“War Takjil”: Humor sebagai Garis Temu Kita dengan Tuhan

“War Takjil”: Humor sebagai Garis Temu Kita dengan Tuhan

- in Narasi
21
0
Lebaran Ketupat: Katalisator Wasatiah Islam dan Antitesis Wahabisme

Beberapa waktu lalu, Prof. Dr. Robert Setio dinobatkan sebagai guru besar di Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta. Dalam salah satu penelitiannya ditemukan bahwa salah satu permasalahan utama yang kita punya adalah ketika kita beragama tanpa mampu berhumor. Justru, menurut Prof. Robert, Tuhan dapat ditemukan melalui humor. Benarkah demikian?

Contoh nyatanya terwujud dalam “war takjil” yang sedang viral akhir-akhir ini. Istilah itu muncul ketika bermunculan kisah-kisah di media sosial tentang bagaimana orang-orang yang tidak berpuasa bersaing membeli takjil dengan mereka yang berpuasa. Tentu, dengan respon yang hangat dan gembira, persaingan ini tidak berujung konflik, apalagi saling amuk. Persaingan ini menjadi kumpulan kejadian-kejadian lucu yang justru mengeratkan hubungan di antara masyarakat Indonesia yang beragam kepercayaan dan agamanya.

Sebenarnya tidak ada yang unik dalam peristiwa itu sendiri. “War takjil” ini memang bisa juga jadi bibit konflik jika direspon dengan cara yang buruk. Orang-orang yang menjadi bagian dari “war takjil” ini seperti berjalan di garis-garis tepi, perbatasan antara orang yang berpuasa dan yang tidak berpuasa, perbatasan antara perdamaian dan konflik. Humor dalam “war takjil” ini menjadi garis tepian bagi dua kenyataan yang dapat kita bahas satu-persatu di sini.

Pertama, Kenyataan dari orang-orang yang berpuasa bertemu dengan kenyataan dari orang-orang yang tidak berpuasa. Tidak hanya Kristen dan Islam saja sebenarnya. Orang-orang dengan berbagai agama dan kepercayaan juga saling bertemu dalam peristiwa viral yang belum tentu terulang di tahun-tahun ke depan. Melebihi dialog-dialog dengan meja-meja formal di depan panggung mewah, pertemuan antar-agama dalam hidup keseharian justru menyodorkan bentuk nyata dari pertemuan antar-agama. Dalam titik-titik temu di pasar inilah kenyataan yang mendalam tentang kasih sayang yang Tuhan ajarkan pada setiap makhluk justru dapat ditemukan. Dalam titik-titik temu di pinggir jalan inilah kebersatuan dalam perbedaan yang menjadi semboyan negara itu justru benar-benar dapat kita lihat.

Kedua, yang perlu disorot di sini adalah respon positif dari masyarakat. Sekali lagi, tidak ada yang beda antara “war takjil” ini dengan persaingan para pembeli bahan makanan di pasar yang juga memiliki berbagai agama dan kepercayaan, entah untuk makan siang nanti atau untuk berbuka puasa sore harinya. Tidak ada juga yang berbeda dari berbagai persaingan lainnya yang malah menjadi benih konflik. Namun, yang membuat “war takjil” ini menjadi pertemuan yang saling membawa senyum, bukan perkelahian adalah humor. Di situ kita melihat pentingnya humor dalam beragama. Tentu kita mengingat betapa erat ingatan kita tentang Gus Dur sebagai tokoh hubungan antar agama di Indonesia dengan humornya beliau yang khas, yang mungkin mampu meredam semua konflik beragama di Indonesia itu.

Kembali pada Prof. Robert. Ia memerhatikan pola yang berbalik dalam cara kita membaca teks-teks suci, paling tidak dalam tradisi Kristen. Kadangkala sisi-sisi humor yang ada dalam kitab suci menjadi salah dipahami oleh karena anggapan kita bahwa kita harus selalu serius dalam membaca kitab suci kita masing-masing. Berbagai ayat dalam Alkitab dapat ditafsirkan dengan kesadaran bahwa humor tidak lepas juga dari kehidupan umat beragama di masa lalu. Sehingga, humor itu juga harus dibawa ke dalam cara kita beragama hari ini.

Dengan membuka diri pada humor ketika kita membaca kitab suci dan ketika kita membangun relasi dengan kawan atau saudara kita yang berbeda agama atau kepercayaan, maka sebagian kecil dari realitas ilahi yang tadinya tertutup oleh tabir-tabir keseriusan itu juga tersingkap pada kita. Keagamaan baru menjadi urusan yang selalu ditanggapi dengan cemberut setelah dia digunakan sebagai alat manipulasi saja.

Ketika humor itu diusir dari kehidupan beragama, di sanalah ada kesan seakan-akan kita tidak bisa bercanda dengan pemimpin-pemimpin keagamaan kita, dengan saudara kita yang berbeda agama, dan bahkan dengan kawan yang seagama sekalipun. Sebagai contoh buruknya, ada juga pihak-pihak intoleran yang justru mulai dagangannya agar tidak dibeli oleh orang-orang yang tidak berpuasa dengan tuduhan bahwa mereka “merebut” jatahnya orang yang tidak berpuasa. Hal ini bukan menjadi benih kebaikan dan malah menjadi bibit-bibit konflik. Tanpa humor, urusan tentang agama malah menjadi sesuatu yang menyeramkan. Padahal agama itu menebarkan cinta kasih dan kebahagiaan. Padahal orang Indonesia itu mampu santai dan bercanda lepas dalam keberbedaan.

Humor memang menggeliat di garis-garis perbatasan. Humor adalah titik temu kita dengan kenyataan-kenyataan yang di luar dugaan kita, yang kadang kita tidak sadari sebelumnya. Berbagai hal menjadi lucu ketika kita berpikir seharusnya demikian, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Di kasus ini contohnya, adalah ketika orang-orang yang padahal tidak berpuasa, tapi nyatanya ikut mencari takjil, mencari kudapan sebelum berbuka puasa. Humor mempertemukan orang-orang dengan berbagai agama. Humor mempertemukan kita juga dengan keputusan untuk memilih canda dan tawa daripada amarah dan kebencian. Humor menunjukkan bagaimana kita menjalankan ajaran-ajaran Tuhan tentang cinta kasih dan kebahagiaan dalam kehidupan kita bersama.

Facebook Comments