dia berpuasa, shalat, sedekah, atau membaca kitab suci, bukan untuk meraih keberkahan Tuhan, melainkan supaya orang lain menghargai dirinya. Ajaran agama tidak menghujam ke dalam dirinya. Parahnya, ajaran agama hanya digunakan untuk memukul dan mencelakai orang lain yang berbeda dengannya. Sengaja membuat konten hoaks tentang dalil keagamaan dengan tujuan provokasi. Dilakukan hanya demi kepentingan individu atau kelompok tertentu saja.

Kedua, yang intrinsik memandang agama sebagai nilai-nilai yang harus diwujudkan dalam dirinya. Nilai dan ajaran agama terhujam jauh ke dalam jiwa penganutnya. Adanya internalisasi nilai spiritual keagamaan. Ibadah ritual bukan hanya praktik tanpa makna. Semua ibadah itu memiliki pengaruh dalam sikapnya sehari-hari.

Baginya, agama adalah penghayatan batin kepada Tuhan. Cara beragama yang intrinsiklah yang mampu menciptakan lingkungan yang penuh kedamaian dan kasih sayang. Sementara keberagamaan ekstrinsik, cara beragama yang tidak tulus, melahirkan egoisme. Egoisme bertanggung jawab atas kegagalan manusia mencari kebahagiaan, kata Leo Tolstoy.

Perlu dipahami, kebahagiaan tidak terletak pada kesenangan diri sendiri. Kebahagiaan terletak pada kebersamaan. Saling mengasihi, saling berdamai, saling bantu-membantu, saling merasa aman dan nyaman satu sama lain merupakan wujud kebahagiaan sesungguhnya dalam kehidupan manusia di dunia.

Maka itu, umat beragama perlu sama-sama memandang agama sebagai wadah menebar rahmat. Mengingat, mengaku sebagai hamba Tuhan, berarti harus merepresentasikan sikap Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Menerima segala macam perbedaan tanpa menghendaki pecah-belah. Mengasihi dan menyayangi tanpa memandang agama, ras, ataupun etnis. Tidak menyebarkan informasi hoaks dan provokasi, karena Tuhan hanya menghendaki kebaikan, keindahan, dan kebenaran.

Jadi, momentum bulan Ramadan ini merupakan saat tepat untuk melatih diri berpuasa menyebarkan informasi hoaks. Melatih diri agar tidak terjebak informasi provokatif dan adu domba. Ketika ini benar dilaksanakan oleh setiap orang yang berpuasa, niscaya dunia maya penuh dengan informasi sejuk dan damai. Tali ukhuwah yang seringkali merenggang akibat narasi provokasi dan hoaks di media sosial dapat dikencangkan kembali dalam ruang ukhuwah yang penuh dengan kasih sayang. Wallahu a’lam.

Facebook Comments