All Eyes on Rafah; Antara AI, Selebritas, dan Solidaritas

All Eyes on Rafah; Antara AI, Selebritas, dan Solidaritas

- in Narasi
79
0
All Eyes on Rafah; Antara AI, Selebritas, dan Solidaritas

Dalam beberapa hari terakhir, media sosial terutama Instagram diramaikan oleh unggahan bertajuk All Eyes on Rafah. Unggahan berupa foto atau gambar hasil olahan Aritificial Intellegent (AI) yang menampilkan deretan tenda pengungsi Palestina. Unggahan bertajuk All Eyes on Rafah adalah sebuah kampanye virtual untuk merespons serangan tentara Israel ke kamp pengungsian warga Gaza di Rafah.

Banyak lansia, perempuan, bahkan anak-anak menjadi korban serangan brutal tersebut. Dunia seolah tidak mau tinggal diam atas aksi keji tersebut. Terbukti, kampanye All Eyes on Rafah sampai hari ini telah diunggah sebanyak 50 juta kali oleh netizen seluruh dunia.

Tidak hanya masyarakat awam, selebritas dunia seperti Bella Hadid, Gigi Hadid, Dua Lipa, Pedro Pascal, Ariana Grande, Mark Ruffalo, David Beckham, Priyanka Chopra, Kareena Kapoor, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Ungkapan All Eyes on Rafah sendiri konon pertama kali diucapkan oleh Rick Peeperkorn yang notabene merupakan direktur WHO yang bertugss di Tepi Barat, Palestina. Ungkapan itu lantas diolah melalui kecerdaaan buatan dan menghasilkan gambar atau foto yang belakangan viralndi berbagai platform media sosial.

Mengapa Allah Eyes on Rafah Viral di Medsos?

Ada beberapa faktor mengapa unggahan bertajuk All Eyes on Rafah itu begitu viral di medss. Pertama, dari sisi estetika, gambar atau foto yang diolah menggunakan AI itu terbilang sederhana secara komposisi dan warna. Namun, kesederhanaan itu justru menguatkan pesan yang ingin disampaikan. Yakni bahwa ada tragedi kemanusiaan yang terjadi di Rafah dan dunia sedang memperhatikannya.

Dari sisi psikologis, masifnya sejumlah selebritas dalam membagikan konten itu juga secara tidak langsung telah menginspirasi netizen untuk ikut serta dalam kampanye virtual tersebut. Secara psikologis, masyarakat memang lebih mudah meniru perilaku para idolanya atau dalam hal ini adalah para selebritis.

Sedangkan secara sosio-psikologis, konten All Eyes on Rafah ini menjadi sangat populer di media sosial lantaran publik global sudah sangat marah dengan apa yang terjadi pada warga Palestina.

Kemarahan ini dimulai ketika militer Israel melakukan operasi besar-besaran di Gaza pasca serangan Hamas pada Israel Oktober tahun lalu. Serangan balasan itu menewaskan belasan ribu warga Gaza hanya dalam beberapa pekan.

Kemarahan masuatiy dunia ini mencapai puncaknya ketika militer Israel menyerang kamp pengungsian di Rafah. Jatuhnya korban anak-anak membuat publik global geram dan mengekspresikannya dengan beramai-ramai mengunggah konten All Eyes on Rafah.

Benarkah Khilafah adalah Solusi Tunggal untuk Palestina?

Kolaborasi antara AI dan selebritas ini lantas melahirkan gelombang solidaritas tanpa batas untuk Palestina. Dikatakan tanoa batas karena solidaritas yang dibangun tidak mengenal sekat agama, bangsa, ideologi, politik, dan identitas lainnya. Kampanye All Eyes on Rafah menjangkau seluruh kelompok masyarakat dengan berbagai latar belakang dan identitas yang berbeda.

Dengan kata lain, kampanye All Eyes on Rafah berhasil melahirkan solidaritas inklusif yang melampaui sekat keagamaan dan golongan. Model soliditas seperti inilah yang dibutuhkan oleh perjuangan Palestina.

Apa yang terjadi di Palestina memang bukan sekadar problem keagamaan, namun patut digolongan sebagai tragedi kemanusiaan. Fenomena All Eyes on Rafah membuktikan bahwa konflik Palestina-Israel bukanlah konflik antaragama. Kesadaran ini penting agar isu Palestina tidak dipelintir ke dalam narasi kesagaman seperti menguat belakangan ini.

Seperti kita lihat, di Indonesia aksi-aksi soliditas Palestina kerap disusupi narasi khilafah, jihad, dan sebagainya. Seolah problem Palestina akan selesai manakala umat Islam mau berjihad secara fisik menegakkan khilafah Islamiyyah.

Klaim bahwa khilafah adalah solusi atas problem Palestina adalah reduksi dan simplifikasi atas persoalan yang sangat kompleks. Jika khilafah yang dimaksud oleh para eksponen Hizbut Tahrir, dsn sebagainya adalah dinasti politik seperti zaman Abab Pertengahan, maka tawaran itu sungguh absurd. Tersebab, di zaman kekhalifahan itu pun dunia Islam tidak lantas baik-baik saja. Ada banyak konflik kepentingan, intrik politik, bahkan pemberontakan dan peperangan terjadi semasa era kekhalifahan.

Kita sebagai bangsa Indonesia tentu harus tunduk pada aturan remi pemerintah. Dalam isu Palestina, sikap pemerintah Indonesia sudah jelas, yakni mendukung terwujudnya two state solution, alias solusi dua negara. Agenda inilah yang diperjuangkan Indonesia melalui forum dunia, terutama sidang PBB.

Di dalam Islam, ada aturan bahwa seorang muslim wajib patuh pada aturan pemerintahan yang resmi (Ulil Amri) sepanjang aturan itu tidak melanggar syariah. Maka, dalam hal ini mendukung solisindua negara atas konflik Palestina adalah bagian dari sikap patuh pada Ulil Amri. Mendukung solusi dua negara, juga jauh lebih rasional ketimbang menegakkan khilafah secara global.

Facebook Comments