Tuhan yang Mengatasi Agama: Mengembangkan Sikap Toleran dan Inklusivitas Sejak Dini

Tuhan yang Mengatasi Agama: Mengembangkan Sikap Toleran dan Inklusivitas Sejak Dini

- in Narasi
329
0
Tuhan yang Mengatasi Agama: Mengembangkan Sikap Toleran dan Inklusivitas Sejak Dini

Kepolosan seorang bocah, barangkali, adalah teladan yang baik dalam soal menangguhkan perbedaan sistem iman, atau setidaknya, titik awal sekaligus titik akhir dalam bertuhan. Seorang bocah, yang barangkali pula sebelum konstruksi iman terbangun secara nalar dimana—untuk meminjam Husserl—dunianya masih hidup di dunia penghayatan (Lebenswelt), akan lebih memahami bahasa yang dalam spiritualitas agama dikenal sebagai “welas-asih” ataupun “kasih-sayang.”

Welas-asih atau kasih-sayang jelas adalah sebentuk perasaan yang mengatasi segala sekat perbedaan. Kebetulan anak-anak saya, Sangkan dan Pandam, terlahir muslim yang juga memiliki nenek yang non-muslim atau Katolik. Meskipun saya terbiasa untuk melakuan persinggungan dengan spiritualitas dan agama yang berbeda, namun ada yang menarik dari hubungan anak-anak saya dengan neneknya yang Katolik.

Barangkali, dengan melihat fenomena itu, orang-orang tekstualis akan segera mempertanyakan sebuah posisi sistem iman di sini. Lantas untuk apa “Islam,” “Katolik,” “Buddha,” “Penghayat Kepercayaan,” dst., ketika sang nenek itu tetap merindukan cucu-cucunya, tetap mendoakan mereka dengan caranya? Apakah, seumpamanya, sang nenek yang tak pernah lupa untuk mendoakan cucu-cucunya itu dengan “doa malaikat Tuhan” akan berpengaruh pada mereka?

Welas-asih ataupun kasih-sayang jelas pada dasarnya tak membutuhkan bahasa, apalagi perbedaan bahasa. Meskipun menurut para dekonstruksionis bahasa tak pernah merujuk pada realitas di luar dirinya dan hanya mengacu pada dirinya sendiri, namun sebentuk perasaan—yang pada hakikatnya tak pernah terbahasakan, atau setidaknya mampu diwakili oleh bahasa—adalah sebentuk energi yang mampu menggerakkan, yang barangkali pula adalah bagian dari apa yang kita disebut sebagai iman.

Terhadap perbedaan cara berdoa, yang juga merupakan bagian dari perbedaan cara beriman, saya lazimnya hanya akan menjumput persinggungan-persinggungan yang pasti ada dalam setiap sistem iman. Saya mengenal “doa malaikat Tuhan” itu sebagai “sholawat muqarrabin” dalam tarekat yang berbasiskan agama Islam. Dan bahkan seumpamanya kelak anak-anak saya tergoda untuk berpikir tentang Trinitas dalam agama Katolik, Allah Bapa-Allah Anak-Roh Kudus, saya hanya akan menjelaskannya dengan konsep kosmogoni sufisme, Allah-Nur Muhammad-Ruh Idhafi.

Secara umum, dengan fakta perkembangan dunia yang mustahil disekat seperti sekarang, inklusivitas sebuah sistem iman—seperti dalam doktrin bahwa Islam adalah rahmat bagi semesta alam, terdapat keselamatan di luar gereja, dst.—adalah hal yang akan dengan sendirinya menjadi bagian dari sebuah iman. Hal seperti ini dapat terjadi karena inklusivitas dan toleransi adalah bagian dari apa yang saya istilahkan sebagai “autochthony” bangsa Indonesia (Petaka Melankolia: Perihal Kebhinekaan, Kenusantaraan, Radikalisme dan Terorisme, Heru Harjo Hutomo, PT Nyala Masadepan Indonesia, Surakarta, 2021). Dan bukankah terdapat doktrin yang meyakini bahwa “hubbul wathon minal iman”?

Taruhlah dalam berbagai aliran penghayat kepercayaan yang berbasiskan budaya-budaya lokal, khususnya di Jawa. Toleransi, yang dalam vokabulari Jawa disebut sebagai “tepa sarira,” jelas telah menjadi sikap dasar yang tercantum dalam banyak AD/ART aliran-aliran penghayat kepercayaan yang berbasiskan budaya Jawa. Komitmen untuk tak menggantikan agama, dan bahkan semangat untuk melengkapi agama yang ada, serta anjuran untuk tak “nyacat kawruh liyan” atau melecehkan keyakinan yang lain, telah menjadi sesanggeman atau kesanggupan yang mesti diemban oleh para pengikutnya.

Dengan demikian, sikap seorang bocah yang masih dominan dunia penghayatannya (Lebenswelt), yang berpotensi untuk mengembangkan dunia yang inklusif dan toleran, adalah seperti halnya para sufi yang konon untuk pertama kalinya lebih dapat mengenal Tuhan dari aspek jamaliah-nya yang sarat dengan welas-asih ataupun kasih-sayang.

Facebook Comments