Rabu, 30 November, 2022
Informasi Damai
Archives by: Ernawati Ernawati

Ernawati Ernawati

0 comments

Ernawati Ernawati Posts

Kontestasi Politik 2024 dan Bahaya Politisasi Rumah Ibadah

Kontestasi Politik 2024 dan Bahaya Politisasi Rumah Ibadah
Faktual
Nuansa politik 2024 mulai kencang meski perhelatannya masih dua tahun lagi. Beberapa tokoh mulai turun gunung. Beberapa partai mulai menjajaki dan membangun koalisi. Tidak lupa para calon sedang mencari simpati dan ada pula yang masih mencari dukungan partai. Sebelumnya Presiden Joko Widodo telah memperingatkan agar para elite politik untuk tidak terjebak pada politik identitas. Politisasi agama sangat berbahaya yang dapat memecah belah masyarakat. Karena itulah dibutuhkan kedewasaan para elite politik ...
Read more 0

Menyoal Perjuangan Nasionalisme Palestina yang Sering Dijadikan Propaganda Khilafah

Menyoal Perjuangan Nasionalisme Palestina yang Sering Dijadikan Propaganda Khilafah
Narasi
Berbicara Palestina mungkin yang tergambar dalam banyak sebagian masyarakat sebagai negara Islam yang hanya dihuni oleh umat Islam. Bahkan ketika membincangkan perlawanan rakyat Palestina terhadap zionisme Israel yang selalu mengemuka adalah persoalan perlawanan umat Islam dengan istilah jihad melawan Israel. Karena itulah, selalu yang digambarkan dalam konflik tersebut adalah solusi keagamaan. Salah satunya yang populer adalah solusi khilafah untuk Palestina. Betulkah khilafah akan efektif sebagai solusi dari gerakan nasionalisme rakyat ...
Read more 0

Memahami Narasi Kelompok Radikal yang Kerap Mengkafirkan Sistem Negara

Narasi mengkafirkan negara dan mengharamkan nasionalisme adalah satu paket indoktrinasi kelompok radikal terorisme kepada anggotanya. Tidak ada doktrin yang lebih kuat yang membuat seseorang terpedaya kecuali mengatakan negeri ini adalah wilayah perang dan boleh melakukan peperangan di atasnya. Merenggut nyawa siapapun di negeri kafir adalah absah, terutama kepada aparat negara. Doktrin ini dipegang secara militan terutama bagi mereka yang masih awam dan baru mengenal agama. Doktrin mudah masuk kepada mereka yang ingin menikmati surga secara instan tanpa pengetahuan yang memadai. Lahirlah generasi muda yang mudah terpedaya dengan hasutan dalil yang dieksploitasi oleh kelompok radikal. Siapa korbannya? Kita misalnya belajar dari salah satu wasiat pelaku penyerangan Mabes Polri (31/3/2021) mengungkapkan dalam surat wasiatnya agar orang tuanya dan keluarga tidak mengikuti kegiatan pemilu. Karena orang-orang yang terpilih itu akan membuat hukum tandingan Allah bersumber Alquran-Assunah. “Demokrasi, Pancasila, UUD, pemilu, berasal dari ajaran kafir yang jelas musyrik. Zakiah nasehatkan kepada mama dan keluarga agar semuanya selamat dari fitnah dunia yaitu demokrasi, pemilu dan tidak murtad tanpa sadar.” Begitulah bunyinya. Dari mana lahirnya doktrin seperti ini? Argumen ZA untuk mengkafirkan negara, Pancasila dan sistemnya sejatinya bukanlah hal baru. Beberapa mantan kelompok radikal terorisme mengatakan doktrin Pancasila sebagai kafir dan thagut merupakan keyakinan yang mereka miliki. Mereka hanya mematuhi hukum agama sebagai dasar sebuah negara. Dalam sejarah Indonesia, gerakan untuk menolak Pancasila dan ide mendirikan negara berdasarkan syariat agama sudah ada sejak Republik ini didirikan. Gerakan ideologis hingga percobaan makar dan aksi teror mewarnai perjuangan kelompok yang dikenal dengan sebutan Negara Islam Indonesia (NII). Ideologi ini tidak pernah mati dan terus menjadi cita-cita kelompok. Pandangan yang dimiliki oleh gerakan NII bukan pula sesuatu yang bersifat lokal. Gerakan islamisme sejatinya telah tumbuh di beberapa negara Timur Tengah khususnya Mesir yang mendasarkan ideologi untuk perjuangan Islam sebagai dasar negara. Sayyid Quthb aktivis Ikhwanul Muslimin (IM) berambisi untuk menerapkan Islam secara kaffah dan menganggap seluruh masyarakat muslim berada dalam fase jahiliyyah. Artinya, penolakan terhadap sistem yang ada sebagai sebuah konsensus dan pengkafiran terhadap dasar negara bukan hal baru. Dalam satu titik ideologi ini mampu membawa gerakan kekerasan yang dalam beberapa kasus mengilhami aksi terorisme. Jalan kekerasan adalah pilihan sebagai sarana melakukan perubahan yang fundamental untuk mengganti secara radikal dan fundamental sebuah tatanan negara. Apakah gerakan ini masih ada di Indonesia? Penolakan dan pengkafiran Pancasila dan keinginan mendirikan negara berdasarkan syariat agama masih menjadi gerakan bawah tanah dengan pendidikan dan pengkaderan yang tersembunyi. Jika melihat hasil survey tidak sedikit pelajar dan mahasiswa yang menolak Pancasila dan memilih agama sebagai ideologi negara mengindikasikan kaderisasi dan rekrutmen itu memanfaatkan lembaga pendidikan. Sudah berapa mereka yang terpapar? Survei Mata Air Fondation dan Alvara Research Center pada tahun 2017 yang lalu menyebutkan bahwa ada 18,6 persen pelajar memilih ideologi Islam sebagai ideologi bernegara dibanding Pancasila. Sedangkan di kalangan mahasiswa sebanyak 16,8 persen memilih ideologi Islam dibanding Pancasila sebagai ideologi bernegara. Survey yang dilakukan terhadap 1.800 mahasiswa di 25 perguruan tinggi unggulan di Indonesia, serta 2.400 pelajar SMAN unggulan di Pulau Jawa dan Kota-kota besar di Indonesia ini menunjukkan betapa generasi muda adalah bagian penting dalam kaderisasi penolakan Pancasila dan penumbuhan ideologi. Jika generasi muda yang disasar tidak mengherankan jika pelaku teror pun sudah mengalami regenerasi dari tua ke muda. Anak muda seperti ZA yang menganggap demokrasi dan Pancasila sebagai ajaran kafir adalah contoh kecil yang mungkin masih banyak dari mereka saat ini tidak sadar dan hanya menunggu paparan doktrin yang meningkat menjadi anjuran kekerasan. Karena itulah, penting bagi generasi muda untuk mewaspadai. Jika ada gerakan baik tersembunyi maupun terbuka yang mengajak kalian masuk dalam komunitas dengan kedok aktifitas apapun dengan doktrin mengkafirkan sistem yang ada, mengharamkan nasionalisme dan sistem yang ada, yakinlah itu bagian awal indoktrinasi untuk direkrut dalam jaringan radikal terorisme. Sadari sejak dini atau anda menyesal harus berpisah dengan keluarga dan orang yang dicintai. Pengalaman dan fakta membuktikan itu!
Kebangsaan
Narasi mengkafirkan negara dan mengharamkan nasionalisme adalah satu paket indoktrinasi kelompok radikal terorisme kepada anggotanya. Tidak ada doktrin yang lebih kuat yang membuat seseorang terpedaya kecuali mengatakan negeri ini adalah wilayah perang dan boleh melakukan peperangan di atasnya. Merenggut nyawa siapapun di negeri kafir adalah absah, terutama kepada aparat negara. Doktrin ini dipegang secara militan terutama bagi mereka yang masih awam dan baru mengenal agama. Doktrin mudah masuk kepada mereka ...
Read more 0

Kejahatan Bertopeng Agama adalah Musibah Terbesar Manusia

Kejahatan Bertopeng Agama adalah Musibah Terbesar Manusia
Keagamaan
Kejahatan terbesar dalam sejarah manusia adalah kejahatan yang bertopeng agama. Kenapa? Mereka yang melakukan tindakan tidak sedikitpun merasa malu dan salah, apalagi menyesal dengan Tindakan yang mereka lakukan. Bahkan mereka merasa bangga dengan tindakan mereka. Kejahatan yang mengatasnamakan agama bukan hanya merusak tatanan sosial suatu bangsa, tetapi secara nyata merusak mental dan ideologi yang membenarkan tindakan kekerasan atas nama agama. Bagaimana mungkin agama yang mengajarkan kedamaian diekspresikan dengan kekerasan? Bagaimana ...
Read more 0

Jokowi dan Baduy : Merdeka dan Penghargaan terhadap Lokalitas Penguat Bangsa

Jokowi dan Baduy : Merdeka dan Penghargaan terhadap Lokalitas Penguat Bangsa
Narasi
Terlepas dari apapun kritik dan apresiasi terhadap Presiden Jokowi saat memakai baju adat Suku Baduy di sidang tahunan MPR/DPR 2021 pada senin (16/8) tentu itu akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Baduy. Terlepas pula dengan hanya istilah gula-gula dan ikonik, secaa simbolik menggunakan baju adat di acara resmi kenegaraan yang sakral menjadi bentuk apresiasi negara terhadap kekayaan lokalitas bangsa ini. Indonesia memang sudah 76 Tahun merdeka, tetapi mungkin tidak banyak ...
Read more 0

Pancasila Vaksin Terbaik dalam Menjaga Imunitas Kebangsaan di Tengah Pandemi

Menjadikan Pancasila sebagai Vaksin Ideologi di Tengah Pandemi
Narasi
Pandemi Covid 19 yang tak kunjung reda semakin menimbulkan dampak sosial yang luar biasa kepada masyarakat. Tidak hanya persoalan kesehatan, rasa bosan, frustasi, dan kepanikan sosial berpotensi memprovokasi masyarakat. Termasuk proovokasi yang gencar dilakukan kelompok radikal di tengah pandemi. Bahaya propaganda radikalisasi di tengah pandemi sangat nyata karena masyarakat banyak menyibukkan diri di dunia maya. Narasi radikal mampu meradikalisai masyarakat dengan mudahnya. Mereka semakin lama semakin menggodok informasi yang berisikan ...
Read more 0

Perjuangan Nasionalisme Palestina Butuh Solusi Khilafah?

Perjuangan Nasionalisme Palestina Butuh Solusi Khilafah?
Narasi
Berbicara Palestina mungkin yang tergambar dalam banyak sebagian masyarakat sebagai negara Islam yang hanya dihuni oleh umat Islam. Bahkan ketika membincangkan perlawanan rakyat Palestina terhadap zionisme Israel yang selalu mengemuka adalah persoalan perlawanan umat Islam dengan istilah jihad melawan Israel. Karena itulah, selalu yang digambarkan dalam konflik tersebut adalah solusi keagamaan. Salah satunya yang populer adalah solusi khilafah untuk Palestina. Betulkah khilafah akan efektif sebagai solusi dari gerakan nasionalisme rakyat ...
Read more 0

Solidaritas Palestina, “Zionis Nusantara” dan Polarisasi Identitas

Narasi
Konflik berdarah di jalur Gaza yang mempertemukan rakyat Palestina dan Kelompok Hamas dengan Tentara Israel sejatinya merupakan konflik politik yang tidak pernah ada penyelesaiannya. Suatu saat kejadian akan muncul dan memporak-porandakan situasi dan korban pun berjatuhan. Kejadian di jalur ini akan selalu menjadi perhatian global dan akan memunculkan dampak reaksi dari berbagai negara. Bagaimanapun tindakan mengecam dan mengutuk atas kebiadaban tentara Israel yang memborbadir rakyat sipil Palestina patut selalu disuarakan. ...
Read more 0

Kejahatan Terbesar adalah Kejahatan Bertopeng Agama

Kejahatan Terbesar adalah Kejahatan Bertopeng Agama
Narasi
“ Tidak ada kejahatan yang paling saya benci selain kejahatan mengatasnamakan agama” begitulah kira-kira penegasan tegas) R Ahmad Nurwahid, Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Dalam satu kegiatan Sharing Session Kontributor Jalan Damai secara virtual (3/3/21). Rasanya penegasan itu menghujam batin saya dengan sekian pertanyaan. Apakah memang ada kejahatan yang mengatasnamakan agama? Saya mengajak diskusi teman saya dengan satu pertanyaan tentang kejahatan. Saya memulai dengan pertanyaan dengan nada kritis ...
Read more 0

Tidak Ada Tempat Rasisme dan Intoleransi di Nusantara

Tidak Ada Tempat Rasisme dan Intoleransi di Nusantara
Narasi
Sejak dulu Indonesia dikenal sebagai Negara yang majemuk. Tidak terbayangkan keragaman yang dimiliki bangsa ini dalam berbagai aspek sosial, kultural dan gegografis. Namun, perbedaan di negeri ini menjadi sebuah anugerah melalui pedoman yang sakti “Bhineka Tunggal Ika”. Negara yang memiliki keragaman budaya, bahasa, ras, suku dan agama hidup rukun dan harmonis dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sayangnya, akhir-akhir ini banyak kasus yang mencoba menciderai kerukunan dan perdamaian dengan ...
Read more 0