Trisukses Asian Games 2018: Penyelenggaraan, Prestasi, dan Spirit Perdamaian

Trisukses Asian Games 2018: Penyelenggaraan, Prestasi, dan Spirit Perdamaian

- in Suara Kita
405
0

Gegap gempita pelaksanaan Asian Games 2018 terus membahana sejak mulai pembukaan. Pesta olah raga se-Asia ini akan berlangsung hingga 2 September 2018. Tahun ini merupakan perhelatan ke-18, di mana Indonesia menjadi tuan rumah yang kedua kalinya setelah 1962. Sebanyak 45 negara ambil bagian.

Torehan prestasi mulai dipersembahkan atlit Indonesia. Evaluasi secara umum pelaksanaan berjalan lancar. Hal ini semakin memberkan motivasi akan tercapainya dwisukses untuk kepentingan nasional, baik dalam prestasi masuk 10 besar maupun pelaksanaan yang memuaskan.

Selain itu target global yang tidak boleh dikesampingkan adalah terbangunnya spirit perdamaian global khususnya Asia. Iklim sportifitas dan momentum saling mengenal antar budaya bangsa penting guna merajut tali persaudaraan. Spirit nasionalisme penting digelorakan di dada para atlet, official, dan supporter. Namun spirit persaudaraan dan perdamaian global juga harus dikuatkan dan ditransformasikan kepada semua negara.

Modal dan Target Kesuksesan

Jumlah cabang olahraga yang akan dipertandingkan sebanyak 40 cabang, terdiri dari 32 cabang olahraga olimpiade dan 8 cabang olahraga non olimpiade. Penyelenggaraan Asian Games XVIII yang awalnya akan diadakan pada tahun 2019 kemudian dimajukan menjadi tahun 2018 untuk menghindari pemilihan legislatif dan pemilihan presiden Indonesia yang juga akan diselenggarakan pada tahun tersebut.

Indonesia pertama kali ikut serta dalam Asian Games pada tahun 1951 dan tak pernah absen pada tahun-tahun berikutnya. Tren prestasi kontingen Indonesia cukup fluktuatif. Posisi terbaik adalah duduk dalam posisi kedua saat menjadi tuan rumah pada tahun 1962. Sedangkan posisi terburuk juga terjadi pada Asian Games 2006 di Qatar, yaitu peringkat ke-22.

Indonesia sendiri total mengirimkan 938 atlet yang bertanding di 40 cabang olah raga. Kontingen juga disertai dengan 365 officials. Jika ditambah skuad manajemen, tenaga pendukung, dan pelatih, maka total Tim Indonesia adalah 1.383 orang.

KONI mematok ada sepuluh cabang olahraga  yang berpotensi dijadikan lumbung medali emas untuk Indonesia. Antara lain Rollersport, Bridge, Basket 3×3, Jet Ski, Pencak Silat, Jiu Jitsu, Sambo, Kurash, Paralayang, dan Panjat Tebing.

Sejak 1951, Timnas Indonesia tercatat tampil dalam sembilan edisi Asian Games. Yakni, Asian Games 1951, 1954, 1958, 1962, 1966, 1970, 1986, 2006, dan 2014. Sementara Tim Garuda absen di cabang olahraga sepak bola pada edisi 1974, 1978, 1982, 1990, 1994, 1998, 2002, dan 2010.

Puluhan ribu dar seantero Asia bertemu dan berinteraksi. Momentum ini positif bagi pengenalan sosial budaya dan penguatan iklim persaudaraan. Hal tersebut menjadi modal besar bagi terciptanya spirit perdamaian global. Negara-negara di Asia memiliki keanekaragaman SARA. Hingga kini secara  umum perdamaian mampu dibangun bersama. Konflik-konflik kecil mulai ada titik terang penyelesaiannya, misalnya antara Korea Selatan dan Korea Utara. Bahkan keduanya ikut berlaga di Asian Games 2018 ini.

Mempupuk Spirit

Indonesia merupakan negara ketiga terbesar dari segi demografis di Asia. Posisinya juga selalu terdepan dalam berbagai aspek kehidupan. Olahraga menjadi salah satu simbol kebanggaan sekaligus penanda kemajuan suatu negara. Marwah olahraga mesti segera ditingkatkan melalui perbaikan prestasi mengembalikan masa-masa kejayaan silam.

Upaya mematok target masuk 10 besar memang sangat berat. Namun Indonesia diuntungkan selaku tuan rumah. Konsentrasi Tim Merah Putih kini ada pada upaya memperoleh 16 hingga 22 medali emas. Perjuangan atlet sama dengan nilai pejuang kemerdekaan karena demi membela bangsa. Sportifitas mesti diutamakan demi nama baik Indonesia.

Masing-masing cabang olahraga telah memasang strategi dan teknik guna mendapatkan hasil optimal. Semua pihak tentu memiliki peran sentral. Selain atlit, ada pelatih, organisasi cabang olahraga, tenaga medis, tenaga gizi, dan lainnya.

Hal yang perlu dioptimalkan adalah aspek nonteknis yang justru sering menjadi penentu. Tuan rumah akan selalu mengandalkan dominasi suporter. Indonesia tentu penting mengoptimalkan berbagai upaya guna memompa gelora nasionalisme para atlet. Gelora ini diyakini akan mampu mengakselerasi kemampuan teknis bertanding hingga beberapa kali lipat.

Spirit kemerdekaan yang berbasis nasionalisme mesti senantiasa terpatri dalam diri atlet saat berlaga. Persembahan prestasi bagi merah putih tentu memiliki nilai sama dengan perjuangan para pahlawan dulu ketika melawan penjajah. Atlet adalah pahlawan olahraga yang berjuang mengisi kemerdekaan dengan torehan prestasi internasional.

Gelora nasionalisme juga penting digemakan suporter di gelanggang setiap pertandingan. Fasilitasi dapat diberikan seperti bantuan pembelian tiket, transportasi, atribut peraga, dan lainnya.

Suporter Indonesia terkenal dengan kreasi dan militansinya. Atribut bernuansa merah putih mesti diperbanyak di tribun penonton. Yel-yel pembakar semangat bernuansa nasionalisme juga mesti diperbanyak. Apa pun itu iklim sportivitas mesti dijunjung tinggi. Suporter juga mesti melek regulasi agar tidak kontraproduktif bagi capaian atlet itu sendiri.

Pemerintah memiliki peran sentral bagi fasilitasi dan dukungan dalam mengakselerasi energi para atlet. Janji diberikan kepada semua atlit akan mendapatkan uang saku Rp. 1 juta per hari selama  mengikuti Asian Games.

Janji bonus pascameraih medali juga penting disampaikan sejak awal sebagai penyemangat yang realistis. Baik itu bonus kontan maupun penghidupan sebagai ASN dan lainnya. Bonus-bonus ini berpotensi dari berbagai sumber, seperti pemerintah pusat, kepengurusan cabang olahraga, pemerintah daerah, dan tentunya sponsor swasta yang mesti banyak digali.

Masing-masing atlet penting pula disediakan psikiater guna memberikan pendampingan psikologis. Tugas utamanya adalah menanamkan gelora nasionalisme hingga detik akhir pertandingan bagi setiap atlet. Pendekatan spiritualisme juga penting dilakukan.

Perjuangan atlet di medan pertandingan dapat diidentikkan dengan jihad karena membela tanah air. Keikhlasan penting ditanamkan dengan obsesi ibadah berpahala. Iklim sportivitas mesti dikuatkan agar memberikan bukti keteladanan bahwa Indonesia memiliki budaya damai dan ksatria, apa pun hasilnya.

Di samping itu, selaku tuan rumah, Indonesia dituntut mampu menghadirkan Asian Games dalam memupuk spirit perdamaian global. Keteladanan Indonesia dalam menjaga iklim sportifitas penting ditunjukkan. Selain itu juga dari supporter dan masyarakat umum mesti menunjukkan sikap ramah, kondusif dan bersaudara. Kita mesti menunjukkan sebagai negara yang paling kaya dalam aspek SARA namun hidup penuh kedamaian.

Facebook Comments