Baiti Jannati Sebagai Penangkal Radikalisme Anak

Baiti Jannati Sebagai Penangkal Radikalisme Anak

- in Keagamaan
2516
0
photo by: www.momnewsdaily.com

Anak-anak Belajar dari Kehidupannya

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

(Puisi Children Learn What They Live karya Dorothy Law Nolte)

 

Popularitas puisi pendidikan anak gubahan Dorothy Law Nolte (1924-2005) di atas tak terbantahkan. Pendidik dan ahli konseling keluarga kelas dunia ini meluncurkannya pada 1954. Bagi wanita Amerika ini, kepribadian anak sangat tergantung pola pendidikan/pergaulan/keteladanan yang didapatnya. Mengukir wajah kepribadian anak, terutama di masa golden age (0-8), karenanya sangat penting dilakukan. Kearifan lokal bangsa ini menyebutkan: “Mendidik di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu”.

Benar belaka apa yang disampaikan Dorothy. Kepribadian anak, sangat tergantung “di mana”, “bagaimana” dan “siapa” yang mengelilinginya. Anak seringkali menjadi cermin pantul bagi orang tuanya. al-Waladu sirru abihi, demikian kata mutiara yang populer di pesantren. Anak itu rahasia orang tuanya. Perilaku anak, adalah pantulan perilaku orang tuanya. Kebaikannya, pantulan kebaikan orang tuanya. Keburukannya, pun pantulan keburukan orang tuanya. Kendati tidak mesti demikian, nyatanya secara umum inilah yang terjadi.

 

Radikalisme Anak dan Penyebabnya

Bagaimana dengan “wajah” anak yang radikal? Tentu saja orang tua turut berperan melukisnya, baik secara langsung maupun tidak karena kontrol yang tidak maksimal. Dalam kontek sekarang, pemahaman radikal anak banyak variannya: tindakan terorisme, tawuran,  pelecehan seksual, bullying, pembunuhan atas nama agama, pelanggaran lain terkait norma agama dan sosial/adat istiadat. Faktor pemicunya beragam dan keluarga tidak bisa dilepaskan begitu saja. Karena itu, membentuk “wajah surga” keluarga sangat penting untuk menghindari potensi-potensi munculnya “wajah neraka” anak.

Ada beberapa survey yang sungguh memprihatinkan terkait perilaku radikal pelajar. Diantaranya hasil survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) pimpinan Bambang Pranowo (Guru Besar Sosiologi Islam UIN Jakarta/kini Rektor Universitas Mathla’ul Anwar, Banten ), pada Oktober 2010 s.d. Januari 2011. Survey pada siswa dan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Jabodetabek ini menyimpulkan 50 % siswa setuju tindakan radikal; 25 % siswa dan 21 % guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi; 84,8 % siswa dan 76,2 % guru setuju penerapan Syariat Islam di Indonesia; 52,3 % siswa setuju kekerasan untuk solidaritas agama dan 14,2 % membenarkan serangan bom.

Dalam konteks akademik, penelitian ini sudah termakan usia memang, 5 tahun silam. Namun indikasi gerakan radikal di kalangan anak-anak remaja tampaknya terus menguat. Penelitian baru semestinya dilakukan untuk mengukurnya. Survei The Pew Research Center pada 2015 menunjukkan, di negeri Qith’ah min al-Jannah (Serpihan Surga) Indonesia ini, 4 % atau sekitar 10 juta warga Indonesia mendukung ISIS. Sebagian besar pendukung ini justru anak-anak muda. Fakta ini semestinya menjadi lampu merah (atau minimalnya lampu kuning) bagi para orang tua, untuk lebih memedulikan masa depan anak-anaknya yang masih gamang menemukan jati dirinya. Jangan sampai mereka menemukan jati diri dari orang-orang atau media-media yang tidak tepat.

Apa akar radikalisme itu? Banyak teori yang mencoba menjawabnya, tergantung jenis radikalnya. Terkait radikalisme agama misalnya, Khaled Abou al-Fadl (2005) menuturkan akarnya adalah puritanisme, yakni cara pandang keagamaan yang tertutup, absolutis serta tidak menghargai pemikiran atau tafsir keagamaan yang berbeda. Kontekstualitas acap diabaikan dan anti lokalitas lebih dikedepankan. Arief Rahman, saat menjadi pembicara diskusi “Menangkal Radikalisme di Kalangan Generasi Muda dengan Pemantapan 4 Pilar Bangsa” di gedung MPR/DPR Jakarta, Senin (1/10/2012), menyebut radikalisme di kalangan anak muda (siswa) terjadi akibat hilangnya keteladanan di sekolah, rumah, dan masyarakat sekitar. Mereka telah tercerabut dari akar-akar nilai agama, etika, moral dan kemanusiaan.

 

Tiga Model Pola Asuh

Anak ibarat “kertas kosong berwarna putih”. Tiada dosa. Tiada cela. Yang melukis, menggambar dan mewarnai pertama kali adalah orang tuanya; ayah dan bunda. Tak pelak, peran orang tua memberi warna kertas kosong itu begitu penting dan menentukan. Itu sebabnya, Rasulullah Saw mengingatkan, setiap bayi terlahir fitrah (suci/bersih/tak bercela). Orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi (HR al-Bukhari, Muslim, dll).

Karena masa depan anak, baik duniawi maupun ukhrawi sangat tergantung pada situasi rumahnya, maka tugas utama orang tua adalah menyelamatkan masa depan mereka (Qs. al-Tahrim: 6). Tugas berat memang, yang karenanya tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan sengaja meninggalkan anaknya dalam kondisi keselamatan dunia-akhiratnya terancam, maka orang tua bertanggungjawab atas efek perilakunya di masyarakat. Semestinya orang tua begitu khawatir membiarkan anak-anaknya dalam keadaan lemah ekonomi (Qs. an-Nisa: 9), agama dan sebagainya.

Selain ditegaskan al-Qur’an dan Hadis, pentingnya peran keluarga membentuk karakter anak juga disampaikan banyak pemikir muslim. Ahmad bin Muhammad bin Ya’qub bin Miskawaih (320 H/ 932 M-412 H/1030 M) misalnya, baginya peran lingkungan (keluarga/masyarakat) sangat menentukan model karakter anak. Hidup di lingkungan baik, anak akan baik. Tumbuh di lingkungan bermasalah, anak akan bermasalah. Karena itu, pola asuh orang tua terhadap anaknya penting diperhatikan. Dalam bahasa Sosiologi, hubungan orang tua-anak ini disebut “hubungan dalam” (kebalikan “hubungan dangkal” yang terjadi dengan pihak non-keluarga). Interaksi ini berlangsung terus-menerus tanpa batas, yang karenanya sangat membekas.

Facebook Comments