Tak Perlu ke Medan Perang, Cukup Bersama #dirumahaja

Tak Perlu ke Medan Perang, Cukup Bersama #dirumahaja

- in Suara Kita
1395
0
Tak Perlu ke Medan Perang, Cukup Bersama #dirumahaja

Sudah hampir empat nulan ini dunia dihantui oelh kemunculan virus Covid-19 atau yang lebih dikenal dengan virus Corona. Berdasarkan pemberitaan yang berkembang, kasus ini pertama kali terjadi di Wuhan, China. Dugaan sementara, virus ini dibawa oleh kebiasaan masayarakat setempat yang gemar mengkonsumsi sumber makanan yang tidak lazim untuk dikonsumsi manusi. Seperti kelelawar, ular, tikus, dan atau hewan lainnya. Bahkan beberapa dikonsumsi tanpa diolah dan dimasak terlebih dahulu.

Hewan-hewan inilah yang ditengarai memicu berkembangnya Coronavirus yang sampai saat ini masih menyisakan pekerjaan rumah bagi dunia internasional. Memang, pada dasarnya Coronavirus hanya  mampu menginveksi manusia lewat terganggunya saluran pernafasan. Atau paling fatal terserang penyakit radang paru-paru. Namun, jika tidak segera ditangani, Coronavirus juga dapat mengancam kehidupan manusia. Hal ini semakin diperparah dengan fakta bahwa Coronavirus dapat menyebar dan menular kepada lingkungan sekitar.

Melansir data Real Time yang dikumpulkan oleh John Hopkins University, jumlah infeksi per Senin (6/4/2020) pagi adalah sebanyak 1,27 juta kasus. Adapun jumlah kasus kematian yang terjadi adalah 69.309. Sementara itu, 259.810 pasien telah dinyatakan sembuh. Data terbaru per Minggu (5/4/2020) pukul 12.00 WIB, menyebutkan, jumlah kasus infeksi virus corona di Indonesia berjumlah 2.273 kasus. Jumlah ini mengalami penambahan sebanyak 181 kasus dari hari sebelumnya. Dari jumlah tersebut, 198 orang meninggal dunia dan 164 pasien telah dinyatakan sembuh. (Kompas, 06/04/2020)

Akibatnya, timbul kegaduhan di kalangan masyarakat Indonesia. Bahkan beberapa Kota telah mengeluarkan kebijakan pandemi Corona agar masyarakat tidak melakukan aktivitas di luar rumah. Upaya ini dimulai dengan penutupan sejumlah ruas jalan utama dan beberapa fasilitas umum. Termasuk di dalamnya tempat wisata, rumah ibadah, kantor pemerintahan, dan bahkan lembaga-lembaga pendidikan, baik formal maupun non formal. Beberapa instansi pemerintahan dan juga sekolah-sekolah sudah mengeluarkan kebijakan agar siswanya belajar secara online. Tak hanya itu, untuk menekan penyebaran virus Corona, pemerintah juga telah mengambil sikap untuk menutup beberapa tempat wisata dan juga tempat ibadah.

#Dirumahaja

Sebagaimana yang kita ketahui bersama, bahwa di era globalisasi seperti ini, manusia dimanjakan dengan perkembangan teknologi yang luarbiasa. Salah satunya media komunikasi dan informasi, utamanya media sosial. Media sosial telah bertransformasi sebagai sebuah dunia viryual yang menawarkan kemudahan bagi manusia. Tak hanya untuk sekadar menjalin komunikasi, media sosial juga sudah menjadi sebuah kebutuhan primer yang wajib dimiliki oleh setiap orang. Meskipun tidak bisa dipungkiri, bahwa tidak semua orang memiliki dan menggunakan medsos.

Baca Juga : Bersatu Melawan Corona dengan Physical Distancing Ala Ibnu Hajar

Bagi generasi milenial, sosmed sudah menjadi sebuah nyawa kedua yang menyangkut hajat hidup. Seorang generasi milenial saat mengalami kehilangan ataupun ketinggalan dompet di rumah pasti akan merasa biasa saja. Namun coba tebak bagaimana responnya saat kehilangan ataupun ketinggalan HP di rumah. Apa yang akan terjadi? Ya, bisa dipastikan mereka akan langsung membelinya saat kehilangan dan akan mengambilnya kembali di rumah saat ketinggalan. Tentu dengan caranya masing-masing.

Maka tidak mengherankan jika media sosial menjadi sebuah alat untuk menyatukan masyarakat dalam satu titik tertentu. Dalam dunia virtual, utamanya media sosial, masyarakat akan disuguhkan dengan berbagai fitur. Seperti contoh yang ada di Facebook. Saat pertama kali kita melakukan login di dilamnya, ita akan disuguhi dengan tampilan Beranda yang menampilkan sebuah tulisan; “Apa yang sedang Anda pikirkan?” Nah, seringkali, fitur inilah yang digunakan oleh sebagian besar masayarakat untuk menuliskan rutinitas dan segala problematika hidup, baik yang bersifat personal maupun bersifat public. Salah satu hasil tulisan (red:status) yang akhir-akhir ini sering bermunculan di media sosial adalah terkait dengan perkembangan virus Corona.

Hingga pada akhirnya, dalam setiap postingan yang ada menyertakan sebuah hastag #Dirumahaja. Tidak diketahui secara pasti siapa yang memprakarsai penggunaan hastag ini. Namun yang pasti, hastag ini lahir dari kebijakan pemerintah yang menerapkan pandemi Corona. Hastag ini muncul sebagai sebuah dukungan dari masyarakat sebagai himbauan kepada sesamanya untuk berdiam diri di rumah saja. Karena di saat masifnya persebaran cvirus Corona, dengan berdiam diri di rumah saja, tentunya akan memotong arus persebaran virus Corona.

Cukup #Dirumahaja

Hingga saat ini, virus Corona telah menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia. Sebagaimana yang telah dituliskan di atas, bahwa salah satu upaya pemerintah dalam kebijakan Pandemi Corona adalah dengan meliburkan berbagai instansi pemerintah dan pelayanan publik. Bukan tanpa alasan, penetapan massa libur 14 hari diambil karena dalam jangka waktu tersebut, gejala virus Corona akan bisa diidentifikasi penyebarannya dalam tubuh manusia. Selain itu, dalam kurun waktu 14 hari itu, pemerintah juga dapat melakukan penyemprotan di berbagai fasilitas public.

Selain itu, dengan berdiam diri di rumah saja, tentunya Kita juga mampu memberikan kelonggaran persediaan alat pelindung diri (APD). Karena sebagaimana yang kita ketahui bersama, bahwa APD saat ini mengalami kelangkaan di masyarakat. Selain langka, harga yang diperlukan untuk membelinya juga terhitung tidak murah. Sebagai contohnya adalah kelangkaan masker di masyarakat dan betapa mahalnya harga masker per boksnya

Maka dari itu, sudah sewajarnya bagi kita untuk berdiam diri di rumah saja. Dan tentu saja dengan memanfaatkannya untuk lebih membaur dan menghabiskan waktu dengan keluarga dan bahkan melakukan pembelajaran dan pekerjaan secara mandiri di rumah. Lebih dari itu, dengan berdiam diri di rumah, Resiko untuk terserang virus Corona juga akan semakin kecil. Dan tentu saja ini akan berimbas pada kinerja para tenaga medis, setidaknya kita tidak membebani dan menambah beban tugas mereka untuk merawat kita.

Sederhananya, dengan berdiam diri di rumah, secara tidak langsung kita juga telah membantu pemerintah, dan tentu saja para tenaga medis dalam berperang melawan Covid-19. Dalam hal ini, kita tidak perlu terjun langsung untuk melakukan perang terbuka melawan Corona. Mengingat, Virus Covid-19 ini bukanlah musuh yang kasat mata. Jadi, kita serahkan saja kepada musuh yang sepadan. Yakni para tenaga medis dan para relawan yang telah terlatih. Meskipun kita hanya berdiam diri #dirumahaja, bukan berarti kita pengecut. Sebaliknya, dengan berdiam diri #dirumahaja, kita merupakan pionir yang mampu memegang dan menentukan hasil akhir dari perang ini. Karena dengan kita berdiam diri #dirumahaja, secara tidak langsung, kita juga akan turut andil dalam memenggal persebaran virus Corona. Aku, Kamu, dan Kita bisa menjadi Man Of The Mach dalam perang ini, dengan cukup berdiam diri di rumah dan  mempercayakan semuanya kepada pemerintah dan tenaga medis. Dan tentu saja, mari kita saling mendo’akan, semoga bumi kita kembali sehat seperti sedia kala. Aammiinnnnn.

Facebook Comments