Menahan Diri dari Hoax

Menahan Diri dari Hoax

- in Suara Kita
585
0
Menahan Diri dari Hoax

Tingkat penyebaran hoax di sosial media  semakin akut. Data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyatakan, bahwa ada 94 hoax per minggu berseliweran di sosial media.

Banyaknya hoax dan ujaran kebencian baik di dunia nyata maupun maya, tidak lepas dari hilangnya rasa kemanusiaan di antara kita, khususnya pengguna medsos. Kemanusiaan adalah rasa untuk melihat dan memposisikan manusia sebagai makhluk yang bermartabat dengan segenap hak yang dimilikinya.

Rasa aman, diperlakukan dengan baik, tidak dizalimi, dan bebas dari rasa ketakutan adalah hak universal yang dimiliki oleh segenap manusia. Menghilangkan hak-hak itu sama dengan membunuh kemanusiaan.

Melawan hoax adalah jihad kemanusiaan yang mulia. Ini tidak lain karena hoax adalah pembunuh kemanusiaan yang paling kejam. Dengan tanpa fakta dan kebenaran, hak-hak seseorang dengan mudah ditabrak bahkan diporak-porandakan.

Salah satu implikasi nyata dari hilangnya kemanusiaan ini adalah menempatkan orang/kelompok lain sebagai pihak di luar diri/kelompok kita nan jauh di sana. Mereka bukan kita, dan kita bukan mereka.

Akibatnya perasaan senasib-sepenanggungan sebagai sesama makhluk Tuhan yang setara sudah pudar. Dengan alasan mereka bukan kita; pihak nan jauh di sana itu dengan bebas dihantam, dicaci-maki, dihina, dizalimi, dan segenap hoax dan ujaran kebencian lainnya.

Dengan dalih kita bukan mereka; maka tanpa beban dan rasa berdosa orang/kelompok lain nan jauh di sana itu hak rasa aman, hak bebas dari ketakutan, hak untuk nyaman dan damai tidak dihormati sama sekali.

Persis kondisi inilah yang terjadi di antara kita, wabilkhusus para pengguna media sosial. Kemajuan teknologi dan informasi di satu sisi memang mempermudah sirkulasi kehidupan manusia, tetapi di lain sisi  karena  berbasisi skill,  lambat laut memang menggerogoti sisi kemanusiaan kita.

Belum lagi media sosial yang bersifat maya. Akibatnya setiap orang bisa lebih leluasa dan bebas bersuara.  Kebebasan bersuara ini dalam beberapa kasus terperosok ke dalam suatu yang menimbulkan kebencian. Tak jarang  justru terjerumus ke dalam tindakan destruktif-negatif.

Momentum Puasa

Ramadan kembali datang menyapa kaum beriman. Sapaan ini untuk menaikkan level, dari mu’minin (saleh individual) menjadi muttaqin (saleh sosial). Kenaikan level itu lewat sarana puasa. Suatu ibadah yang bukan baru.  Ia sudah jadi tradisi umat sebelum Islam (Al-Baqarah 2: 183).

Sebagian pakar menyatakan ada tiga ujian dalam hidup ini. Yang jika manusia berhasil, ia akan naik level, derajatnya akan meninggi.  Pertama, ujian untuk taat kepada Allah (al-sabr fi ta’at al-Allah). Kedua, ujian untuk menjauhi maksiat dan larang Allah (al-sabr ‘an ma’shiyah al-Allah. Ketiga, ujian untuk menjauhi hal-hal yang membahayakan diri, menakutkan, dan menyiksa diri (al-sabr minal al-alam wa al-syada’id).

Dalam puasa, ketiga ujian itu berkumpul sekaligus. Dengan puasa, kita telah melaksanakan dan taat sama perintah Allah; menjauhi larangannya; dan memikul beban haus, lapar, dan sederet kepayahan saat puasa. Itulah sebabnya menurut sebagai pakar, puasa dijadikan sebagai barometer dalam sarana kenaikan level manusia.

Akan tetapi, puasa kali ini ujian bertambah. Dari sekadar ujian yang tiga di atas, ada ujian wabah yang bukan hanya membahayakan diri individu, tetapi bisa membunuh umat manusia. Ratus ribuan manusia sudah kena. Dan, ribuan di antaranya meninggal.

Dalam kondisi inilah, banyak di antara manusia yang merasa khawatir dan cemas, kalau bulan Ramadan kali ini tidak maksimal. Kekhawatiran ini beralasan, sebab sejak dini, Pemerintah sudah melarang untuk mengadakan perkumpulan yang mendatangnya banyak orang.

Misi Kemanusiaan

Tidak ada kata lain selain berusaha sekuat tenaga untuk tetap menjunjung kemanusiaan setinggi-tingginya. Puasa itu menjaga kemanusiaan. Puasa adalah penyeimbangan kehidupan agar tidak terperangkap ke dalam kubangan nafsu angkara.

Kemanusiaan sebagai basis pergaulan hidup sosial manusia sudah sejak dulu disadari oleh para pendiri bangsa ini. Kesadaran itu tercermin dari sila Pancasila. Tak tanggung-tanggung, Kemanusiaan menempati posisi kedua setelah sila Ketuhanan.

Artinya jika Ketuhanan sebagai basis hubungan vertikal kita terhadap zat transendental, maka kemanusiaan sebagai basis hubungan horizontal sesama manusia. Hubungan antara manusia –baik di dalam kehidupan sehari-haru maupun dalam dunia maya –mau tidak mau harus tetap bersandar kepada kemanusiaan.

Kemanusiaan sebagai kata kunci sukses untuk menghalau hoax harus disadari segenap warganet. Dengan kemanusiaan, kita menyadari bahwa warganet di seberang sana pun adalah kawan, saudara, sama seperti kita.

Sikap ini adalah amanat para pendiri bangsa ini. Bahwa bangsa apapun yang tidak mendasarkan hubungan dan relasi sosialnya dengan peri kemanusiaan, maka bangsa itu akan hancur.

Adagium Sayidina Ali: “Saudara itu ada dua: jika bukan saudara se agamamu, maka dia adalah saudaramu sesama manusia,” sangat kontekstual untuk saat ini. Bahwa sudara itu adalah pengikat kita, tidak ada musuh. Jika persepsi semua manusia bersaudara diaplikasikan dalam bermedsos, maka dengan sendirinya dunia maya akan terasa adem dan penuh kedamaian.

Facebook Comments