Sepotong Cerita Tentang Deradikalisasi

Sepotong Cerita Tentang Deradikalisasi

- in Keindonesiaan
1489
0

Pertama kali dan paling awal yang harus dipahami bahwa deradikalisasi merupakan proses mentransformasikan keyakinan dan ideologi radikal ke arah pemahaman yang moderat, damai, toleran. Keyakinan atau ideologi merupakan kepercayaan terdalam dalam diri seseorang yang terefleksikan dalam setiap tindakan dan perilaku. Karenanya, deradikalisasi dalam pengertian ini merupakan program yang mempunyai tahapan dan proses yang panjang, sistematis dan berkelanjutan. Bukan program dengan hasil yang instan.

Persoalan berikutnya yang juga harus dipahami bahwa faktor dan motivasi seseorang mengambil jalan sesat dalam jaringan terorisme sangat beragam. Sebagian mereka menjadi teroris karena didorong oleh keyakinan dan ideologi, atau hanya karena kepentingan ekonomi, atau bisa jadi karena mencari eksistensi diri dan ragam faktor lainnya. Dari ragam faktor tersebut penanganan “mengobati” radikalisme melalui deradikalisasi tentu saja tidak tunggal, tetapi multi approaches. Tidak selesai persoalan, ketika hanya mengandalkan khutbah, ceramah dan bimbingan keagamaan saja.

Nah selanjutnya yang juga penting dimengerti bahwa deradikalisasi itu harus menjadi proses kegiatan yang komprehensif dan berkelanjutan. Di sinilah persoalan terberat dari deradikalisasi. Deradikalisasi bukan sekedar proses penyadaran di dalam lembaga pemasyarakatan. Justru dan seringkali banyak timbul persoalan ketika para mantan narapidana kembali ke tengah masyarakat. Persoalan lainnya adalah bagaimana nasib keluarga dan anak mereka yang berada di luar Lapas.

Program deradikalisasi, dari pemahaman di atas, mesti dan harus berkelanjutan. Inilah dalam istilah BNPT disebut sebagai siklus deradikalisasi, yakni proses deradikalisasi sejak di dalam lapas hingga mereka keluar dan bergabung dengan masyarakat. Deradikalisasi yang digambarkan dengan siklus yang saling terhubung dan berkelanjutan ini ditujukkan tidak hanya mempunyai sasaran narapidana terorisme, tetapi juga terhadap mantan narapidana, keluarga, jaringannya yang berada di luar Lapas.

Tulisan ini menukil sepotong cerita bagaimana para mantan narapidana terorisme ketika mereka kembali ke tengah masyarakat. Banyak persoalan pelik dan rumit yang mereka hadapi ketika mereka menghirup udara bebas di luar penjara. Persoalan ekonomi, kesehatan, kemanusiaan, dan aspek lainnya yang membebani mereka, jika tidak ditangani akan menimbulkan persoalan tersendiri yang dapat mendorong mereka kembali ke jaringannya.

Kisah Saudara Kita

Sebutlah namanya dengan nama Ahmad. Ia bebas pada tahun 2015 dalam kasus Bom Bali II. Saat ini ia tinggal di salah satu desa di Malang, Jawa Timur. Setelah bebas ia berusaha kembali ke tengah masyarakat untuk menjalani kehidupan normal layaknya tetangga yang lain. Apa daya, masyarakat masih belum menerimanya sebagai bagian dari masyarakat. Bahkan pada suatu ketika rumahnya dirusak oleh masyarakat. Akibat perlakuan ini, dalam pengakuannya, ia masih trauma untuk bergaul dengan masyarakat.

Dalam kondisi seperti itu, problematika para mantan narapidana terorisme tidaklah mudah. Program deradikalisasi dituntut tidak hanya melakukan pendampingan keagamaan dan wawasan kebangsaan semata. Karena itulah, program BNPT dalam rangka melakukan pembinaan terhadap mantan narapidana teroris dilakukan dengan pendekatan personal-emosional. Koordinasi dengan aparat keamanan setempat dalam rangka memberikan jaminan keamanan mutlak dilakukan. Selain itu, program deradikalisasi didorong juga untuk membantu dalam aspek kemandirian ekonominya. Saat ini Ahmad memulai hidup baru dengan membuka toko baju untuk menghidupi diri dan keluarganya.

Kisah berikutnya adalah dari mantan narapidana terorisme yang sekarang menjadi tokoh di tengah masyarakat. Sebutlah dengan sebutan ust. MH. Ia sangat sadar betul apa yang telah dilakukan dalam kasus perampokan yang ia klaim awalnya sebagai fa’I sebagai kesalahan yang dilarang oleh agama. Terorisme tidak pernah ada ajaran dan bahkan dari ajaran Islam.  Sekarang ia aktif memberikan penyadaran kepada masyarakat agar tidak mudah terpengaruh dengan ajaran radikalisme dan terorisme.

Dalam rangka menginsyafi dan bertobat dari jalan salah terorisme ini, sang ustadz membuat pondok pesantren yang khusus menampung keluarga dan anak para mantan teroris. Kesadaran ini didorong karena banyak keluarga dan anak mantan narapidana terorisme yang kesulitan secara ekonomi. Tetapi niat baik itu juga bukan tanpa masalah. Ancaman dan intimidasi terhadap kelompok jaringannya juga kerap ditemukan. Stigma masyarakat tentang dirinya sebagai teroris juga masih melekat.

Dalam kasus seperti ini program deradikalisasi di samping mendorong aspek keamanan komunitas pesantren yang ia kelola, juga mendukung eksistensi pesantren ini agar tetap eksis dalam memberikan penyadaran terhadap masyarakat khususnya anak dan keluarga mantan teroris. Komunikasi dan pendampingan terus dilakukan untuk mendorong kemajuan pesantren yang ia kelola.

Kisah terakhir yang ingin saya kupas adalah salah satu mantan narapidana terorisme yang pernah terlibat dalam pelatihan militer di Aceh.  Sebutlah nama samarannya dengan Farid. Ia bebas dari NK pada akhir tahun 2014 dan sekarang memulai hidup di tengah masyarakat. Persoalan yang dihadapi setelah keluar dari penjara juga sangat pelik.

Pada mulanya ia berhadapan dengan aspek administrasi kependudukan. Sulitnya mengurus KTP menjadi persoalan utama. Faktor ekonomi menjadi alasan utama yang ia hadapi setelah keluar dari penjara. Beberapa kali ia harus berhadapan dengan kesulitan ketika harus mengobati sang ibu tercinta. Tidak hanya itu, ketika sang ibu berangkat ke rahmatullah ia juga harus berhadapan dengan biaya pemakaman sang ibu. Ia sangat berbahagia ketika sang istri mau melahirkan anak tercinta. Tetapi kesedihan muncul ketika harus terbebani biaya atas kelahiran putra tercinta.

Berbagai problem ekonomi para mantan narapidana terorisme setelah keluar dari penjara seperti ini butuh penanganan. Karena itulah, salah satu bentuk program deradikalisasi di luar lapas adalah dengan mendorong kemandirian ekonomi melalui pelatihan kewirausahaan. Saat ini Farid sudah merintis kemandirian ekonomi dengan berjualan obat herbal.

Dari berbagai cerita singkat tersebut, program deradikalisasi atau tepatnya pembinaan dan pendampingan terhadap narapidana terorisme, mantan narapidana, keluarga dan jaringannya merupakan proses yang panjang. Butuh penanganan yang sistematis, terukur dan berkelanjutan yang tentu saja tidak bisa dilihat hasilnya dengan secepat mungkin. Karena itulah, pendekatan keagamaan, kebangsaan, kewirauhasaan menjadi bagian tak terpisahkan dalam program deradikalisasi.

Selain itu, butuhnya koordinasi dan partisipasi seluruh pihak, termasuk dalam hal ini masyarakat menjadi kunci utama. Masyarakat harus mampu menerima para mantan narapidana terorisme yang ingin kembali ke tengah masyarakat. Proses isolasi masyarakat justru akan mendorong mereka tidak nyaman dan berpotensi kembali dalam jaringan lamanya.

Facebook Comments