Ramadan : Hindari Arogansi, Kuatkan Toleransi

Ramadan : Hindari Arogansi, Kuatkan Toleransi

- in Narasi
53
0
Ramadan : Hindari Arogansi, Kuatkan Toleransi

Bulan suci Ramadan merupakan waktu yang penuh berkah bagi umat Muslim di Indonesia. Di Indonesia dan di berbagai negara, Ramadan menciptakan kelompok yang mendadak paling Islami baik dari segi pakaian hingga aktifitas yang ada. Ramadan banyak menciptakan orang-orang yang merasa diri paling Islami.

Beriringan dengan merasa diri paling Islami, beberapa tahun sebelumnya, kita menyaksikan fenomena yang menunjukkan kurangnya rasa toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan keyakinan selama bulan puasa. Penyimpangan ini tidak hanya terbatas pada ekspresi kebencian verbal, tetapi juga mencakup tindakan-tindakan fisik yang merugikan, seperti penutupan paksa warung dan penyitaan makanan dari pedagang yang tidak berpuasa.

Pentingnya toleransi di bulan suci Ramadan dalam konteks masyarakat yang manjemuk seperti di Indonesia. Ramadan bukan berarti menjadi ruang di mana hanya umat Islam yang hidup di negara ini. Semua fasilitas harus ditutup, kebisingan polusi suara di mana-mana tanpa kenal waktu, dan penggunaan jalan tanpa permisif. Rasanya cara-cara demikian menjadikan umat Islam menjadi lebih arogan.

Puasa dalam agama Islam bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum. Esensi dari puasa lebih melibatkan kontrol diri, pengembangan spiritual, dan peningkatan empati terhadap sesama. Pada prinsipnya Ramadan belajar untuk tidak menjadi arogan sebagai umat beragama. Merasa diri paling berhak menjauhkan umat dari esensi puasa itu sendiri. Sebaliknya, perilaku intoleran tersebut menciptakan ketegangan dan ketidakharmonisan dalam masyarakat.

Seperti kasus-kasus yang timbul setiap tahunnya di mana banyak terjadi penutupan paksa warung yang buka selama bulan puasa mencerminkan arogansi mayoritas yang berlebihan. Para pelaku seringkali merasa memiliki hak untuk memaksakan keyakinan dan praktik mereka kepada orang lain. Lebih jauh lagi, ada kasus penyitaan makanan dari pedagang yang tidak berpuasa, tindakan ini tidak hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga merusak semangat kebersamaan yang seharusnya diperkuat selama bulan suci.

Hal ini penting menjadi refleksi kita bersama. Menjadi paling Islami ketika bulan Ramadan tiba bukan dengan mengumbar arogansi dan intoleransi di bulan suci. Paling islami berarti mampu menyelami makna puasa pada esensi yang paling dalam. Esensi puasa yang sejati berarti menyucikan jiwa bukan justru mengumbar nafsu kebencian terhadap yang lain.

Puasa Ramadan adalah pelajaran tentang menahan diri dari perilaku buruk dan memperkuat ketakwaan kepada Allah. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan yang buruk dan perbuatan yang sia-sia, maka Allah tidak memerlukan dia meninggalkan makanan dan minumnya.” Ramadan mengajarkan kepada kita pentingnya menumbuhkan sikap empati dan belas kasih terhadap sesama, bukan hanya menahan diri dari makanan dan minuman.

Ramadan bukan hanya tentang menahan diri dari makanan dan minuman, tetapi juga tentang penyucian jiwa dan penghormatan terhadap sesama manusia. Dengan menekankan pentingnya ketakwaan, empati, belas kasih, dan toleransi, Ramadan mengajarkan umat Islam untuk menjauhkan diri dari arogansi dan intoleransi. Ramadan mengingatkan kita bahwa kebaikan sejati terletak dalam kesederhanaan, kesabaran, dan kepedulian terhadap sesama manusia.

Dengan menggabungkan pendekatan edukatif, agamis, hukum, dan ekonomi, diharapkan Ramadan tahun ini bisa menjadi momentum untuk memperkuat toleransi dan menghindari terjadinya tindakan diskriminatif. Melalui kolaborasi nilai-nilai Pancasila dan ajaran agama, masyarakat dapat lebih mengendalikan emosi dan menjadikan bulan suci ini sebagai peluang untuk mempererat persatuan dan kesatuan.

Facebook Comments