Syekh Nawawi Al-Bantani dan Gerakan Moderasi Islam

Syekh Nawawi Al-Bantani dan Gerakan Moderasi Islam

- in Tokoh
919
0
Syekh Nawawi Al-Bantani dan Gerakan Moderasi Islam

Namanya Syekh Nawawi Al-Bantani. Barangkali kita sudah tak asing dengan nama ulama besar yang satu ini. Seorang ulama besar kelahiran Banten yang, karya-karyanya banyak menjadi rujukan keilmuan bagi orang-orang Islam Indonesia dan dunia.

Syekh Nawawi lahir di Desa Tanara, sebuah desa kecil di Kecamatan Tanara, Serang, Banten, pada 1230 Hijriyah atau 1815 Masehi. Ia adalah salah satu putera terbaik Indonesia yang dalam catatan sejarah, memiliki pengaruh dan karisma yang cukup besar di Tanah Mekkah. Beliau menguasai banyak ilmu, mulai dari ilmu tafsir, fiqih/syariah, tauhid/kalam, dan adab dll.

Beliau dijuluki sebagai Bapak Pesantren Indonesia. Itu bukan karena beliau adalah pendiri pesantren pertama di Indonesia, melainkan karena tulisan-tulisannya berupa kitab (yang diperkirakan berjumlah 115) hampir seluruhnya diadopsi di pesantren-pesantren Indonesia.

Selain itu, meski berada di Mekkah, melalui murid-muridnya yang berasal dari Indonesia seperti Syekh Kholil waliyyullah (Bangkalan-Madura), KH. Asy’ari (Bawean; murid sekaligus anak menatu Syekh Nawawi dari puteri beliau yang bernama Maryam binti Syekh Nawawi), dan Hadratus Syekh KH. M Hasyim Asy’ari (Tebuireng-Jombang-Jawa Timur; pendiri jam’iyah Nahdlatul Ulama), beliau aktif memantau perkembangan Islam dan politik di Indonesia yang saat itu berada di bawah tekanan kolonial BelandaBelanda (an-nur.ac.id, 8 November 2022).

Sejalan dengan hal itu, beliau juga banyak menyumbangkan pemikiran-pikirannya untuk kemajuan bangsa Indonesia. Bahkan, di Mekkah, melalui sebuah perkumpulan yang disebut Koloni Jawa, dengan berbagai ikhtiar dan sumbangsih, beliau aktif membina dan memberdayakan masyarakat Indonesia di sana.

Corak Islam Moderat dalam Pemikiran Syekh Nawawi

Selain peranan pentingnya di dalam penyebaran ilmu pengetahuan Islam, Syekh Nawawi juga berperan penting dalam moderatisasi pemikiran Islam. Hal itu terlihat dari karya-karyanya yang ia tulis. Di mana, Syekh Nawawi sangat vokal mengkampanyekan Islam moderat dalam kitab-kita karangannya.

Dalam tafsir yang ditulisnya, Marah Labid Tafsir Munir, yang merupakan magnum opus Syekh Nawawi, misalnya, ia menafsirkan Surah Al-Baqarah ayat 143 tentang posisi umat Islam sebagai umat pertengahan (ummatan wasathan) dengan sangat apik. Menurut Syekh Nawawi, kata ummatan wasathan dalam ayat itu artinya adalah ilmu dan amal.

Yang artinya, menurut Syekh Nawawi, umat pertengahan itu adalah umat yang memiliki keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan amal. Jadi, menurut Syekh Nawawi, menjadi umat pertengahan maka harus menjadi umat yang berilmu sekaligus beramal. Bukan hanya beramal saja tetapi tidak berilmu. Sebaliknya, bukan hanya beramal tetapi tidak berilmu.

Selain dituangkan dalam bentuk gagasan (tulisan/kitab) corak moderasi Islam yang dipegang oleh Syekh Nawawi juga ia praktikkan di dalam kehidupan nyata. Contohnya, dulu, di waktu terjadi polemik tentang praktek tarekat yang mendapat kecaman dan serangan dari banyak tokoh Islam, Syekh Nawawi menyikapi semua itu dengan bijak dan santun.

Keluasan ilmu dan rohaninya mengantarkan dirinya pada cara yang bijak dalam menyelesaikan persoalan atau polemek keagamaan yang terjadi di masyarakat. Karena itu, teramat pantaslah bila murid-muridnya, seperti Syaikhona Kholil Bangkalan, KH. Hasyim Asy’ari, juga menjadi para sesepuh–dengan NU-nya–yang menyejukkan bagi kehidupan umat.

Facebook Comments