Santri dan Sarung Simbol Perlawanan

Santri dan Sarung Simbol Perlawanan

- in Suara Kita
232
0
Santri dan Sarung Simbol Perlawanan

Sarung adalah sepotong kain lebar yang dijahit kedua ujungnya berbentuk pipa atau tabung. Ia digunakan dengan dibebatkan pada pinggang untuk menutup bagian bawah tubuh. Pakaian ini sudah menjadi bagian dari warisan budaya nusantara dengan ragam motif, bahan dan bentuk pemakaiannya.

Bagi kalangan santri, sarung adalah pakaian wajib yang menjadi ciri khas komunitas ini. Seolah menjadi hal yang tak terpisahkan antara santri dan sarung. Sarung digunakan di setiap aktifitas santri bahkan tidur sekalipun. Sarung seolah tidak bisa terlepas dari badan santri. Melalui komunitas santri inilah warisan budaya nusantara ini dilestarikan dan dijaga sebagai identitas bangsa ini.

Namun, tidak hanya sebagai pelestarian dari budaya, sarung bagi kalangan santri juga mempunyai historisitas perlawanan. Memakai sarung adalah bentuk kebanggaan terhadap identitas dan martabat bangsa dan perlawanan terhadap penjajahan.

Kolonialisme Belanda pada zamannya tidak hanya menjajah fisik, tetapi juga pikiran dan budaya masyarakat nusantara. Pendidikan ala barat dikenalkan hingga cara berpakaiannya. Sebagian pejuang kemerdekaan tentu dengan semangat nasionalisme yang tidak diragukan banyak memilih mengadaptasi budaya Barat dalam melawan, tetapi kalangan santri justru melawan dengan kebangaan budaya nusantara, sarung.

Memilih Bangga Memakai Sarung

Memilih memakai sarung adalah pilihan sekaligus ijtihad perlawanan. Di kalangan pesantren muncul fatwa-fatwa tentang keharaman untuk meniru apalagi bersekongkol dengan pihak penjajah dan teriakan jihad untuk melawan non-muslim. Salah satu hadis Nabi misalnya yang dijadikan sandaran adalah “barang siapa yang menyerupai golongan maka ia masuk dalam golongan tersebut ” (Hr. Abu daud dan Ibnu Hibban).

Bagi kalangan pesantren, kedatangan pihak kolonial dimaknai tidak hanya ingin meneguk kekayaan dan kekuasaan, tapi sekaligus ingin menyebarkan kepercayaan agama Kristen. Penjajahan tersebut menimbulkan resistensi dari pihak pribumi salah satunya adalah kelompok atau komunitas pesantren yang diwakili oleh kiayi, ulama dan santri. Dalam proses perlawanan tersebut, pihak kolonial menganggap pesantren sebagai batu sandungan yang sangat mengganjal baik dalam menyebarkan agama Kristen atau dalam kepentingan politik sosial, dan ekonomi.

Kalangan pesantren mendudukkan kolonial tidak hanya sebagai penjajah, tetapi orang-orang kafir. Jika mengikuti dan menyerupai orang kafir berarti menjadi bagian dari kelompok tersebut. Salah satu narasi kalangan pesantren yang bisa dilacak misalnya yang dilakukan oleh Kiai Rifa’i melalui tulisan-tulisannya yang bermuatan anti penjajahan.

Tanbih tan nana dedalane kinaweruhan

Tanah jawi wong nejo memerangi linakonan

Ngelawan ing kafir kelawan pedang gegaman

Nyata tan kuasa ngelawan ing kafir perangan.

Tentu saja memilih tetap memakai sarung adalah bentuk ijtihad yang tidak berarti menyalahkan para pejuang yang memakai celana dan meniru budaya dan pakaian Belanda. Bagi santri melawan Belanda juga melarang komunitas pesantren untuk meniru cara pakaian berbau penjajah seperti celana panjang, dasi sepatu.  Dalam perspektif inilah sarung, yang kemudian santri yang menjadi lumrah disebut kaum sarungan, pada masanya mengandung makna simbolik sebagai simbol perlawanan. Jika hari ini para santri tetap memakai sarung itu adalah hasil ijtihad ulama pesantren yang tetap ingin bangga dengan martabat negeri ini sekaligus semangat sejarah untuk tidak tunduk pada budaya kolonial. Inilah makna penting yang harus dipahami kaum sarungan.

Facebook Comments