5 Vaksin BNPT Untuk Mereduksi Paham Intoleran dan Radikal

5 Vaksin BNPT Untuk Mereduksi Paham Intoleran dan Radikal

- in Narasi
417
0
5 Vaksin BNPT Untuk Mereduksi Paham Intoleran dan Radikal

Tidak bisa dipungkiri jika akar gerakan terorisme di Indonesia salah satunya berasal dari gerakan Wahabi. Sebagai contoh, jaringan gerakan Bom Bali Dua berasal dari mujahid Afganistan, murid Osama bin Laden, yang pemikirannya dikiblatkan pada Abdullah Azzam (salah satu tokoh di balik berdirinya Al Qaeda yang merupakan tokoh Wahabi). Kemudian jaringan teroris yang datang selanjutnya juga masih satu garis dengan aliran Wahabi.

Pokok ajaran Wahabi dapat dikenali dari doktrin keberagaman yang diusung. Corak pandangan mereka yang eksklusif, fundamental, radikal, konservatif, dan eksterm membuat kelompok ini ditakuti banyak orang. Doktrin tersebut disebut mirip dengan doktrin yang diusung oleh kelompok Khawarij di masa lalu. Sehingga keberadaan Wahabi sering disebut sebagai neo-Khawarij.

Pada dasarnya, terdapat 8 pokok ajaran Wahabi yang menjurus kepada tindakan terorisme, yaitu al-hakimiyyah (mengakui kedaulatan tunggal Tuhan), al-wala’ wa al-bara’ (meyakini keyakinan pribadi dan menolak keyakinan selainnya), takfir al-hukkam wa ajhijah al-daulah (mengkafirkan seluruh jajaran pemerintahan dan aparatur negara), dar al-kufr wa dar al-harb (dunia yang diisi oleh orang kafir yang harus diperangi).

Kemudian,iqamah al-khilafah ‘ala minhaj al-nubuwwah (menegakkan sistem khilafah sesuai khilafah yang ditegakkan Nabi), al-jihad fi sabilillah (berjihad dengan membunuh siapa saja yang melawan), al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahy ‘an al-munkar (jalan kekerasan untuk melenyapkan segala bentuk kemungkaran), jahiliyyah al-‘alam (meyakini adanya penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan masyarakat).

Kedelapan hal tersebut mendasari terbentuknya perilaku terorisme di Indonesia. Dimana sikap Wahabi yang cenderung keras didasarkan pada pokok ajaran yang diyakini. Sehingga arus gerakan mereka selalu menyeru kepada tindak kekerasan, yang berpuncak pada tindakan terorisme.

Strategi Gerakan Wahabi di Indonesia

Ridwan (2018) mengungkapkan jika Wahabi menggunakan 4 taktik jitu untuk menyebarkan pahamnya. Pertama, melakukan pembiayaan secara khusus untuk menerbitkan majalah, buletin, tabloid, dan beberapa percetakan untuk mewadahi gagasan mereka dan menyebarluaskan ke masyarakat. Tidak sedikit juga dana yang dikeluarkan untuk menyelenggarakan event ternama, seperti bazar buku dan acara keislaman. Semuanya didesain khusus untuk menyebarkan ajaran wahabi.

Kedua, mendirikan lembaga pendidikan yang secara khusus didanai untuk kepentingan Wahabi. Biasanya lembaga pemdidikan tersebut, baik kurikulum maupun metode pengajarannya dikuasai penuh oleh oknum Wahabi. Parahnya, hampir semua tingkat pendidikan, baik sekolah dasar, SMP, SMA, maupun perguruan tinggi, semuanya didanai untuk menyebarkan ajaran Wahabi.

Ketiga, mendirikan lembaga sosial-keagamaan yang nantinya diasosiasikan untuk mendukung gerakan-gerakan yang digelar oleh Wahabi. Lembaga sosial-keagamaan yang dimaksud biasanya turut hadir dalam acara-acara pemberian bantuan bencana alam, santunan, dan acara amal lain, yang ditujukan untuk menyebarkan ajaran Wahabi itu sendiri.

Keempat, mendatangkan ulama atau pelajar yang memiliki tingkat keilmuan tinggi ke Indonesia untuk secara langsung menyebarkan ajaran Wahabi. Biasanya gerakan ulama Wahabi terlihat saat muncul kasus viral, yang kemudian mereka hadir menjadi jawaban atas kegelisahan yang dialami oleh masyarakat. Kemunculan mereka dimaksudkan sebagai sosok hero yang berperan penting di tengah-tengah masyarakat.

Semua gerakan tersebut telah dimulai pasca gerakan reformasi pada tahun 1998 yang mendeklarasikan keran-keran kebebasan. Wahabi berlindung dalam gerakan kebebasan yang terbentuk, sehingga gerakan mereka tidak terbaca. Pada akhirnya gerakan mereka semakin membesar dan mempengaruhi corak terorisme di Indonesia.

Mereka turut menyumbangkan nalar kekerasan pada bangsa Indonesia dengan menganggap ajaran Wahabi sebagai yang paling benar, dan menyalahkan semua gerakan selainnya. Mengatakan bahwa tasawuf bertentangan dengan ajaran Islam. Dan pada sisi politik, mereka menerapkan satu kepemimpinan dengan dasar Wahabisme.

5 Vaksin BNPT Cegah Gerakan Intoleran dan Radikal

Dalam workshop reformasi birokrasi yang mengusung tema “Perkuat Kapasitas Reformasi Birokrasi untuk Wujudkan Insan BNPT Berintegritas, Nasionalisme, Profesional dan Terpuji dalam Mengemban Tugas Penanggulangan Terorisme yang Efektif”, Kepala BNPT Komisaris Jenderal (Komjen) Boy Rafli Amar menyampaikan 5 vaksin terorisme yang dapat digunakan untuk menghadapi gerakan Wahabi.

Kelima vaksin tersebut adalah (1) Transformasi wawasan kebangsaan, yang menandakan urgensi pengadaan pendidikan wawasan kebangsaan di semua lembaga pendidikan. (2) Revitalisasi nilai-nilai Pancasila, yang mulai luntur dari masyarakat (3) Moderasi beragama (4) Melestarikan budaya bangsa Indonesia (5) Membangun kesejahteraan secara keseluruhan. 5 vaksin tersebut dipercaya mampu membendung gerakan Wahabi yang makin terasa.

Vaksin tersebut sejalan dengan hasil Rakernas Lembaga Dakwah PBNU yang mengusulkan pengadaan regulasi khusus untuk melarang ajaran Wahabi di Indonesia. Jelas dengan ajaran kekerasan yang diusung oleh Wahabi akan sangat berbahaya bagi bangsa Indonesia. Oleh karena itu, tindakan yang diambil harus masif dan keras terhadap perkembangan gerakan Wahabi.

Facebook Comments