Ulama Nusantara, Pilar Utama Pemersatu Bangsa

Ulama Nusantara, Pilar Utama Pemersatu Bangsa

- in Suara Kita
317
0

Kini kelahiran republik ini telah menginjak titian ke tujuh puluh dua. Usia yang sudah demikian matang, bahkan sudah renta untuk ukuran manusia. Dalam sejarah panjang revolusi bumi pertiwi ini, sedari perjuangan meraih kemerdekaan, perjuangan mempertahankannya, hingga kini mengisinya dengan pembangunan, kita tentu tidak menampik peran agung dari ulama. Banyak ulama nusantara yang turut andil dalam pembentukan NKRI ini.

Fakta sejarah telah berbicara salah satu tokoh heroik, K.H. Hasyim Asy’ari menggagas lahirnya resolusi jihad 22 Oktober 1945. Resolusi jihad ini menurut Muhammadun (2013) merupakan manifestasi nasionalisme para ulama serta kyai dalam membela tegaknya kemerdekaan Indonesia dengan mengeluarkan “fatwa jihad” untuk berperang melawan penjajah. Nasionalisme melekat kuat dalam diri K.H. Hasyim Asy’ari. Terlebih, saat itu umat Islam sedang digegerkan oleh ide Pan-Islamisme Jamaluddin al-Afghani yang mendorong tumbuhkembangnya jiwa nasionalisme masyarakat Islam di Indonesia.

Ulama juga telah turut berkontribusi besar dalam perumusan ideologi bangsa, yakni Pancasila. Cendekiawan Islam,  ulama-ulama besar seperti KH. Wahid Hasyim, Abdul Kahar Muzakir, H. Agus Salim, beberapa di antara Panitia Sembilan yang urun rembuk di dalam perumusan Pancasila. Pun demikian dengan rumusan dasar negara UUD 1945, dalam alenia ketiga Pembukaan (Preambule) UUD 1945, yang berbunyi, ”atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur”, merupakan penggalan yang diinisiasi oleh ulama-ulama nusantara.

Penegasan ini perlu ditekankan lagi, mengingat dewasa ini jamak mencuat anggapan keliru, bahwa ulama banyak yang terlibat tidakan terorisme ataupun pemecah belah umat. Tak sedikit orang menuduh ulama tidak nasionalis, bukan pancasilais, bahkan anti-kebhinekaan. Padahal kita tahu sendiri, Sukarno pernah berujar “jangan pernah melupakan sejarah” (jas merah). Dan sejarah bumi pertiwi ini sedari awal nomenklaturnya Nusantara hingga kini Indonesia, kontribusi ulama dalam perjuangan pembentukan NKRI adalah keniscayaan yang tak terbantahkan.

Sederetan nama pahlawan nasional dan pejuang kemerdekaan pun tak luput dari orang-orang Islam. Kita tentu masih ingat, kumandang Allahu Akbar Bung Tomo tatkala mengobarkan semangat perjuangan arek-arek Suroboyo. Bahkan, Bung Tomo memompa semangat rakyat Surabaya yang punya semboyan, lebih baik berjuang dan mati, dari pada hidup dijajah lagi  (Muhammad, 2006: 21-27). Apakah Bung Tomo merupakan orang yang tidak nasionalis. Sementara, ia begitu getol menyulut kobaran semangat para pejuan Indonesia agar tetap menyala. Bung Tomo banyak terinspirasi K.H. Hasyim Asy’ari. Bung Tomo kerap berkunjung ke kediaman Sang Kiai untuk mendapat kekuatan spiritual dan keteguhan imannya di saat berjuang. Maka, tidak heran jika semangatnya bergelora.

Ternyata, Bung Tomo bukan satu-satunya, Jenderal tangguh nan karismatik Sudirman, selain menggaungkan Takbir saat menakhodai perang kerap mengutip kalimat “Isy kariiman         aumut syahidan” yang bermakna ”Hidup mulia atau mati syahid”. Sang Panglima dalam setiap pidatonya juga seringkali mengutip ayat-ayat Al-Qur’an, seperti Q.S. Al-Baqarah ayat 154 serta Ash-Shaff ayat 10 dan 11 berkaitan dengan hakikat jihad. Lalu, elokkah kita menyebut Jenderal Sudirman anti-kebhinekaan, tentu tidak. Dan masih banyak lagi para pejuang Islam dan juga ulama lainnya, yang tentunya bukan orang-orang yang anti NKRI.

Berbagai narasi sejarah terkait ulama tersebut membuktikan bahwa ulama nusantara merupakan pilar pemersatu bangsa, benteng keutuhan NKRI. Ulama tak sekadar berdakwah memberikan nilai-nilai religius, akan tetapi juga mempunyai peran penting dalam pembentukan NKRI dan mempersatukan umat. Sebagai pilar pemersatu bangsa, ulama diharapkan bisa membangun bangsa seutuhnya sehingga seluruh pembangunan memiliki nilai religius. Tentu, upaya ini perlu sinkronisasi antara jajaran pemerintah (umara) dengan para ulama serta rakyatnya. Dengan itu semua, benteng keutuhan NKRI akan kokoh, persatuan bangsa pun akan terjaga.

 

 

 

Facebook Comments