Islamku, Islam Anda, Islam Kita

Islamku, Islam Anda, Islam Kita

- in Pustaka
5607
0

Salah seorang kawan pernah bergoyon dengan saya, dia bilang “jadi orang Islam itu ribet, semua diatur dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, coba mana yang gak diatur di Islam sampai urusan bung hajat di kakus aja ada aturannya?!” Saya mesem-mesem dengar ungkapannya, dia tentu bukan sedang kecewa terhadap Islam, apalagi mau melecehkan. Husnudzan-nya, dia sedang menunjukkan Islam adalah agama luar biasa yang sangat teliti terhadap kebaikan kehidupan manusia.

Belakangan obrolan kawan saya tadi itu banyak benarnya. Saya dan pasti juga anda sering melihat orang Indonesia mencari pembenaran atau penyalahan aktifitas orang lain lewat dalil. Tentu saja yang dimaksud adalah dalil agama. Bahkan, untuk hal-hal yang berbau haram dan terlarang masih saja ada orang mencari pembenarnya. Misal saya pernah dengar seorang kawan birokrat yang meyakinkan saya bahwa menerima hadiah dari ‘rekanan’ alias gratifikasi itu boleh dalam agama selama dia tidak meminta. Dia sebut itu namanya hibah dalam terminologi agama. Hibah jelas hukumnya, boleh!

Dalam ranah sosial Muslim Nusantara tentu contoh yang saya ungkap tadi bukan barang baru. Diskursus dari ragam kelompok dan aliran selalu membawa-bawa teks Islam, kadang sebagai dukungan argumentatif maupun dukungan legalitatif. Cara itu –membawa agama dalam diskusi- bukan monopoli kelompok yang disebut ‘radikal’, ‘islamis’, atau ‘tekstualis’ saja. Cara yang sama juga digunakan kelompok yang menamakan diri atau dinamakan sebagai kelompok ‘liberalis’ atau ‘sekularis’.

Bayangkan saja, kelompok yang dengan tegas sekular dan liberal, masih butuh ‘ayat’ untuk melegitimasi argumentasinya. Tentu saja cara kelompok ini memahami teks suci berbeda dengan kelompok lain yang ‘keras’. Itu artinya, tak ada yang liberal betulan atau betul-betul sekular. Hal yang sama juga dilakukan oleh kelompok yang ketat memahami agama. Meski tidak setuju penggunaan rasionalitas dalam memahami teks suci, tak jarang tanpa sadar mereka menggunakan rasionalitas sendiri dalam memahami agama.

Presiden RI keempat, KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, pernah dengan arif memahamkan kondisi tersebut. Dia melihat bahwa ‘memahami Islam’ adalah sebuah proses dan dialektika yang terus menerus bergulir. The understanding of Islam (memahami Islam) bukan semata lahir dari pembacaan atas teks, melainkan berasal dari pengalaman-pengalaman individu atau kelompok saat melaksanakan ajaran agama.

Pengalaman-pengalaman pribadi itu, pasti tentu berbeda dengan pemahaman dan pengalaman pribadi orang atau kelompok lain. Pembacaan, pengalaman, dan pemahaman pribadi seseorang terhadap ajaran agamanya itulah yang disebut ‘Islamku’. Sementara ketika seseorang yang sudah punya definisi ‘Islamku’ melihat praktik keagamaan pihak lain akan menyebutnya sebagai ‘Islam Anda’.

Gus Dur menawarkan cara membaca Islam yang berbeda-beda itu. Dari berbagai tulisan yang berserak di sejumlah kolom surat kabar, inteletual Islam besar di Indonesia ini diketahui melihat problem keislaman lewat latar belakang historis, sosiologis, dan budaya. Baginya, pengamalan orang ber-Islam terkait erat dengan pengalaman pribadinya. ‘Islamku’ lahir dari pengalaman berbeda dengan ‘Islam Anda’, begitu pula sebaliknya.

Tukar gagasan menjadi kunci dialektis sekaligus dialog antar pengalaman ber-Islam. Betul bahwa ‘Islamku’ sebagai pengalaman pribadi perlu diketahui orang lain, tapi tidak bisa dipaksakan kepada orang lain. Tukar gagasan dan pengalaman ini hanya bisa dilakukan dengan berfikir dan bersikap terbuka terhadap kelompok yang berbeda. Jika bisa, hasil dialog tadi menjadi sintesis pengalaman baru yang berbeda dengan ‘Islamku’ maupun ‘Islam Anda’. Eklektisme antar dua pemahaman Islam berbeda itulah yang akan menjadi ‘Islam Kita’.

Berproses menjadi ‘Islam Kita’ bukan perkara mudah. Itu butuh kesabaran dan kelapangan dada, sekaligus terbuka pada ide-ide baru yang konstruktif. ‘Islam Anda’ yang lahir karena pergumulan intelektual anda di Timur Tengah, misalnya, boleh jadi tidak cocok dengan pengalaman keislaman di tanah air. Karena tanah air anda dengan ‘Islam Anda’ ala Timur Tengah itu berbeda secara sosial dan latar belakang sejarah dan budayanya.

‘Islam Kita’ semestinya adalah puncak kesadaran ber-Islam setelah berdialektika dengan kondisi sosial. Gus Dur memberi kerangka jelas yang jadi pertimbangan dalam ‘Islam Kita’. Menurutnya, mencari formulasi yang tepat soal ‘Islam Kita’ harus memperhatikan kepentingan umum (umat) dan kebaikan untuk bangsa (dan negara) dimana Islam itu diformulasikan. Dengan cara itu, ‘Islam Kita’ diarahkan pada penyelesaian persoalan kebangsaan. Persoalan diskursus ideologi (teokrasi atau demokrasi), kepemimpinan negara, keadilan dan HAM, ekonomi, kebudayaan, terorisme, hubungan internasional, dan sebagainya harusnya tidak lagi dipandang secara apriori atau konservatif oleh umat Islam.

Nampaknya, sebagaimana husnudzan saya pada kawan di awal cerita tadi, Islam yang kaffah itu luar biasa dan akan menjadi energi yang makin besar dan berguna bagi kepentingan setiap orang; bukan hanya saya dan anda, tapi kita semua! Tapi itu sangat bergantung dengan bagaimana kita memahami Islam.

Facebook Comments