Asal Usul Fundamentalisme-Terorisme-Radikalisme

Asal Usul Fundamentalisme-Terorisme-Radikalisme

- in Budaya, Peradaban
9413
1

Dalam menyempaikan pesan, Allah menggunakan Basyiran (kabar gembira) dan Nadziran (ancaman). Menariknya, jika diperhatikan secara seksama penggunaan kata ‘basyiran wa nadziran’ maka akan ditemukan fakta bahwa Allah selalu mendahulukan kabar gembira dari pada ancaman.

Ketika menyampaikan kabar gembira Alquran menggunakan kata ‘basysyara-yubassyiru’ yang dalam gramatikal Arab mengandung arti ‘berulang-ulang memberi kabar gembira’. Namun, ketika menyampaikan ancaman, Alquran menggunakan kata ‘andzara-yundziru’ yang mengandung arti ‘memberi peringatan’ saja tanpa penekanan ‘diulang-ulang’. Artinya, dalam menyampaikan pesan, Allah selalu membangun situasi informasi yang positif yang didominasi kabar gembira.

Bukan hanya itu, dalam menyampiakan pesan, Allah sering menggunakan kata tanya seperti ‘Hal ataaka hadiitsu…..’ (Apakah kamu telah mendengar kabar….) atau ‘Afalaa ta’qiluun’….. (Apakah kamu berfikir…..), dan sebagainya. Pola ini menunjukkan Allah selalu merangsang neo-cortex manusia untuk aktif berpikir. Ancaman dan peringatan memang ada dalam Alquran meski tidak dominan. Untuk mengubah perilaku manusia, pendekatan yang paling banyak diterapkan Alquran adalah modeling, memberikan contoh untuk ditiru. Yaitu dengan cara mengangkat sosok-sosok teladan. Lebih dari sepertiga Quran isinya adalah kisah.

Di dunia periklanan, pendekatan menakut-nakuti kini makin ditinggalkan. Konsumen yang makin kritis, membuat iklan-iklan gaya lama tak efektif. Selain itu, sejumlah akademisi mengkritisi iklan dari segi etika. Dalam studi berjudul “The Ethicality of Using Fear for Social Advertising”, Damien Arthur & Pascale Quester mengungkap bahwa iklan-iklan yang menakut-nakuti setidaknya memiliki tiga masalah besar. Pertama, menyebarkan depresi pada audiensnya. Kedua, seringkali pesan inti dari iklan malah tidak tertangkap oleh audines. Ketiga, iklan jenis ini menunjukkan rendahnya kepekaan sosial. Maka tak heran jika dalam lima tahun terakhir kita lebih sering menemukan iklan yang lebih inspiratif dan positif.

Apakah perubahan paradigma dalam dunia periklanan itu juga terjadi di dunia pendidikan dan pemberitaan?
Marilah kita periksa dengan seksama, bagaimana postingan facebook kita, broadcast BBM dan WA, serta berita di situs-situs yang mengaku berlabel Islam. Mungkin kita masih ingat foto pembantaian Muslim Rohingya. Ketika melihat foto itu, neo-cortex kita lumpuh. Otak reptilia kita aktif, timbul rasa sedih, marah, dan bahkan terprovokasi. Sebagai solidaritas, kita lalu men-share foro tersebut. Foto itu tersebar cepat. Hingga seorang jurnalis menemukan bahwa foto itu adalah rekayasa. Ketika seorang bloger muslim ditanya mengapa ia menyebarkan foto palsu itu, dia menjawab bahwa ia ingin membangkitkan solidaritas umat Islam. Apakah solidarias umat digalang dengan menebarkan ketakutan melalui foto palsu? Tidakkah ada cara lain yang lebih cerdas dan elegan, yang menunjukkan bahwa umat Islam adalah umat yang berfikir?

Simaklah baik-baik ceramah-ceramah di mimbar jumat atau pelajaran agama di kelas-kelas. Apakah lebih dominan kabar gembira (basyiran) atau ancaman neraka (nadziran)? Bacalah buku-buku pelajaran sejarah, apakah mengajarkan kabar baik dan keteladanan dari masa lalu atau malah horor, trauma dan ketakutan yang melestarikan dendam permusuhan sektarian? Semua belum terlambat untuk diperbaiki!

Facebook Comments