Waspadai Hoax yang Mengadu Domba atas Isu Rohingya

Waspadai Hoax yang Mengadu Domba atas Isu Rohingya

- in Suara Kita
77
0

Kembali memanasnya isu kekerasan dan genosida etnis Rohingya di Myanmar, menyita perhatian masyarakat Indonesia. Menyebar informasi berupa foto yang tidak valid hingga penyudutan terhadap pihak tertentu menjadikan kasus Rohingya di Indonesia menjadi informasi yang keruh. Foto dan video yang tidak dapat diverifikasi kebenarannya menurut laporan BBC, Sabtu (2/9/2017) akan menyebabkan konflik semakin naik.

Banyak orang yang melebih-lebihkan informasi untuk menarik simpatik. Ada pula para tokoh yang berbicara kasus kekerasan Rohingya untuk menyudutkan atau mengkritik pemerintah. Cara-cara yang berlebihan dan jauh dari fakta akan menyebabkan konflik-konflik kecil di masyarakat kita

Kita patut untuk mendukung etnis Rohingya karena beberapa hal. Setidaknya ada dua alasan kenapa kita harus mendukung Rohingya, karena alasan agama dan kemanusiaan. Agama sangat menganjurkan untuk menghormati hak asasi manusia. Saat khotbah wada (perpisahan), Nabi Muhammad Saw. memberikan pesan kepada umatnya agar menjaga hak asasi manusia. Nabi berpesan agar setiap manusia tidak boleh mengalirkan darah, merampas harta dan mengganggu kehormatan sesamaya atas alasan apapun.

Pesan tersebut membawa arti, kita harus menghormati sesama manusia. Jangan sampai di antara umat Nabi Muhammad Saw. saling merugikan, baik harta ataupun jiwa. Betapa sangat mahalnya rasa kemanusiaan disisi Islam.

Begitu juga dengan hukum internasional, hak asasi manusia menjadi fokus yang sangat penting untuk ditangani. Majlis umum PBB mencanangkan Pernyataan Umum tentang Hak Asasi Manusia (universal declaration of human right) tanggal 10 Desember 1948. Deklarasi tersebut terdiri 30 pasal yang mengumandangkan seruan agar rakyat menggalakkan dan menjamin pengakuan yang efektif dan penghormatn terhadap hak-hak asasi manusia dan kebebasan-kebebasan yang telah ditetapkan dalam deklasai. Pada pasal pertama, menegaskan semua orang dilahirkan dengan martabat dan hak-hak yang sama dan berhak atas semua hak dan kebebasan sebagaimana yang ditetapkan oleh deklarasi tanpa membeda-bedakan baik dari segi ras, warna kulit, jenis kelamin, agama, pandangan politik, asal-usul kebangsaan atau sosial, hak milik, kelahiran atau kedudukan yang lain.

Mendukung Tanpa Hoax

Dari beberapa alasan, kita patut untuk mendukung etnis Rohingya. Perlu kiranya untuk menjadi perhatian bersama, mendukung tanpa merendahkan kelompok lain, mendukung tanpa memproduksi berita hoax untuk menggalang masa, menjadi prinsip yang harus dipegang semua orang. Mengingat dampak dari berita hoax akan memperkeruh suasana, dan dapat menimbulkan konflik baru.

Banyak orang yang membelokkan isu etnis Rohingya menjadi isu sentiman agama, sehingga banyak orang pula yang bergerak atas landasan sentiman agama. Tidak sedikit kita menemukan informasi di media sosial bahwa kasus pembantaian Rohingya didasarkan sentimen agama, yaitu gejolak antara orang Budha dan orang Islam. Dari narasi yang berkembang itulah kemudian ada beberapa kelompok yang mencoba untuk melakukan aksi untuk mengepung situs bersejarah di Indonesia, Boronudur.

Alissa Wahid, tokoh perempuan Nahdlatul Ulama (NU) yang juga putri dari KH. Abdurrahman Wahid menuturkan bahwa kaum muslim wajib bersolidaritas karena korban Rohingya semua muslim. Baginya, perlu diingat bahwa mereka menjadi korban karena stateless (tidak punya kewarganegaraan), bukan karena agamanya. Di dalam tweetnya, Alissa Wahid juga menjelaskan bahwa atas kasus Rohingya terjadi genosida oleh negara Myanmar, problem utamanya adalah kewarganegaraan. Sedangkan aspek agama mewarnai kasus tersebut, bukan sebaliknya.

Pembelokkan isu yang berupa produksi berita hoax menjadi isu sentimen agama berakibat fatal khususnya bagi warga Indonesia. Isu sentimen agama atas kasus Rohingya hingga menggerakkan kelompok-kelompok masyarakat yang ada di Indonesia memberi dukungan yang salah alamat. Ada sebagian kelompok yang hendak melakukan aksi bela Rohingya di kompleks Candi Borobudur, Magelang pada Jum’at 8 September 2017. Hal itu dibenarkan oleh salah satu kelompok yang hendak aksi yaitu Front Pembela Islam (FPI) kabupaten Klaten, Suyadi Al Abu Fatih atas laporannya tempo.co pada 4 September 2017.

Kabar aksi mengepung borobudur beredar di grup Whatsaap dan Facebook yang akan digelar oleh berbagai kelompok untuk solidaritas etnis Rohingya. Rencana aksi tersebut akibat informasi-informasi yang kurang valid atau hoax atas kasus Rohingya. Mereka mempercayai narasi yang berkembang atas kasus Rohingya adalah konflik agama antara Budha dan Islam.

Adapun Budhis di Myanmar yang keji terhadap etnis Rohingnya di Myanmar tidak ada sangkutpautnya dengan Budhis yang ada di Indonesia. Pada tanggal 30 Agustus 2017, para pimpinan majelis-majelis agama Budha Indonesia mengeluarkan pernyataan sikap terhadap krisis kemanusiaan di Rakhine, Myanmar. Mereka prihatin yang mendalam atas kasus krisis kemanusiaan di Rakhine, Myanmar dan salah satu pernyataan sikapnya, menghimbau masyarakat Indonesia untuk menyaring informasi yang beredar melalui media sosial dan tidak terprovokasi untuk menyebarkan kebencian. Mereka sangat mengharapkan kepada Cyber crime Polri dan BIN agar mendeteksi informasi yang berbentuk provokasi agar tidak tersebar di masyarakat.

Facebook Comments