Wayang Wahyu; Selebrasi Natal Bernuansa Kearifan Lokal

Wayang Wahyu; Selebrasi Natal Bernuansa Kearifan Lokal

- in Kebangsaan
49
0
Wayang Wahyu; Selebrasi Natal Bernuansa Kearifan Lokal

Sebagaimana momentum perayaan Idulfitri yang dirayakan dengan berbagai tradisi yang berbeda di tiap daerah, perayaan Natal pun punya kecenderungan serupa. Kristen sebagai agama yang pertama kali masuk di era kolonialisme, dalam perkembangannya juga mengalami hibridasi dengan budaya lokal Nusantara.

Akibat proses hibridasi itulah muncul beragam varian ekspresi kekristenan di Indonesia yang telah bercampur dengan kebudayaan lokal. Di Nusa Tenggara Timur, provinsi yang mayoritas penduduknya beragama Kristen, Natal biasanya dirayakan dengan tradisi Van Vere, yakni paduan suara dengan iringan alat musik tradisional dan irama lagu khas bumi Larantuka.

Di Sumatera Utara ada tradisi Marbinda, yakni menyembelih babi sehari jelang Natal dan dagingnya dibagikan ke umat Kristen. Di Jakarta, Natal dirayakan dengan tradisi “Rabo-Rabo”. Istilah ini berasal dari bahasa Portugis yang berarti ekor. Tradisi Rabo-Rabo adalah kebisaan mengunjungi saudara di hari Natal dengan cara berbaris mengekor.

Tradisi Wayang Wahyu

Sedangkan di Yogyakarta, perayaan Natal biasanya diramaikan dengan tradisi pementasan wayang kulit yang secara khusus dinamakan Wayang Wahyu. Berbeda dengan pementasan wayang kulit biasa yang menceritakan kisah dari seri Mahabarata dan Ramayana, Wayang Wahyu ini secara khsusu menceritakan tentang kisah hidup Yesus Kristus mulai dari kelahirannya sampai perjalannya menyebarkan ajaran Kristen.

Wayang Wahyu ini biasanya dipentaskan pada malam Natal dan dihadiri oleh para pemuka agama Kristen dan jemaat gereja. Mereka biasanya datang ke acara pementasan tersebut dengan mengenakan pakaian khas Jawa-Yogyakarta.

Yang laki-laki mengenakan kain jarik, baju beskap, lengkap dengan belangkon. Sedangkan yang perempuan mengenakan kebaya, dan rambut yang tersanggul. Wayang Wahyu juga menampilkan kidung-kidung kristiani yang dilantunkan dalam langgam jawa dan diiringi gamelan nan syahdu.

Dalang dalam pementasan Wayang Wahyu biasanya juga akan menyelipkan pesan-pesan ajaran Kristen dalam pementasannya. Tidak hanya itu, dalang Wayang Wahyu juga akan menjabarkan kisah-kisah yang terdapat dalam kitab injil sebagai pelengkap pementasan tersebut.

Mengutip Muhammad Fajar Mileneo, Wayang Wahyu ini mulanya tercipta atas inisiasi dari Bruder Timotheus L. Wignyosubroto pada 2 Februari 1960 yang saat itu menjadi seorang biarawan dan menjabat sebagai kepala SD Pangudi Luhur Purbayan.

Ketika itu, ia menonton pertunjukan wayang dari M. M. Atmowijoyo yang menceritakan lakon ‘Dawud Mendapat Wahyu Kraton’ yang bersumber dari perjanjian lama. Pasca pentas tersebut, ia bersama pegiat budaya lain pun berinisiatif untuk membuat konsep pertunjukan wayang sendiri dan membentuk komite untuk mengembangkan sebuah wayang Katolik yang kemudian dikenal sebagai wayang wahyu.

Dari situ, terciptalah sebuah paguyuban bernama Wayang Wahyu Ngajab Rahayu yang menjadi wadah untuk pengembangan kesenian ini. Tujuan wayang wahyu sendiri adalah sebagai sarana untuk menyampaikan ajaran-ajaran Kristiani, namun dengan cara yang sekiranya bisa diterima masyarakat dan tentunya kental akan nilai-nilai budaya yang juga menjadi bagian dari masyarakat Jawa.

Sehingga, selain nilai ajaran Kristiani bisa tersampaikan, pementasan wayang ini juga berperan sebagai upaya pelestarian budaya lokal. Perlahan, wayang wahyu pun mendapatkan antusias yang besar dari masyarakat dan dalam perjalanannya, wayang ini juga mendapatkan banyak pengembangan-pengembangan.

Spirit Inklusivisme Kristen

Selain itu, wayang ini tidak hanya ditampilkan di wilayah Yogyakarta saja, namun juga ke berbagai daerah di Jawa Tengah. Salah satu sanggar yang kini aktif untuk menampilkan wayang wahyu di Yogyakarta adalah Sanggar Seni Budaya Bhuana Alit. Di Purwokerto, ada pula Paguyuban Wayang Wahyu Hamanguningsih.

Wayang Wahyu tidak diragukan merupakan bentuk akulturasi agama Kristen dan kearifan lokal, yakni tradisi Jawa Tengah dan Yogyakarta. Keberadaan Wayang Wahyu ini membuktikan bahwa Kristen adalah agama yang inklusif dan adaptif pada kearifan dan budaya lokal setempat.

Wayang Wahyu sekaligus juga membuktikan bahwa agama tidak harus selalu dipahami sebagai ajaran yang eksklusif dan kaku. Sakralitas keagamaan seperti konsep keimanan dan ritual tentu harus dipertahankan sebagaimana aslinya. Namun, ekspresi keberagamaan bisa terus dikembangkan sesuai dengan lokalitas.

Sebagai sebuah manifestasi perjumpaan budaya antara Kristen dan tradisi Jawa-Yogyakarta, Wayang Wahyu tentu perlu terus dilestarikan keberadaannya. Terutama di tengah gempuran modernitas dan arus purifikasi keagamaan yang kerap tidak adaptif pada kearifan lokal.

Wayang Wahyu adalah bukti bahwa antara dimensi keagamaan dan lokalitas tidak harus dibenturkan. Di satu sisi, agama bisa menjadi sumber moral bagi pengembangkan kebudayaan lokal. Di sisi lain, kearifan lokal bisa memperkaya ekspresi keberagamaan. Akulturasi agama dan kearifan lokal ini akan melahirkan praktik keberagamaan yang toleran dan inklusif.

Facebook Comments