Substansi Idul Qurban: Kebenaran Iman Tak Akan Melukai Siapa-pun

Substansi Idul Qurban: Kebenaran Iman Tak Akan Melukai Siapa-pun

- in Narasi
36
0
Substansi Idul Qurban: Kebenaran Iman Tak Akan Melukai Siapa-pun

Tak ada legitimasi kebenaran iman yang membenarkan kezhaliman, seperti menghalalkan darah orang lain. Kebenaran Iman pada hakikatnya tak akan pernah melukai siapa-pun. Ini adalah substansi penting bagi kita dalam merefleksikan Hari Raya Idul Adha/Qurban yang akan kembali dirayakan oleh umat Islam pada 10 Dzulhijjah 1445/17 Juni 2024.

Idul Adha/Qurban tak lepas dari bentang sejarah Nabi Ibrahim yang diperintahkan oleh-Nya untuk menyembelih anak kesayangannya, yakni Ismail. Nabi Ibrahim adalah sosok Nabi dengan kadar keimanannya yang begitu kuat dalam dirinya. Namun di sisi lain, Beliau juga sebagai sosok Ayah yang begitu sangat sayang pada anaknya yang bernama Ismail. Dari sinilah Nabi Ibrahim diuji seberapa tulus keimanan dalam dirinya, ketika diperintahkan untuk menyembelih anak yang sangat disayanginya itu?

Ketulusan iman dalam diri Nabi Ibrahim itu mampu “merapuhkan” segala ego-ego dalam dirinya. Beliau menaati perintah-Nya untuk menyembelih Ismail. Namun yang menjadi pertanyaan kita, mengapa pisau yang sangat tajam itu tak sedikit-pun melukai Nabi Ismail? Padahal ketika Nabi Ibrahim menggunakan pisau itu untuk membela batu, seketika batu itu terbelah. Tetapi mengapa pisau itu seakan tumpul ketika ingin digunakan untuk menyembelih Ismail?

Dari sinilah bukti bahwa kebenaran iman itu tak akan pernah melukai siapa-pun. Jadi, yang menggagalkan penyembelihan Ismail itu karena ketulusan iman yang mendalam dari diri Nabi Ibrahim. Sebab, perintah “menyembelih” itu adalah ujian keimanan. Pelajaran yang relevan untuk kita sadari: Allah SWT tak akan pernah meridhai (melegitimasi) perilaku membunuh atau berbuat zhalim kepada siapa-pun mengatasnamakan iman.

Lalu di sinilah ketegasan Allah SWT di dalam (QS. As-Saffat:104-108) “Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu. “Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang kemudian”.

Saya begitu tertarik dengan proses ujian yang diberikan oleh Allah SWT kepada Nabi Ibrahim yang diperintahkan untuk menyembelih anaknya Ismail. Sebagian di antara kita mungkin akan tampak berat dan tentunya akan menyangkal perintah itu. Sebab, ini berkaitan dengan kasih-sayang seorang Ayah pada anaknya yang begitu mendalam, lalu tiba-tiba hadir sebuah perintah lewat mimpi agar anak yang disayangi itu agar disembelih.

Sebagai kesimpulan penting, ini bukan tentang perkara (mengorbankan nyawa manusia) untuk sebuah iman. Jangan salah pahami bahwa kebenaran Iman dapat mengorbankan nyawa manusia. Lalu ditafsirkan serampangan untuk membenarkan perilaku zhalim mengatasnamakan kebenaran iman, seperti ala kelompok radikal itu.

Seperti yang ditekankan di dalam tulisan ini. Bahwa belajarlah dari kisah ketulusan dan keikhlasan Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan anaknya Ismail untuk disembelih. Namun, itu hanyalah “ujian” sehingga pengorbanan Ibrahim atas Ismail digagalkan oleh Allah SWT dan digantikan hewan seperti Domba, Kambing atau Sapi seperti yang kita jalankan dalam kehidupan saat ini ketika Idul Adha/Qurban tiba.

Hindari Doktrin Kaum Radikal yang Melegitimasi Kebenaran Iman untuk Menghilangkan Nyawa orang Lain

Bahwa kebenaran iman tak akan pernah melukai siapa-pun. Janganlah terjebak ke dalam doktrin kaum radikal yang kerap membenarkan keimanan untuk membunuh atau menghilangkan nyawa orang lain. Digantikan-nya Ismail dengan hewan peliharaan pada dasarnya sebagai simbol bahwa Allah SWT sangat menjaga nyawa manusia dan tak menghendaki pembunuhan.

Oleh sebab itu, sangat penting bagi kita untuk merayakan sekaligus merefleksikan Hari Raya Idul Adha/Qurban ke dalam pemahaman yang subtansial. Bahwa kebenaran iman tak akan pernah melukai siapa-pun. Jangan sampai berbuat zhalim mengatasnamakan iman. Ketulusan iman akan melahirkan kebenaran yang menjunjung nilai-nilai kemanusiaan (menjaga nyawa manusia) bukan sebaliknya.

Facebook Comments