Syeikh Yusuf Al Maqassari: Ulama Sufi Pejuang Kemanusiaan dari Nusantara

Syeikh Yusuf Al Maqassari: Ulama Sufi Pejuang Kemanusiaan dari Nusantara

- in Tokoh
3305
0

Dilihat dari gelar pada namanya, sudah jelas ia berasal dari salah satu pulau di Nusantara. Benar, ia berasal dari Celebes alias Sulawesi. Al Maqassari merujuk pada kampung halamannya di Makassar, Sulawesi Selatan. Nama lengkap berikut gelarnya adalah Syeikh Muhammad Yusuf Tajul Khalwati  Al Maqassari Al Bantani.

Dia adalah seorang bangsawan dari Kesultanan Gowa di Sulawesi Selatan. Ibunya yang bernama Aminah adalah adik dari Sultan Alauddin penguasa kesultanan saat itu, sementara ayahnya bernama Abdullah. Nama lahirnya adalah Muhammad Yusuf. Nama itu diberikan langsung oleh Sultan Alauddin di hari kelahirannya pada tahun 1626 M.

Sesuai tradisi masyarakat saat itu, di usia kanak-kanak Syeikh Yusuf mulai ditempa pengajaran Alquran. Sebagaimana anak-anak yang lain, pengajaran Alquran adalah pelajaran utama bagi masyarakat Bugis sebelum mendalami keilmuan yang lain. Hal tersebut didukung oleh Kesultanan Gowa yang telah menjadikan Islam sebagai agama resmi kesultanan.

Menginjak usia remaja, Syeikh Yusuf mendalami pelajaran Alquran pada Daeng Ri Tasammang Cikoang. Tak hanya Alquran, ia pun mulai mempelajari ilmu tasawuf pada Syeikh Jalaluddin Al Aidid. Kedua guru tersebut merupakan ulama besar dan terkenal Sulawesi di masa itu. Demi menambah wawasan keagamaannya, Syeikh Yusuf memutuskan untuk menjadi santri di Pondok Pesantren Bontoala yang didirikan oleh sekelompok ulama dari Yaman.

Di bidang keilmuan Islam, Syeikh Yusuf dikenal sebagai ulama yang sangat mumpuni di bidang ilmu tasawuf. Dia adalah sufi sekaligus memiliki ijazah sebagai guru spiritual (mursyid). Ia mengantongi ijazah dari sejumlah tarekat mu’tabarah (yang memiliki kesinambungan ajaran sampai Nabi).

Dalam tarekat Qadiriyah ia belajar langsung dan mendapat ijazah dari Syeikh Nuruddin Al Raniri, seorang ulama dan mufti agung Kesultanan Aceh Darussalam keturunan India. Sementara untuk tarekat Naqshabandiyah dan Alawiyah ia pelajari dan dapatkan ijazah spiritual di Yaman saat perjalanan intelektual menuju Najd (Arab Saudi sekarang).

Saat berada di Madinah ia tercatat pernah berguru dan mendapat ijazah spiritual tarekat Syattariyah dari ulama kenamaan saat itu, Syeikh Ibrahim bin Shihabuddin. Sedangkan tarekat Khalwatiyah yang ia ajarkan hingga akhir hayatnya ia peroleh saat belajar di Damaskus (Syiria sekarang).

Setelah mendalami keilmuan Islam dari berbagai guru di seluruh penjuru dunia Islam ia memutuskan pulang kampung ke tanah air. Awalnya ia berlabuh di kampung halamannya Makassar, tak lama berselang ia memutuskan membantu sahabatnya di Kesultanan Banten. Penguasa Kesultanan Banten Sultan Ageng Tirtayasa adalah kawan baik Syeikh Yusuf saat masih menjadi Putra Mahkota dengan gelar Pangeran Surya.

Syeikh Yusuf diangkat oleh Sultan Banten untuk menjadi mufti agung Islam sekaligus panglima perang kesultanan. Di periode kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa, dengan Syeikh Yusuf sebagai punggawa keagamaan, Banten berhasil menjadi wilayah tujuan inteletual umat Islam Nusantara. Keilmuan yang mendalam yang dimiliki Syeikh Yusuf menarik hati banyak orang untuk belajar, berguru, dan menjadi pengikutnya.

Pada tahun 1682 Kesultanan Banten diterpa konflik perebutan tahta. Putra Sultan Ageng  Tirtayasa, yang kemudian dikenal dengnan nama Sultan Haji, menuntut Sultan berkuasa untuk segera turun tahta. Konflik internal kerajaan tersebut dimanfaatkan oleh kolonial Belanda lewat VOC. Belanda memutuskan memihak pemberontak untuk menggempur Banten dan menangkap Sultan Ageng.

Syeikh Yusuf membela tahta Sultan Ageng, karena baginya pemberontakan terhadap kepemimpinan yang sah adalah bughat yang wajib diperangi. Bersama-sama Sultan Ageng dan seluruh pengikut dan bala tentaranya, Syeikh Yusuf bergerilya melawan Belanda. Namun takdir berkata lain, para pejuang ini akhirnya tertangkap. Sultan Ageng diisolasi di Batavia hingga ajalnya pada 1692.

Terkait nasib Syeikh Yusuf dan para pengikut setianya, Belanda memutuskan membuangnya lantaran kekhawatiran atas dakwah dan pamornya dalam menggalang kekuatan massa. Beserta sejumlah keluarga dan pengikutnya Syeikh Yusuf dibuang ke Ceylon (kini Srilangka) pada September 1682.

Di tempat pembuangan ini semangat keagamaan Syaikh Yusuf belum pudar. Lewat sejumlah tulisan dan para murid Bugis atau utusan raja-raja Nusantara yang sengaja berkunjung ia mengajarkan semangat pembelaan tanah air dan ajaran moral (akhlak) lewat dunia tasawuf. Syeikh Yusuf menuliskan ajaran-ajarannya dalam bahasa Arab, Melayu, dan Bugis. Di Ceylon ini pulalah, Syeikh Yusuf membentuk jaringan ulama dan raja-raja Islam yang berkuasa di Nusantara.

Belanda kembali resah dengan sepak terjang Syeikh Yusuf, aktifitas di Ceylon dengan para peziarah Nusantara khawatir akan berdampak pada kondisi sosial politik di tanah jajahan. Atas dasar itu, Belanda mengambil sikap untuk membuang Syeikh Yusuf lebih jauh lagi. Akhirnya, di usia 68 tahun Syeikh beserta puluhan rombongannya kembali dibuang ke Kaapstad (Capetown) di Afrika Selatan. Ia sampai di Tanjung Harapan menumpang kapal Voetboog pada April 1694. Di sinilah ia tetap menjalankan dakwah dan penyebaran Islam hingga wafat pada 22 Mei 1699.

Di Afrika Selatan nama Syeikh Yusuf dikenang sebagai pejuang kesetaraan melawan rasisme kulit putih di masa itu. Begitu harumnya nama Syeikh Yusuf hingga pejuang Apartheid Afrika Selatan yang juga Presiden kulit hitam pertama di sana, Nelson Mandela, menyebut Syeikh Yusuf sebagai putra terbaik Afrika dan pejuang kemanusiaan.

Atas jasa-jasanya itulah pada Februari 2009 Syeikh Yusuf dari Makassar diberi gelar pahlawan nasional Afrika Selatan oleh Presiden Thabo Mbeki. Sementara di Indonesia beberapa tahun sebelumnya, pada November 1995, Presiden Soeharto menganugerahkan gelar yang sama (Pahlawan Nasional) atas jasa-jasanya melawan kolonialisme dan imperialisme Belanda.

Facebook Comments