Saling Memaafkan dan Moderatisme Indonesia

Saling Memaafkan dan Moderatisme Indonesia

- in Suara Kita
453
0

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang mempunyai nilai-nilai luhur dalam merajut persaudaraan kebangsaan. Nilai-nilai luhur itulah yang mempersatukan anak bangsa dari beragam suku, ras, budaya, agama dan lainnya dalam membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tanpa nilai luhur dari warisan leluhur, sulit bangsa ini untuk bersatu dan saling menguatkan.

Dalam konteks ini, tepat yang dilakukan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) pada akhir Februari 2018 ini yang mempertemukan lebih dari 100 pelaku dan korban kasus terorisme.  Kepala BNPT, Komjen Suhardi Alius, menyebut setidaknya terdapat 1.000 korban teror sejak awal dekade 2000-an. Tidak seluruh korban datang ke pertemuan itu karena belum bersedia memaafkan para pelaku.

Upaya yang dilakukan BNPT ini sangat tepat dalam merajut persaudaraan dan perdamaian antar sesama. Kalaupun masih ada yang belum menerima, itu soal waktu saja. Dalam hitungan waktu, panggilan hati nurani dari leluhur bangsa ini akan menguatkan kembali jalinan persaudaraan antar anak bangsa. Semua harus saling menjaga, sehingga anak bangsa ini tidak memendam masa lalu yang kelam. Masa depan harus dirajut dengan kebersamaan, jangan biarkan kebencian terus bersemayam di hati anak bangsa.

Semangat Moderat

Untuk meneguhkan sikap saling memaafkan antar anak bangsa, maka bangsa ini harus bergerak bersama untuk mengobarkan semangat moderat. Sikap moderat merupakan sikap yang telah diwariskan para leluhur untuk menjaga keharmonisan kehidupan di Indonesia. Para guru bangsa menolak gerakan ekstrim (tatharruf), baik ekstrim knan maupun ekstrim kiri. Menjadi ekstrim ini tidak diperkenankan karena bisa membuat kerusakan. Dalam kaidah fiqh, kerusakan harus dihadang, karena bisa menghalangi datangnya kemaslahatan. Maka dari itu, menolak kerusakan lebih didahulukan dari pada menarik kemaslahatan (darul mafasid muqoddamun ala jalbil mashalih).

Semangat moderat yang lahir ini merupakan manifestasi dari al-Qur’an surah al-Maidah ayat 143: “Kami jadikan kalian umat pertengahan (ummatan wasatan).” Umat yang berada di tengah-tengah tidak mengikuti yang “kanan” atau yang “kiri”. Umat wasatan menjaga diri menjadi penengah, sehingga tidak terpengaruh dari kanan dan kiri. Yang di tengah selalu memberikan semangat yang di kanan dan di kiri untuk kembali ke tengah. Karena di tengah itulah mereka akan aman, tidak mudah terjerumus dalam lubang ekstrim yang penuh paksaan.  Di tengah selalu menjaga keselamatan umat, bahkan umat ekstrim sekalipun akan selalu dijaga kalau mereka mau masuk lubang ekstrim.

Beragama di tengah-tengah inilah yang telah dipraktekkan para ulama/kiai dalam memperjuangkan ajaran Islam di Nusantara. Kala para wali mendakwahkan Islam, mereka sama sekali tidak mengatakan “salah” dan “kafir” kepada penduduk lokal yang masih menganut aliran kepercayaan. Dengan kedamaian dan curahan hati yang penuh keikhlasan, para wali dan kiai justru menjadikan potensi lokal sebagai sarana dan media dalam menjalankan dakwahnya. Lihat saja seorang Sunan Kalijaga yang justru berdakwah dengan menggunakan seni lokal untuk melakukan islamisasi. Dengan kesenian dan kebudayaan lokal itulah justru para kiai semakin dekat dengan rakyat, dan Islam semakin diterima dengan baik oleh masyarakat.

Tidak ada benturan apapun dalam dakwah para kiai dengan masyarakat. Boleh dibilang Islam saat itu merupakan ideologi transnasional, karena kiblat agama yang dibawa para wali merupakan ajaran dari Arab. Tetapi ajaran yang dibawa bukan dengan kekerasan, apalagi teror. Para wali membawa kedamaian dan keadilan sosial bagi masyarakat. Bahkan tradisi masyarakat dikembangkan dengan baik, disinergikan dengan semangat keislaman. Itulah yang menjadikan Islam tumbuh subur di Nusantara. Sangat jauh berbeda dengan ajaran ideologi transnasional hari ini yang seenaknya dalam mengkafirkan orang lain. Bahkan untuk menjustifikasi kafir seseorang, mereka sampai melakukan teror yang merenggut nyawa saudara sendiri.

Menegakkan Indonesia Kita

Saatnya pemimpin bangsa ini, termasuk para pelaku teror dan korban teror, untuk bersama-sama menjaga sikap moderat. Ajaran-ajaran luhur Islam Nusantara dalam mengawal kemerdekaan Indonesia, menegakkan Indonesia pasca kemerdekaan, serta mengawal Pancasila untuk kedaulatan negeri, sudah sepatutnya didukung bersama untuk kesuksesan Indonesia. Semangat yang telah ditancapkan KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, KH Wahab Hasbullah, KH Wahid Hasyim dan lainnya perlu dihidupkan kembali. Mereka para penjaga yang teguh dengan prinsipnya, sehingga mereka juga berjasa besar kepada Indonesia. Terbukti, para kiai itu diakui sebagai pahlawan nasional.

Menjaga Islam Nusantara merupakan ikhtiar menjaga Indonesia. Maka dari itu, di tengah gempuran ideologi transnasional, Islam Nusantara harus bersiap-siap melakukan kerja organisasional yang baik di tingkat ormas, sementara di tingkat jama’ah, para kiai dengan pesantren dan jamaahnya perlu lebih hati-hati dalam merespon berbagai fenomena sosial yang terjadi di sekitarnya. Jangan sampai ada lagi kecolongan. Kelengahan sedikit saja bisa membuat fatal, karena para aktivis teror melakukannya dengan jaringan yang kuat, koordinasi yang profesional, dan dilengkapi dengan fasilitas teknologi yang canggih.

Kita semua harus saling mendukung antar elemen anak bangsa. Saling memaafkan adalah sikap utama dan menjadi penopang untuk hadirnya perdamaian Indonesia masa depan.

 

Facebook Comments